Arsene Wenger, Arsenal, Dan Hubungan Yang Mulai Retak

Wenger merupakan salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Arsenal, tapi tak bisa dimungkiri bahwa The Gunners berjalan mundur dalam tiga tahun


OLEH    YUDHA DANUJATMIKA     Ikuti di twitter


Dalam 20 tahun terakhir perjalanan Arsenal, menurut Anda, momen apa yang paling layak disebut sebagai titik terbawah era Arsene Wenger?

Kekalahan 8-2 dari Manchester United mungkin langsung terbesit dalam pikiran Anda. Wajar, mengingat Arsenal yang kala itu disebut sebagai salah satu kekuatan terbesar di Inggris dipermalukan di hadapan publik Old Trafford. Kemudian, ada pula kekalahan telak 6-0 dari Chelsea tiga tahun silam – tepat ketika perayaan 1000 laga Wenger di Arsenal.

SIMAK JUGA – Liverpool Lumat Arsenal

Jika melihat situasi yang ada di latar belakang dua kekalahan tersebut, sebenarnya Gunners masih punya segudang senjata untuk berdalih. Di Old Trafford 2011, Wenger sedang dilanda badai cedera sehingga terpaksa menurunkan beberapa pemain kelas dua – Carl Jenkinson dan Johan Djourou adalah contohnya. Sementara ketika dipermalukan The Blues, skuat Wenger cenderung lebih dewasa, tapi kartu merah dini Kieran Gibbs – yang murni kesalahan wasit – membuat Gunners terpukul.

Berbeda halnya dengan kekalahan 4-0 dari Liverpool di Anfield, Minggu (27/8) lalu. Arsenal tak mungkin menemukan alasan masuk akal ataupun pembelaan atas kekalahan tersebut. Skuat Arsene Wenger bisa dibilang bertabur bintang musim ini. Alexis Sanchez, Petr Cech, Laurent Koscielny, Mesut Ozil adalah deretan pemain kelas dunia yang membela klub London itu. Total harga starting XI Arsenal bisa melampaui £150 juta, ditambah dengan bangku cadangan yang harganya sekitar £100 juta.

SIMAK JUGA – Sanchez Minta Gaji Besar untuk Bertahan

Tetap saja, mereka kalah secara memalukan dari The Reds – bahkan tak mampu mencatatkan satu pun tembakan ke gawang!

Sadio Mane Liverpool 2017

Roberto Firmino Liverpool Arsenal Premier League Aug 27

Permainan Setengah Hati

“Saya pernah melihat kekalahan di film dan di dunia nyata,” ujar Thierry Henry, legenda Arsenal, setelah kekalahan di Anfield. “Tetapi masalahnya adalah bagaimana cara Arsenal kalah. Siapapun bisa kalah di Anfield, itu selalu terjadi tetapi ini soal bagaimana Arsenal mengalaminya.”

“Membicarakan Arsenal adalah membicarakan bakat, bakat dan bakat. Ketika saya tiba di Arsenal, tim dalam kondisi siap bersaing dan bertarung. Setelahnya Arsene hanya membawa pemain berbakat.”

“Di mana daya juang tim? Di mana kemampuan tim bersaing? Di mana kemauan pemain membantu pertahanan? Di mana kemampuan memenangkan duel 50-50? Di zaman saya, hal-hal seperti itu yang selalu ditekankan sementara yang baru saja terjadi sungguh tidak bisa diterima.”

SIMAK JUGA – Henry Pertanyakan Daya Juang Arsenal

Keluh kesah Henry tadi malam mungkin mewakili isi hati para fans Arsenal. Kekalahan memang sudah jadi bagian dalam sepakbola, namun apa yang terjadi pada Arsenal di Anfield bukan sekadar empat gol tanpa balas. The Gunners tampak pasrah menghadapi para pembunuh Liverpool. Tak ada greget dalam permainan mereka, apalagi koordinasi dan konsentrasi.

Salah umpan, kontrol buruk, inkonsistensi posisi jadi pemandangan wajar dalam pertandingan tersebut. Setelah kebobolan dua gol, pertandingan bahkan terkesan seperti sesi latihan tembak untuk Sadio Mane dkk. The Gunners beruntung Cuma kebobolan empat kali. Seandainya Mohamed Salah lebih efisien di depan gawang, Cech mungkin harus memungut bola tujuh kali dari gawangnya sendiri.

Alexis Sanchez Arsenal v Liverpool

Mesut Ozil Arsenal Liverpool Aug 2017

Apa yang salah dengan Arsenal? Musim lalu, formasi tiga bek bisa membawa mereka meraih lima kemenangan beruntun. Tatanan pemain pun tidak berubah banyak, bahkan ketambahan Alexandre Lacazette dan Sead Kolasinac yang mumpuni di posisi masing-masing. Itu berarti, formasi dan susunan pemain bukanlah masalah utama. Lagipula, aspek tersebut sama sekali tak berkaitan langsung dengan daya juang pemain.

Melampaui perkara taktik dan pemilihan pemain, kecurigaan mulai mengarah pada ruang ganti Arsenal. Minimnya motivasi dan daya juang pemain biasanya bermula dari titik itu, area yang idealnya berada dalam kendali manajer Arsene Wenger.

SIMAK JUGA – Arsenal Kalah Mutlak, Cech Tak Terima

Sirnanya Karisma Wenger?

Hipotesis pertama yang muncul ketika menyaksikan permainan nirsemangat dari Arsenal adalah hilangnya pengaruh Wenger di ruang ganti. Ketika terkejar 2-0 di babak pertama, Wenger punya kesempatan untuk membangkitkan moral anak asuhnya dan memukul balik. Apa yang terjadi justru sebaliknya, Gunners kian loyo dan kebobolan dua gol tambahan. Sang profesor tampaknya mulai kehilangan respek dari para pemainnya, sampai-sampai pep talk tak memperbaiki keadaan.

Di mata publik, Wenger tentu masih menyimpan daya tariknya sendiri. Alexandre Lacazette dan Sead Kolasinac masih mau bergabung dengan The Gunners walau dapat tawaran lebih menggiurkan. Keduanya pun sepakat menyebut nama Wenger ketika ditanya tentang faktor utama kedatangan mereka. Musim-musim sebelumnya, daya tarik pria Prancis itu bahkan sukses mengundang pemain sekelas Shkodran Mustafi, Petr Cech, Ozil, dan Granit Xhaka.

Alexis Sánchez, Wenger. Liverpool Arsenal 27082017

Arsene Wenger

Yang menjadi masalah adalah perspektif internal para pemain. Di mata pemain Arsenal, mungkin Wenger sudah tidak hebat-hebat amat alias kehilangan tajinya. Alex Oxlade-Chamberlain dan Sanchez memperkuat dugaan tersebut dengan permintaan transfer mereka. Ox diduga mendapat tawaran dari Chelsea dan sang bintang sudah menolak tawaran kontrak baru. Sementara itu, Sanchez sudah jelas-jelas ingin hengkang dari London dan enggan memperpanjang kontraknya yang tinggal tersisa satu tahun.

Hilangnya kendali ruang ganti ini sebenarnya sudah mulai menampakkan dirinya dalam periode buruk akhir Januari hingga Maret 2017. Arsenal hanya meraih tiga poin dari lima pertandingan, kemudian kalah dengan agregat 10-2 dari Bayern Munich di Liga Champions. Pada kurun waktu tersebut, redupnya motivasi Arsenal mulai terlihat dan Wenger kesulitan mengobarkannya kembali.

SIMAK JUGA – Klopp Sanjung Stamina Liverpool

Memang, pada akhirnya Gunners mampu menyapu bersih kemenangan di lima laga terkini Liga Primer dan menggendong Piala FA. Adapun periode positif itu seumpama obat bius untuk kaki-kaki yang patah. Masalah utamanya belum diatasi dan jika tidak mendapat penanganan tepat, perkara akan semakin besar dan menjalar ke setiap aspek kehidupan.

Para fans boleh saja terhibur dengan Piala FA, tapi tak mungkin pemain sekelas Sanchez dan Ozil puas dengan trofi mungil tersebut. Walau keduanya sempat yakin pada Wenger, kepercayaan tersebut mulai luntur. Hubungan antara pemain dan pelatih tidak lagi ideal, apalagi Sanchez bersikeras ingin hengkang dan Wenger tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan kontraknya berakhir. Ketika tidak bisa lagi mengendalikan pemain bintangnya, karisma seorang manajer bakal terkikis dengan sendirinya – dan pengaruh buruk ini mulai menggerogoti Arsenal dari dalam.

#WengerOut

Melihat situasi saat ini, memecat Wenger adalah solusi paling ideal. Meski begitu, Le Professor mendapat dukungan penuh dari pemilik klub, Stan Kroenke. Entah pertimbangan apa yang dimilikinya (mungkin pertimbangan finansial), yang pasti posisi Wenger tak tergoyahkan. Tak peduli sebanyak apa publik London yang berusaha menjatuhkannya, kursi kepemimpinan Wenger takkan tergeser. Transfer pemain bintang jadi solusi lain, walau tidak mudah untuk mendatangkan pemain top yang sesuai dengan kebutuhan Arsenal.

Terlepas dari dua solusi tersebut, para fans Arsenal boleh berdoa agar keajaiban terjadi di langit Emirates. Keajaiban itu bisa saja datang dalam bentuk tenggat bursa transfer. Siapa tahu, Mesut Ozil, Alexis Sanchez, dan Shkodran Mustafi berubah pikiran sehingga hubungannya dengan Wenger kembali membaik. Atau mungkin ada keajaiban lain yang membuat Wenger tercerahkan jiwanya, lalu ikhlas menanggalkan status sebagai pelatih Arsenal dan mengakhiri dinastinya.

Siapa tahu?

Bagaimana dengan pendapat Anda? Apakah sudah tiba waktunya bagi Arsenal untuk menggeser Arsene Wenger? Ataukah Sang Profesor layak diberi satu kesempatan lagi? Sampaikan isi pikiran Anda dalam polling di bawah ini!