Temui Maxime Lopez – Bintang Muda Marseille Penerus Samir Nasri

Playmaker berusia 19 tahun ini menikmati debut musim impresif di Ligue 1 Prancis dan mendapat pujian tinggi dari legenda Zinedine Zidane.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Kemenangan krusial 2-1 atas Nice akhir pekan lalu, mengkonfirmasi Maxime Lopez sebagai “Pangeran Kecil” baru di Stade Velodrome markas Olympique Marseille.

Tak seperti kebanyakan tim papan atas di Prancis, Marseille sejatinya tidak punya reputuasi apik hasilkan bintang-bintang muda dari akademinya. Lulusan terbaik mereka yang paling baru adalah Ayew bersaudara, yang kini cuma mentas di tim medioker Liga Primer Inggris.

Memutar waktu lebih jauh, Samir Nasri mungkin jadi lulusan terbaik akademi Marseille dalam dua dekade terakhir. Eks Arsenal dan Manchester City itu lantas jadi padanan paling pas untuk dibandingkan dengan Lopez, yang sukses menembus starting XI La Commanderie sejak kedatangan Rudi Garcia di musim gugur lalu.

Memiliki teknik elegan, jangkauan bola yang akurat, kuat dalam menguasai bola, plus keberanian dalam mendikte permainan, menjadikan playmaker 19 tahun itu layak dilabeli sebagai bintang masa depan.

Kesedian beroperasi di antara lini tengah dan belakang, kerap membuatnya dibanding-badingkan dengan Marco Verratti. Namun Lopez jauh lebih ofensif, terbukti dari enam assist-nya musim ini.

Maxime Lopez Marseille

Aksi terkini Lopez hadir ketika mengkreasikan gol kemenangan atas Nice. Lawan yang sebelumnaya cuma kalah dua kali dalam lawatannya ke garis pantai Mediterania musim ini.

Gol kemenangan yang diciptakan Patric Evra, merangkum seperti apa kualitas sejati yang dimiliki Lopez.

Pertama Lopez bergerak dari lini pertahanan untuk menjemput umpan liar di tepi area Nice. Kemudian, pemain bertinggi 167 centimeter itu cerdas lakukan umpan satu-dua dengan Dimirtri Payet, sembari melanjutkan pergerakannya ke kotak penalti lawan.

Dari posisi yang terbilang jauh dari ideal, secara mengejutkan Lopez mampu mengirim umpan brilian untuk membuat Evra masuk papan skor.

Menilik konteks pertandingan tersebut, ini jadi pertunjukan terbaik seorang bintang masa depan untuk menancapkan nama. Sebelumnya Lopez sudah tunjukkan karakter luar biasa, dengan cetak sepasang gol hadapi Caen di journee 36 setelah sempat dikritik.

“Saya mulai menentukan dan itulah hal yang hilang dari saya dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Lopez, usai duel melawan Caen. “Saya mendapat banyak kritik soal performa saya akhir-akhir ini dan saya ingin memberikan reaksi. Itu adalah brace pertama saya di Ligue 1 dan saya senang mendengar para sporter bernyanyi dengan nama saya.”

Lopez sendiri sebenarnya disertakan Timnas Prancis U-20, yang sedang bersiap menuju Piala Dunia di Korea Selatan pada 20 Mei esok. Namun Marseille melarangnya, karena komitmen untuk menjaga fisik arungi play-off Liga Europa musim depan.

Pelatih kepala Prancis U-20, Ludovic Batelli, tentu saja akan merasa sangat kehilangan figur penting seperti Lopez.

Maxime Lopez Marseille

“Rudi Garcia telah membuat Lopez jadi pemain yang sangat penting di Marseille,” ujar Batelli.

“Lopez adalah tipe pemain yang dibutuhkan tim, memiliki umpan-umpan kreatif. Dia bagus secara individual, tapi lebih suka bekerja sama dengan rekan setimnya. Dia punya profil menarik walau bermain sederhana. Meski begitu dia punya kemampuan nyata untuk memengelabui lawan, dengan umpan dan visi bermainnya. Dia pun dibekali teknik bola mati yang sangat baik,” lanjutnya.

Selain itu Batelli juga menyoroti mental Lopez yang dinilai jauh lebih matang ketimbang pemain seusianya.

“Lopez mulai berkembang di level emosional,” ungkap Batelli. “Saya melihat beberapa perilaku negatif dari banyak pemain muda dan cadangan. Namun Lopez benar-benar berkembang di sektor ini. Dia punya sikap pesepakbola papan atas.”

Anak emas Marseille, Zinedine Zidane, pun tak kehilangan perhatian pada pekembangan Lopez.

“Lopez adalah bagian dari keluarga Marseille dan saya tahu dia sejak lama. Terutama anak saya, yang sangat mengenalnya — kala keduanya bermain di Aiz-en-Provenze,” ungkap bos Real Madrid tersebut. “Lopez selalu menunjukkan bakat fantastisnya yang natural.

“Sungguh menakjubkan dengan apa yang sudah Lopez lakukan. Ini bukan lagi soal usia, karena sekarang usia tak berarti apapun. Ini soal personalitinya ketika berlaga. Dengan kata lain, dia bukan pemain yang gemar berlari, tapi pemain yang gemar bermain dengan bola dan membuat rekan setimnya bermain lebih baik.

Dengan Marseille yang punya agenda belanja besar-besaran di bursa musim panas esok, mereka tentu haram menyiakan bakat terbaik akademinya dalam sedekade terakhir. Jika Nasri yang dahulu dijuliki “Pangeran Kecil” bisa menjadi “Raja”, mengapa tidak dengan Lopez?