ASEAN Super League Yang Hanya Sebatas Angan-Angan

Wacana untuk menggulirkan kompetisi antarklub ASEAN tersebut dipastikan tak akan terwujud dalam waktu dekat ini.


OLEH    ERIC NOVEANTO      Ikuti di twitter


Digadang-gadang bakal menjadi kompetisi antarklub Asia Tenggara nomor satu, nyatanya konsep ASEAN Super League (ASL) hanya sekadar wacana saja.

Wacana kompetisi ini sejatinya sudah muncul sejak lebih dari satu dekade yang lalu. Tahun ini sebenarnya menjadi target peluncuran kompetisi, namun berbagai kendala muncul hingga akhirnya mengalami penundaan sampai batas waktu yang tak pasti atau bisa dikatakan tak akan pernah terwujud.

SIMAK JUGA: ASEAN Super League Makin Tak Jelas

Semakin buramnya proyek prestisius yang melibatkan klub-klub negara anggota ASEAN yang hendak digunakan untuk meningkatkan iklim persaingan tersebut dikonfirmasi langsung oleh sekretaris jenderal Asosiasi Sepakbola Asia (AFC) Windsor John, Jumat (23/6) kemarin.

“Mereka [penyelenggara kompetisi] telah resmi memberitahu kami bahwa tak lagi mengejar ASL,” ungkapnya kepada The New Paper sembari menyatakan pihaknya memang belum pernah memberi izin karena belum mendapat penjelasan secara rinci soal struktur liga dalam tubuh AFC.

Ryutaro Megumi Tampines Rovers Alif Yusof Felda United AFC Cup 19042017

Hingga sejauh ini, AFC menaungi dua kompetisi antarklub Asia secara resmi yakni Liga Champions Asia dan Piala AFC, dengan jalur ke sana adalah melalui masing-masing liga domestik. Dan penyelenggara tak bisa memberi kepastian soal ke mana arah muara ASL.

SIMAK JUGA: Tak Mudah Untuk Indonesia Ikut ASEAN Super League

Konsep liga pun belum begitu jelas diungkapkan. Jika menyertakan deretan klub terbaik masing-masing negara Asia Tenggara, maka bakal ada potensi bentrok jadwal domestik dan mancanegara dan apabila hanya diisi oleh klub-klub di luar yang mendapatkan jatah tampil di Asia, maka kompetisi tak akan memiliki nilai jual lebih. Demikian juga jika menggunakan konsep franchise dengan membentuk klub-klub baru, potensi jangka panjang memang ada namun hal itu tentu tak begitu menggiurkan bagi pihak penyelenggara.

Belum adanya kepastian konsep tersebut membuat gelombang penolakan baik dari para pengurus mau pun fans sudah menggema luas. Thailand dan Indonesia — dua negara yang memiliki nilai komersial tinggi pada kompetisi — menjadi yang paling gencar menyuarakan penolakan.

Gabriel Guerra, Johor Darul Ta'zim, Global FC, AFC Cup, 05/04/2017

“Saya tidak melihat berpartisipasi di ASL bisa memberi keuntungan bagi klub-klub Thailand. Liga kami berjalan sangat baik saat ini,” ujar pelatih Chonburi, Therdsak Chaiman kepada FourFourTwo tahun lalu yang tak melihat adanya keuntungan dari ASL untuk negaranya.

“Saya pikir klub mapan Thailand seperti Muangthong United, Buriram United atau Chonburi tak mau terbang ke Indonesia pada hari Rabu dan harus kembali ke Thailand untuk menjalani TPL pada akhir pekan, untuk apa? Anda tidak akan bisa fokus.”

SIMAK JUGA – Presiden FIFA: ASEAN Super League Wajib Disetujui Klub

Hal senada juga diungkapkan sekjen Federasi Sepakbola Filipina (PFF) Edwin Gastanes baru-baru ini yang memilih lebih menaruh fokus untuk mengembangkan liga profesional negaranya yang baru bergulir tahun ini. “Kami berterus terang pada pendirian kami dan harus jujur, bahwa kami harus fokus dan memprioritaskan liga pro kami,” tegasnya.

Negara lain yang sudah menyuarakan aspirasi isyarat penolakan adalah Indonesia, Kamboja dan Malaysia. Hanya saja bagi Malaysia mereka mengisyaratkan akan menanggapi apabila kompetisi menggunakan sistem franchise dengan membentuk tim baru dan tanpa menyertakan klub-klub yang telah eksis di kancah domestik.

GFXID ASEAN Super League

Sementara satu-satunya negara yang gencar menginginkan adanya ASL adalah Singapura saat federasi mereka masih dipimpin oleh Zainudin Nordin. Seperti ingin mengulangi proyek pembentukan tim LionsXII pada 2012 lalu yang sempat berjaya di kompetisi Malaysia Super League (MSL) sebelum dihentikan dua tahun lalu, hadirnya ASL dinilai bisa kembali meningkatkan sepakbola Singapura baik dari segi gairah, kualitas mau pun komersial.

SIMAK JUGA: Kamboja Tak Ikut ASEAN Super League

Hanya saja niatan itu tak satu pikiran dengan fans mereka yang justru menentang keras gagasan mengikuti ASL dan meminta agar kompetisi domestik Singapura, S-League lebih diperhatikan lagi perkembangannya agar bisa sejajar dengan negara-negara lainnya karena jauh mengalami penurunan dan tak bisa lagi mencicipi persaingan di Liga Champions Asia sejak terakhir kali Warriors FC — dulu bernama Singapore Armed Forces — tampil pada edisi 2010.

Nilai komersial akan sekalu menjadi daya tarik kompetisi di era sepakbola modern. Dan tanpa partisipasi negara-negara yang memiliki barisan pendukung fanatik seperti Indonesia, Thailand, Vietnam dan Malaysia maka ASL bisa dipastikan tak akan pernah terlaksana seperti yang diyakini mantan pemain Singapura, R.Sasikumar.

“Negara kunci seperti Indonesia, Thailand, Vietnam dan Malaysia masih suam-suam kuku dalam menanggapi konsep,” ujarnya. “Tanpa adanya basis besar penggemar dari negara-negara tersebut yang bisa mendorong nilai komersial, maka tak ada yang bisa ditawarkan ASL.”

Footer Goal Indonesia Instagram