WAWANCARA EKSKLUSIF-Luis Milla: Sudah Ada Perubahan Di Sepakbola Indonesia

Setelah sekitar dua bulan berada di Indonesia, kepada Goal Indonesia Milla mengungkapkan pandangannya tentang sepakbola Indonesia. Simak di sini!


OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN


PSSI telah menunjuk Luis Milla Aspas untuk menukangi tim nasional (timnas) Indonesia. Target terdekat, pelatih asal Spanyol itu ditargetkan bisa membawa timnas Indonesia U-22 meraih medali emas SEA Games 2017.

Setelah berada di Indonesia sekitar dua bulan, mantan penggawa Barcelona dan Real Madrid itu pun sudah mulai memahami kultur sepakbola Indonesia. Berbagai program pun telah disiapkannya untuk meningkatkan prestasi sepakbola Indonesia.

Goal Indonesia pun mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai pelatih berusia 51 tahun itu, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan timnas U-22. Berikut petikan wawancara dengan mantan pelatih timnas Spanyol U-21 tersebut: 

Setelah sekitar dua bulan di Indonesia, menurut Anda apa yang menjadi masalah utama sepakbola Indonesia?

Saya pribadi maunya positif, saya pun melihat dua bulan terakhir banyak sekali perubahan, banyak sekali orang-orang yang mau bikin perubahan. Sekarang liga yang baru lebih kompetitif, terus PSSI sudah mulai berpikir untuk memperbaiki sepakbola Indonesia, dasar-dasar sepakbola, struktur sepakbola usia muda juga sudah diperbaiki. Buat saya, yang penting kami semua secara tim bisa bekerja baik di sini, itu semua tujuannya untuk mencapai tujuan akhir kami adalah SEA Games 2017.

Anda dikontrak dengan durasi dua tahun, apakah itu ide dari anda atau PSSI yang menawarkan?

Dua tahun itu adalah kesepakatan dari kedua pihak. Saya tiga hari ada di Indonesia, saya dijelaskan apa saja program-program PSSI. Mereka ingin ada perubahan di sepakbola Indonesia. Kemudian, saya dikasih perencanaan jangka pendek yaitu menang di SEA Games 2017, lalu idenya juga bagus karena saya ditawari melatih tim usia muda, saya juga sangat suka melatih pemain usia muda. 

Dalam dua tahun saya harap bisa menunjukkan ke PSSI, bisa memberikan perubahan, bisa memberikan kompetisi ke anak-anak (pemain timnas). Saya berharap, saya dievaluasinya setelah dua tahun di sini, di mana saya juga berharap anak-anak berkembang secara individu dan tim setelah saya latih.

Secara kualitas pemain Indonesia berbeda dengan Eropa, pendekatan apa yang dilakukan agar pemain Indonesia memahami filosofi Anda?

Saya enggak suka membandingkan pemain, tapi yang saya senang dari pemain-pemain ini adalah sikapnya mereka, anak-anak yang saya latih berumur dari 19-21 tahun mereka sangat bagus. Terutama banyak sekali peningkatan yang dialami anak-anak hingga seleksi ketujuh ini baik secara individu maupun kolektif, semuanya ada perbaikan. Yang bisa saya harapkan dari anak-anak adalah kita bisa memberikan mimpi, sama-sama bermimpi dan punya hasrat yang sama dan anak-anak bisa mengerti strategi saya dan ide saya. Di mana saya lihat anak-anak semuanya bisa melaksanakan itu sejauh ini.

Siapa menurut Anda pemain Indonesia yang layak main di Eropa?

Menurut saya di Indonesia ini ada beberapa pemain yang punya kondisi bagus untuk bermain di Eropa. Tapi yang perlu diingat, mereka harus punya mental yang bagus karena sepakbola bukan hanya soal mengolah bola, namun secara mental mereka juga harus siap. Di Eropa, pemain bola itu sangat profesional, cara mereka berpikir hanya memikirkan bola, gaya hidup mereka juga disiplin semuanya bola. Itu yang harus kita ajarkan ke anak-anak.

Apakah PSSI juga meminta saran Anda untuk pembinaan usia dini dan regulasi kompetisi?

Sebelumnya, saya memang suka sekali bekerja sama dengan pemain muda, dan benar sekali federasi juga sempat menanyakan kepada saya bagaimana struktur dan sekolah sepakbola untuk usia muda. Di Eropa, anak-anak mulai bermain sepakbola dari usia yang sangat kecil, dan dari situ mereka sudah mulai berkompetisi dan berorganisasi. Di Indonesia, bagi saya sangat penting sekali ada sekolah untuk pelatih anak-anak muda, di mana pelatih untuk anak-anak muda ini akan menentukan sepakbola Indonesia ke depannya. 

Pelatih anak-anak muda ini tak boleh hanya memikirkan karier mereka, tapi juga harus berpikir bagaimana cara mengeluarkan kemampuan terbaik dari anak-anak yang dia latih. Kami berharap juga ada struktur yang lebih baik, ada kompetisi setiap minggunya, dalam artian mereka bisa bertanding.

Apakah ada peraturan khusus untuk pemain timnas selama pemusatan latihan, seperti makanan atau jam malam?

Saya ini orangnya sangat fleksibel, tapi ketika bekerja saya orangnya sangat ketat, disiplin, juga determinasi. Tapi di sini juga ada garis atau peraturan yang harus diikuti anak-anak yakni soal kepribadian atau cara mereka berperilaku sehari-hari. Sejatinya, saya tidak suka menjadi seperti militer, saya tidak suka menekan anak-anak. Saya ingin anak-anak punya tanggung jawab sendiri. Dalam artian, ketika mereka bisa bertanggung jawab sendiri dan mereka berhasil menjadi kepribadian yang bagus, secara tim kita bisa lebih berharmoni.

Bagaimana cara Anda menangani kondisi pemain jika mereka terlihat stres atau dalam tekanan untuk lolos seleksi? Apakah ada psikiater juga yang Anda libatkan?

Setiap pemain yang bermain di timnas itu harus sadar kalau kami hanya memanggil pemain yang baik secara mental, taktik, dan fisik. Kami pun sudah melakukan penilaian terhadap pemain dan akhirnya kami mengeluarkan daftar final, di mana daftar final itu ada kualitas, jadi buat kami sebuah beban untuk memilih siapa pemain yang tidak layak. Siapapun bisa keluar, siapapun bisa terpilih. Memang di usia muda itu bisa trauma, tapi mereka juga harus sadar kalau ini sepakbola profesional.

Ketika liga profesional Indonesia bergulir 20 tahun yang lalu, PSSI mencanangkan cita-cita menembus Piala Dunia 2018 atau 2022. Bagaimana Anda melihat kini seberapa jauh Indonesia dari mimpi itu?

Mimpi itu bagus, tapi jalannya masih panjang dan ada prosesnya. Saya ingin seluruh rakyat Indonesia bersatu dan bekerja keras dan punya perencanaan yang tetap tidak diganti-ganti, serta harus saling membantu juga untuk mewujudkan mimpi besar ini.

Footer Goal Indonesia Instagram