Segala Hal Yang Perlu Anda Tahu Tentang Espanyol

Goal Indonesia mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat dengan klub, yang bakal menggelar laga uji coba di Indonesia pada 14 dan 19 Juli tersebut.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR       Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Espanyol mendadak jadi perhatian khusus khalayak sepakbola Indonesia, tatkala Evan Dimas menjalani trial di klub tersebut selama empat bulan. Meski mendapat pengalaman yang berharga, sayangnya salah satu bakat sepakbola terbaik di Tanah Air itu gagal mendapat kontrak profesional.

Namun Espanyol seperti tak mau perhatian masyarakat Indonesia lepas begitu saja. Pada Awal awal 2017, mereka pun mengumumkan bahwa Indonesia masuk dalam agenda tru pramusim untuk menyambut kampanye 2017/18.

Tak main-main, Espanyol membawa dua tim sekaligus, yakni tim utama dan tim B. Tim B bakal melakoni laga terlebih dahulu menghadapi Timnas Indonesia U-19 di Stadion GBLA Bandung, pada Jumat (14/7). Sementara tim utama yang diisi pemain sekelas Diego Lopez dan Esteban Granero akan meladeni Persija Jakarta, di Stadion Patriot Bekasi, pada Rabu (19/7).

Menyambut dua partai menarik tersebut, Goal Indonesia mengajak Anda untuk berkenalan lebih dekat dengan Espanyol. Karena maklum, di Spanyol nama mereka tak sementereng Real Madrid, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, apalagi tim sekotanya, Barcelona. Simak pembahasannya berikut ini!

SIMAK JUGA: Kontra Espanyol, Evan Tak Disertakan


SEJARAH


Espanyol didirikan pada 28 Oktober 1900 oleh seorang mahasiswa teknik Universitas Barcelona, Angel Rodriguez. Pertama kali didirikan, klub yang berdomisili di distrik Sarria, Barcelona, tersebut memiliki nama resmi Sociedad Española de Football yang setahun berselang berganti menjadi Club Espanol de Futbol.

Kostum Espanyol awalnya berwarna kuning terang. Namun warna kebesaran klub kemudian berubah menjadi biru dengan strip putih pada 1910, sekaligus berganti nama lagi jadi Club Deportivo Espanol. Warna itu terinspirasi dari warna dalam perisai Laksamana Aragon-Spanyol, seorang pelaut terkemuka Negeri Matador.

Pada 1912 Espanyol kemudian menjadi salah satu dari sedikit klub Spanyol yang mendapat perlindungan dari Raja Alfonso XIII. Mereka pun berhak menyematkan nama Real dan menggunakan mahkota dalam lambang klubnya. Nama resmi klub pun kembali berganti menjadi Real Club Deportivo Espanyol.

Berasal dari wilayah Catalunya, Espanyol bersaing langsung dengan tim sekota yang setahun lebih dahulu berdiri, yakni Barcelona. Pertemuan mereka kemudian dijuluki sebagai Derbi Barceloni. 

Walau dalam perkembangannya Espanyol kalah jauh dari Barca baik secara prestasi maupun basis pendukung, klub berjuluk Los Periquitos tersebut merupakan salah satu pendiri kompetisi La Liga Spanyol pada 1928. Mereka juga jadi klub pertama dalam sejarah Spanyol yang dibentuk secara eksklusif oleh para penggemar sepakbola daerahnya.

SIMAK JUGA: Harga Tiket Persija Kontra Espanyol Dijual Mahal


STADION


Sepanjang sejarah Espanyol telah menggunakan tiga stadion berbeda sebagai kandangnya. Estadi de Sarria menjadi kandang pertama sekaligus terlama yang digunakan Espanyol.

Espanyol bermukim di stadion berkapasitas 40 ribu tempat duduk tersebut sejak 1923 hingga 1997. Stadion yang juga digunakan untuk gelaran Piala Dunia 1982 itu juga jadi saksi bisu sederet gelar perdana dalam sejarah Espanyol.

Pada 1997, Espanyol memutuskan untuk hijrah ke Estadi Olimpic de Montjuic. Lantaran jarak antara penonton dan lapangan yang terlalu jauh akibat adanya trek lari, kepindahan ini mendapat banyak kecaman dari suporter garis keras mereka.

Memahami keresahan para pendukungnya, Espanyol pun hanya bertahan selama 12 tahun di sana. Manajemen klub yang mendapat sokongan dana besar dari investor baru kemudian mendirikan stadion anyar yang punya fasilitas lengkap dan modern, yakni Estadio Cornellà-El Prat.

Resmi digunakan pada 2009, stadion berkapasitas 40,5 ribu penonton tersebut sempat berganti nama menjadi Power 8 Stadium setelah hak namanya dibeli sponsor, pada 2014 hingga 2016. Lepas dari kontrak sponsor, manajemen Espanyol memutuskan untuk menggunakan “RCDE Stadium” sebagai nama baru Estadio Cornellà-El Prat.

SIMAK JUGA: Alasan Persija Ditunjuk Lawan Espanyol


AKADEMI


Meski tak sementereng La Masia milik Barcelona atau Castilla kepunyaan Real Madrid, akademi sepakbola Espanyol termasuk diperhitungkan baik di Spanyol maupun Eropa.

Memiliki pendidikan berjenjang sejak U8 hingga U19, Espanyol menyempurnakannya dengan mendirikan tim satelit, Espanyol B, pada 1994 silam. Langkah itu membuat para pemain akademinya bisa merasakan langsung berkompetisi di level senior.

Hasil impresif mulai dirasakan sejak Espanyol makin serius mengurusi akademinya dua dekade silam. Nama-nama flamboyan dihasilkan, sebut saja Raul Tamudo, David Lopez, Aleix Vidal, Cristian Tello, Oriol Romeu, Marc Bartra, Sergi Darder, hingga Eric Bailly.

Seperti dibahas sebelumnya, eks kapten Timnas U-19, Evan Dimas, juga pernah merasakan tempaan akademi Espanyol. Belajar selama 100 hari pada periode Januari hingga Mei 2016, banyak pelajaran yang didapat pemain Bhayangkara FC tersebut.

“Saya mendapat pengalaman hebat selama membela Espanyol. Fasilitas latihan di sana sangat lengkap, terutama untk nge-gyim. Tepat latihan dan lapangan pertandingan juga berdekatan, sehingga memudahkan. Saya tidak menyesal bisa menimba pengalaman di luar negeri,” ujar Evan, sesaat setelah pulang dari Spanyol.

SIMAK JUGA: Timnas U-19 Perlu Hadapi Espanyol


LEGENDA


Memiliki sejarah panjang, Espanyol tentu punya sederet legenda yang namanya selalu dielu-elukan oleh kawan maupun lawan pada masanya.

Jika harus menyebut satu nama yang paling besar, tentu dia adalah Raul Tamudo. Penyerang kelahiran Catalunya ini merupakan produk asli akademi Espanyol.

Masuk akademi sejak berusia 15 tahun, Tamudo jadi penampil terbanyak dalam sejarah Espanyol. Memulai karier profesionalnya bersama Espanyol pada 1996 hingga mengakhiri masa abdi pada 2010, pemain berpostur 178 centimeter tersebut menorehkan 389 penampilan.

Tak heran bila kemudian Tamudo juga jadi top skor sepanjang masa Espanyol, lewat koleksi 129 gol. Jumlah itu unggul jauh dari Maranon (111 gol) dan Julian Arcas (86 gol), yang berada langsung di belakangnya.

Selain itu ada nama-nama legendaris lain seperti Artaega, Jose Maria, Thomas N’Kono, Antonio Argiles, Mauricio Pochettino, Ivan de la Pena, Daniel Jarque, hingga Luis Garcia.

Khusus Jarque, eks kapten Espanyol itu meninggal dunia di sela-sela pemusatan latihan pramusim Blanquiazules di Coverciano, Firenze, Italia. Nomor punggung 21 miliknya kemudian diabadikan dan stadion untuk Espanyol B berganti nama jadi “Estadio Dani Jarque”.

SIMAK JUGA: Evan Ungkap Alasan Performanya Tak Stabil


PRESTASI


Meski eksis beredar di level tertinggi sepakbola Spanyol, Espanyol bukanlah klub yang dipandang top baik di negerinya sendiri maupun Eropa. Hal itu terepresentasi dengan tegas dari catatan prestasinya.

Menginjak usia 116 tahun pada 28 Oktober nanti, baru ada lima trofi yang diakui secara prestise di dalam lemari piala Espanyol. Empat dari kompetisi lokal yang kesemuanya merupakan Copa del Rey, sementara satu lainnya berasal dari turnamen kasta ketiga Eropa, Piala Intertoto.

Gelar terakhir didapat pada musim 2005/06, lewat raihan Copa del Rey. Semusim setelah mencomot gelar tersebut, sejatinya Espanyol bisa melanjutkan kejayaan di ajang Piala UEFA. Sayang mereka kalah di partai final oleh tim senegara, Sevilla, lewat babak adu penalti setelah duel berakhir imbang 2-2 dalam 120 menit pertandingan.

Selebihnya lemari trofi Espanyol dipenuhi oleh 11 gelar Campionat de Catalunya dan enam Copa Catalunya, yang merupakan turnamen lokal Catalunya.

SIMAK JUGA: Persija Semangat Lawan Espanyol


KONDISI TERKINI


Musim 2016/17 tidak bisa dibilang mengecewakan buat Espanyol. Mereka berhasil menduduki peringkat delapan di akhir kompetisi La Liga, yang merupakan posisi tertinggi sejak musim 2010/11.

Dalam prosesnya Espanyol sanggup menahan imbang Atletico Madrid dan menumbangkan Sevilla. Kiper utama mereka, Diego Lopez, bahkan berhasil menorehkan rekor klub sebagai kiper dengan clean sheet terpanjang karena tak kebobolan selama 586 menit.

Kegemilangan Espanyol tak lepas dari tangan dingin pelatihnya, Quique Sanchez Flores. Mengedepankan gaya sepakbola menyerang khas Spanyol lewat skema 4-2-4, Espanyol musim lalu tampil jauh lebih atraktif dari yang sebelumnya dikenal sebagai tim pragmatis.

Pemain-pemain dengan kreativitas tinggi layaknya Pablo Piatti, Javi Fuego, dan Javi Lopez jadi maksimal fungsinya. Tugas Felipe Caceido dan Leo Baptistao di lini depan pun jadi terasa lebih ringan.

Garansi permainan indah di level tertinggi jadi bisa dimiliki masyarakat Indonesia, kala Timnas IndonesiaU-19 dan Persija Jakarta menjamu Espanyol nanti.