Pidato Mengharukan Francesco Totti

Pidato mengharukan disampaikan Francesco Totti, dalam momen perpisahannya dengan AS Roma.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR       Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Hari yang menyedihkan itu akhirnya tiba. Akhir pekan kemarin AS Roma resmi melepas legenda terbesar sepanjang sejarahnya, Francesco Totti.

Perayaan perpisahan Totti pun dilakukan Roma usai duel pamungkas Serie A musim ini hadapi Genoa. Momen itu berlangsung amat emosional, disertai tangis puluhan ribu Romanisti di Olimpico Roma dan Totti sendiri.

Jelang akhir perayaannya, Totti pun didaulat menyampaikan pidato perpisahannya. Meski diselingi sedikit lelucon, isi dari pidato tersebut sangatlah emosional.  Berikut petikan pidato mengharukan pemain berjuluk Er Pupone itu, seperti dilansir laman resmi Il Giallorossi.

SIMAK JUGA: Pesan Emosional Totti Untuk Buffon

“Momen yang tidak pernah saya inginkan ini akhirnya datang juga. Dalam beberapa hari terakhir ada banyak hal yang dibicarakan mengenai saya dan tentunya semuanya bernada bagus. Kalian semua berada di belakang saya, selalu memberikan dorongan di masa sulit, dan itulah kenapa saya mengucapkan terima kasih pada kalian semua,” buka Totti.

“Saya menangis dan ini sungguh gila. Anda tidak bisa melupakan begitu saja periode 25 tahun seperti ini. Saya berterima kasih pada semuanya meski ini jelas tak mudah bagi saya. Saya bercerita kepada istri saya tentang apa arti semua ini. Saya berterima kasih pada ibu dan ayah saya, saudara, keluarga, dan teman-teman. Terima kasih untuk istri dan ketiga anak saya. Saya ingin memulai dari sini karena saya tidak yakin bisa mengakhirinya.

“Tidak mungkin menjelaskan masa selama 28 tahun [sejak membela Roma Primavera] hanya ke dalam beberapa kalimat. Saya ingin mengungkapkannya melalui lagu atau puisi namun saya tidak ahli dalam hal itu. Saya mencoba mengekspresikan semuanya dengan kaki saya karena hanya dengan cara itu semua terasa lebih mudah. Sepakbola adalah mainan saya sejak kecil dan sampai sekarang saya masih memainkannya.

“Tapi dalam titik tertentu, Anda harus menyadari bahwa waktu itu [untuk pergi] telah tiba. Itulah kenapa saya membenci waktu. Sama halnya dengan momen pada 17 Juni 2001 [ ketikaTotti membawa Roma Scudetto] dimana saya ingin wasit segera meniup peluit akhir pertandingan dan saya masih merinding jika mengingat momen tersebut.

“Mulai besok, saya akan menjadi pria biasa. Saya harus melepas celana dan sepatu ini dan mulai sekarang saya tak bisa merasakan aroma rumput, menikmati paparan sinar matahari di wajah, adrenalin yang ada, dan juga kepuasan ketika melakukan selebrasi. Saya bertanya pada diri sendiri dalam beberapa bulan terakhir kenapa saya harus terbangun dari mimpi ini.

SIMAK JUGA: Totti Belum Siap Ucapkan Selamat Tinggal

“Ketika masih kecil dan saat Anda sedang bermimpi indah, kemudian datang ibumu yang membangunkanmu untuk pergi ke sekolah. Kamu mencoba untuk tidur lagi tapi mimpi itu sudah tidak sama lagi. Kali ini bukanlah mimpi lagi, tapi sebuah realita. Saya mendedikasikan surat ini kepada anak-anak yang mendukung saya, kepada mereka yang tumbuh bersama saya dan sekarang mungkin sudah menjadi ayah.

“Saya suka berpikir bahwa karier saya adalah kisah indah yang bisa diceritakan dan ini adalah bagian terburuknya. Sekarang ini semua sudah berakhir meski harus saya katakan bahwa sebenarnya saya masih belum siap dan tidak akan pernah siap. Maafkan saya jika dalam periode ini saya tidak menggelar konferensi pers atau mengklarifikasi apa yang terjadi. Ini bukan rasa takut yang sama ketika Anda berada di depan gawang lawan untuk mengambil tendangan penalti.

“Kali ini saya bahkan tidak bisa melihat ada cahaya dari sela jaring gawang itu. Jadi izinkan saya untuk merasa sedikit takut. Kali ini saya sangat butuh bantuan dan kehangatan kalian seperti yang selalu kalian tunjukkan pada saya. Dengan perhatian kalian, saya pasti bisa membuka lembaran baru dalam hidup saya.

“Saya berterima kasih pada rekan setim, pelatih, direktur, presiden, dan semua yang bekerja dengan saya selama ini. Fans, Curva Sud, yang selalu menjadi referensi bagi kita semua, Romans, dan Romanisti. Lahir sebagai Roman dan Romanisti adalah sesuatu yang istimewa. Menjadi kapten tim ini adalah sebuah kehormatan. Kalian semua akan selalu ada dalam hidup saya.

“Mungkin saya sudah tidak bisa bersenang-senang lagi dengan kaki saya, tapi hati saya akan selalu bersama kalian. Sekarang saya akan menuruni tangga tersebut, memasuki kamar ganti yang dahulu pernah menyambut saya saat masih muda dan sekarang saya meninggalkannya sebagai seorang pria. Saya senang dan bangga bisa 28 tahun membela Roma. Saya cinta kalian!”