Tamparan Keras Untuk Juventus

Juventus mendapat tamparan keras dari Lazio, dalam ambisinya pertahankan kedigdayaan di Negeri Pizza dan menembus puncak Eropa.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR       Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Lazio secara dramatis menundukkan Juventus lewat skor ketat 3-2 untuk jadi kampiun Piala Super Italia 2017, Senin (14/8) dini hari WIB. Hasil yang sangat mengejutkan di atas kertas, tapi tidak jika melihat bagaimana pertandingan berlangsung.

Juve yang merupakan peraih Scudetto enam musim terakhir dan Coppa Italia tiga musim terakhir, jelas unggul segalanya atas Lazio. Mereka punya manajemen klub yang luar biasa, pelatih brilian, dan tentunya sederet pemain bintang.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Lazio, hanya keajaiban yang bisa membuat Juve menyerahkan gelar Piala Super Italia kali ini. Bagusnya, keajaiban itu hanya akan muncul jika I Bianconeri tak sanggup membawa dirinya sendiri.

Namun, itulah yang Juve lakukan di Olimpico Roma malam tadi. Minim kreativitas, organisasi permainan buruk, dan mentalitas yang disebut Paulo Dybala selayaknya tim kecil.

SIMAK JUGA: Tekuk Juve, Lazio Juara Piala Super Italia

Mari kita memahami Lazio secara lebih dalam. Mereka adalah tiim bagus dengan pelatih muda cerdas, yang kemudian dibuktikan dengan tempati lima besar Serie A Italia dan jadi runner-up Coppa Italia musim lalu.

Lazio tentu saja bukan lawan yang layak diremehkan, tapi cobalah untuk tidak memandang mereka secara berlebihan dalam langkah majunya menjuarai Piala Super Italia 2017.

Masih mengandalkan formasi 3-5-2, memaksimalkan lebar lapangan melalui sayapnya, dan man to man marking dalam bertahan, Ciro Immobile cs bukanlah tim yang jauh berbeda dari musim lalu.

Ya, tim yang dikalahkan Juve secara meyakinkan sampai tiga kali beruntun musim lalu. Lantas bagaimana Lazio sanggup memutar balik situasi? Mereka hanya sigap mengeksploitasi bejibun kesalahan yang dilakukan Tim Hitam Putih.

SIMAK JUGA: Semua Berita Juventus

Kesalahan terbesar Juve adalah melanjutkan kebiasaan buruk yang sempat dibahas Arrigo Sacchi, dengan mendominasi dan melancarkan inisiatif serangan hanya di 15 menit pertama laga. Setelahnya mereka seakan seperti terlelap.

Begitu gampang Juve kehilangan bola, yang memudahkan Lazio membangun serangan. Akan menjadi kelaziman, jika tekanan hebat memang dilakukan pasukan Tim Elang Muda. Namun faktanya Tim Zebra lebih banyak kehilangan bola akibat kesalahan mendasar dalam melakukan operan, yang dipengaruhi oleh mobilitas rendah para pemainnya.

Juve kehilangan bola sampai 43 kali, jumlah yang sangat tinggi dibanding Lazio yang cuma 28 kali. Situasi itu baru membaik di waktu yang salah, ketika Gianluigi Buffon cs sudah tertinggal 2-0.

Tak heran jika Lazio mencuri gol pertamanya dari situasi tersebut. Kecerobohan Medhi Benatia memberi operan berisiko, yang dipadu dengan aksi tak efektif Juan Cuadrado, mengawali insiden penalti yang sukses dieksekusi Immobile. Situasi buruk itu berlanjut sampai lahir gol kedua.

SIMAK JUGA: Dybala & Sejarah Nomor 10 Juve

Komposisi pemain di starting XI juga menimbulkan tanda tanya, terutama di lini belakang. Dipasangnya Benatia yang tak kunjung klop dengan Giorgio Chiellini plus Andrea Barzagli yang kembali dipaksakan jadi bek kanan, bukan pilihan cerdas.

Perpaduan Benatia-Chiellini jadi ujian mudah untuk Immobile. Barzagli yang memang tak bisa diajak bermain ofensif, membuat variasi serangan Juve semakin miskin. Sementara itu Mattia De Sciglio yang masuk di babak kedua sebagai bek kanan, punya kualitas yang memprihatinkan.

Alex Sandro, Miralem Pjanic, Sami Khedira, Mario Mandzukic, dan Juan Cuadrado pun tak bermain sesuai levelnya. Terutama Khedira, yang menunjukkan betapa Juve butuh gelandang baru bertipe box to box untuk melindungi Pjanic.

Bagaimana dengan Gonzalo Higuain yang cuma lepaskan satu tembakan di partai ini? Dia pantas mengeluh karena memang tak mendapat asupan bola yang cukup di lini depan. Situasi sempat membaik untuknya ketika Douglas Costa masuk, tapi semua sudah terlambat.

SIMAK JUGA: Allegri Nyaris Resign Dari Juve

Daya juang dan bagaimana Paulo Dybala sempat hadirkan harapan lewat dua eksekusi bola matinya, jadi sedikit pemandangan positif yang ditampakkan Juve. Apalagi partai itu merupakan debut La Joya mengenakan nomor keramat 10.

Namun melihat bagaimana Juve memastikan kekalahannya di menit pamungkas laga — beberapa detik usai samakan kedudukan — menegaskan bahwa pelatih mereka, Massimiliano Allegri, punya pekerjaan rumah yang berat jelang bergulirnya Serie A Italia 2017/18 pekan depan.

“Kami ingin mengubah sikap secara langsung! Ini bukan Juve yang sebenarnya dan kita semua tahu itu. Apa yang kita lihat malam ini adalah Juve dengan mental tim kecil. Itu tak boleh lagi terjadi. Kami harus lebih matang dengan berlatih keras sepekan ke depan, untuk bersiap hadapi laga pembuka [Serie A] kontra Cagliari,” seru Dybala, seperti dikutip JTV.

Kekalahan ini memang tak sehebat jika Juve gagal di Coppa Italia, Serie A, atau Liga Champions. Tapi hasil ini selayaknya jadi tamparan keras untuk La Fidanzata d’Italia bangkit, jika ingin pertahankan kedigdayaan di Negeri Pizza dan menembus puncak Eropa.