WAWANCARA EKSKLUSIF-Vic Hermans: Futsal Indonesia Harus Berbenah

Kepada Goal Indonesia, Vic Hermans mengungkapkan ada banyak hal yang harus dibenahi dalam futsal Indonesia jika ingin lolos ke Piala Dunia.


OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN


Federasi Futsal Indonesia (FFI) telah menunjuk Victor Jacobus Hermans (Vic Hermans) untuk menjadi pelatih timnas futsal Indonesia. Ditunjuknya Vic Hermans adalah bagian dari untuk mewujudkan target lolos ke putaran final Piala Dunia Futsal 2020.

Pelatih berusia 64 tahun itu memang sudah berpengalaman membawa tiga negara berlaga di Piala Dunia Futsal. Terakhir, dia mampu membawa Thailand ke level futsal dunia.

SIMAK JUGA: Ini Tim Yang Lolos Final Four PFL 2017

Namun untuk mewujudkan target tersebut, pelatih asal Belanda itu menghadapi jalan yang sangat terjal. Kepada Goal Indonesia, Vic Hermans mengungkapkan ada banyak hal yang harus dibenahi dalam futsal Indonesia.

SIMAK JUGA: Ini 14 Pemain Timnas Futsal U-20 Untuk Piala Asia Futsal U-20 2017

Berikut petikan wawancara eksklusif dengan eks pemain timnas futsal Belanda itu:

Setelah beberapa bulan berada di Indonesia, bagaimana Anda melihat atmosfer maupun kompetisi futsal di sini?

Saya sudah mengetahui tentang futsal Indonesia sebelum datang ke sini. Setelah melihat kompetisi di sini, ada banyak hal yang perlu diubah dari kompetisi di Indonesia. Maka itu, tahun depan saya akan menggelar pertemuan dengan seluruh manajer klub karena ada banyak hal yang kurang lancar.

Hal mendasar apa yang harus dievaluasi?

Mulai dari struktur kompetisi, mental pemain, begitu juga wasit. Harus ada edukasi lagi untuk wasit. Misalnya, ada beberapa pelanggaran yang terjadi tapi tidak dikasih hukuman oleh wasit. Wasit di sini menggunakan peraturan yang sudah tak berlaku. Selain itu, futsal juga permainannya sangat cepat, jadi setiap wasit juga harus mengambil keputusan yang lebih cepat. Kalau dari segi teknis pemain, saya rasa sudah cukup bagus.

Bagaimana sistem kompetisi yang ideal menurut Anda?

Jadi yang pertama, mungkin dalam satu minggu satu pertandingan. Jadi jangan cuma main empat bulan, tapi harus delapan bulan sehingga pemain tidak overtraining. Sebenarnya lebih baik satu minggu, satu pertandingan lebih baik untuk sponsor, penonton, dan pemain.

Idealnya, dalam setahun ada 26 pertandingan untuk satu klub dalam satu musim dan harus ada cup (piala). Jadi ada turnamen sistem gugur, yang bisa mempertemukan antara tim yang kecil dengan tim yang besar. Kompetisi usia muda juga harus ada, di Belanda juga setiap tim wajib memiliki tim usia muda.
 
Tapi wilayah Indonesia begitu luas, apakah itu bisa berjalan dengan baik?

Mungkin bisa mencontoh apa yang diterapkan Rusia. Mereka juga memiliki wilayah yang luas, tapi mereka mengubah aturan main menjadi 2×25 menit agar main lebih lama. Kalau jarak antarwilayah jelas tak bisa kita ubah, maka itu kita ubah dari peraturan pertandingannya.

Apakah ada catatan khusus dari Anda mengenai kegagalan timnas futsal Indonesia di Piala AFF?

Salah satunya dari sisi pelatih. Edukasi pelatih di Indonesia masih kurang, saya tahu itu karena saya adalah salah satu instruktur pelatih di AFC. Saya lihat pelatih di Indonesia memang masih kurang tahu futsal dalam beberapa aspek. Kemarin di AFF misalnya terkait penerapan power-play. Power-play itu sangat penting di futsal, tapi kemarin itu tak berjalan di timnas futsal Indonesia. Itu tanggung jawabnya pelatih, jadi pelatih perlu diedukasi lagi sehingga levelnya bisa lebih tinggi.

Apakah target lolos ke Piala Dunia Futsal 2020 realistis?

Kalau struktur organisasinya masih seperti ini, itu tidak realistis. Mungkin yang bisa menjadi satu contohnya, kemarin ketika kami ingin ada beberapa uji coba dengan negara lain, itu batal semua. Jadi bagaimana caranya kita bisa ikut Piala Dunia kalau enggak ada uji coba internasional. Jarak antara FFI dan PSSI terlalu jauh untuk ambil keputusan.

Jadi, berapa tahun lagi Indonesia bisa ke Piala Dunia Futsal?

Sebenarnya Piala Dunia yang akan datang bisa, asalkan organisasinya oke dan ada cukup banyak laga internasional. Pemain yang ada di timnas U-20 ini harus betul-betul dipersiapkan untuk ikut Piala Dunia. Kalau di Iran, timnas mereka main 24 kali dalam setahun, sementara di Belanda paling tidak delapan kali. Delapan kali laga internasional sudah oke, tapi idealnya seperti yang dilakukan Iran. 

Tapi Anda hanya dikontrak dua tahun oleh FFI..

Saya sebenarnya ingin empat tahun di sini. Tapi sekarang ada kontrak yang sedikit terbuka, jadi saya bisa keluar atau federasi menyetop kontrak ini. Tapi saya ingin membantu futsal Indonesia untuk ke Piala Dunia.

Beralih ke timnas futsal U-20 yang sedang Anda persiapkan, Optimistis kah Anda dengan tim ini di Piala Asia Futsal U-20 nanti? 

Potensi tim ini bagus. Kalau mereka bisa main sesuai dengan kekuatan mereka, pasti kita bisa lolos dari fase grup, itu dulu yang pertama. Jadi, kembali lagi ke performa mereka sendiri.

Bagaimana dengan peluang di SEA Games 2017?

Sebenarnya saya belum tahu karena timnas senior belum dibentuk. Itu event pertama untuk timnas yang baru. Rencananya, setelah bulan puasa pemain akan dikumpulkan untuk mulai latihan. Jadi SEA Games adalah bagian dari persiapan untuk Piala AFF pada November nanti.

Bisa Anda ungkapkan faktor apa yang membuat Thailand begitu superior di ASEAN?

Yang pertama, mereka sudah membangun struktur yang benar. Harus diakui, di sana juga ada banyak manajer klub yang merasa lebih penting daripada timnya. Hingga akhirnya mereka berubah pikiran manajer tidak penting, yang penting adalah pelatih. Sehingga manajer ke tribun dan pelatih yang di lapangan.

Selain itu, pemain di sana juga dapat fasilitas yang bagus, selalu berseragam, jadi mereka juga merasa kompak. Liga di sana juga sudah bagus, saya ikut mengubah strukturnya. Dulu, kompetisi hanya digelar di Bangkok, tapi sekarang sudah digelar di seluruh Thailand. Jadi lebih banyak penonton dan pemain menjadi lebih antusias. Saya berharap itu bisa terjadi di Indonesia, asalkan mereka percaya dengan yang saya mau dan saya minta dukungan 100 persen karena Indonesia punya potensi.

Awalnya Thailand mungkin seperti Indonesia, tapi sekarang sudah lebih bagus dengan kompetisi penuh, atmosfernya untuk saat ini masih lebih bagus dibandingkan Indonesia. 

Terakhir, siapa pemain Indonesia yang layak bermain di luar negeri?

Ada beberapa pemain yang bisa. Di antaranya yang bisa menjadi contoh Syauqi (Saud, Mataram FC), lalu ada juga Bayu (Bambang Bayu Saptaji, Vamos Mataram) yang pernah main di luar negeri. Tapi ada lebih banyak lagi pemain yang potensial, namun mereka juga harus masuk dalam struktur kompetisi. 

Footer Goal Indonesia Instagram