Arsene Wenger: Harga Kylian Mbappe Di Luar Jangkauan Arsenal

Membelanjakan uang €180 juta untuk seorang pemain tidak pernah menjadi opsi bagi Arsenal.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


Manajer Arsenal Arsene Wenger membenarkan bahwa timnya berkeinginan untuk memboyong Kylian Mbappe di musim panas ini, namun mereka tidak punya bujet memadai untuk mewujudkan kedatangan penyerang belia Prancis itu.

Mbappe, yang baru berusia 18 tahun, mencuri perhatian di musim lalu dengan sukses mengemas 26 gol di semua kompetisi untuk membantu AS Monaco merengkuh titel Ligue 1 Prancis dan menembus semi-final Liga Champions. Performanya itu membuatnya sejumlah klub top Eropa tertarik menggaetnya, termasuk Arsenal, Real Madrid, Manchester City, dan Paris Saint-Germain.

SIMAK JUGA: Mbappe Ingin Ukir Sejarah Di PSG

Klub yang disebut terakhir pada akhirnya yang berhasil merekrut Mbappe, lewat skema transfer peminjaman selama semusim dan kewajiban mempermanenkannya senilai €180 juta. Nilai transfer sensasional itulah yang membuat Wenger dan Arsenal mundur teratur dari perburuan Mbappe.

“Saya juga menginginkannya. Tetapi €180 juta terlalu banyak untuk kami,” kata Wenger dalam wawancara dengan Telefoot di mana ia juga mengaku berupaya mendatangkan pemain Monaco lain, Thomas Lemar, senilai €100 juta namun urung terwujud.

Lebih lanjut, Wenger juga memprediksi Mbappe bakal menjadi megabintang di masa mendatang. Wenger bahkan seperti tidak puas dengan sebutan titisan Thierry Henry untuk Mbappe. Ia lebih suka menyebut sang youngster sebagai “The Next Pele”.

SIMAK JUGA: PSG Optimistis Lolos Dari Sanksi FFP

“Dia bisa menjadi Pele berikutnya. Dia tidak punya batas. Dia masih 18 tahun dan akan semakin kuat. Dia adalah striker yang komplet, bisa mencetak gol dan membuat kans untuk rekan setimnya. Itu adalah kualitas dari pemain hebat,” imbuh Wenger.

Selain mendatangkan Mbappe, PSG sebelumnya telah menggaet Neymar dengan rekor transfer dunia €222 juta sehingga memicu investigasi dari UEFA terhadap klub ibu kota Prancis itu terkait potensi pelanggaran Financial Fair Play (FFP).