Kisah Cinta Jose Mourinho Dan Laga Final

Normalnya, Setan Merah akan menjuarai Liga Europa karena sang manajer punya rekor mentereng di partai final.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


“Karena pertandingan final bukan hanya untuk dimainkan, namun untuk dimenangkan.” Demikian kata-kata sakti dari mulut Jose Mourinho setiap kali tim yang diasuhnya berhasil masuk ke final.

Mourinho barang tentu akan sekali lagi menyuarakan kalimat motivasi tersebut kepada anak asuhnya pada tengah pekan ini. Ya, Mourinho kembali ke partai final saat Manchester United besutannya menantang Ajax Amsterdam dalam partai puncak Liga Europa 2016/17 di Friends Arena, Stockholm, Swedia, Kamis (25/6) dini hari WIB.

ROAD TO STOCKHOLM: Ajax Ingin Rusak Rencana United

United berhasrat untuk menaklukkan Ajax, bukan hanya untuk mengejar trofi Liga Europa maupun mengincar tiket lolos otomatis ke Liga Champions musim depan, namun juga untuk memperpanjang rekor impresif Mourinho di laga final.

Sepanjang karier melatihnya, Mourinho adalah manajer yang bergelimang gelar. Ia sudah 24 kali meraih trofi, dengan 11 trofi di antaranya berasal dari laga yang berformat final. Hebatnya, 11 titel tersebut diraih hanya dalam 13 laga final.

Mourinho baru dua kali merasakan kekalahan di final, tepatnya di final Taca de Portugal 2002/03 bersama Porto dan final Copa del Rey 2012/13 yang menandai akhir kiprahnya bersama Real Madrid. Sisanya adalah kisah cinta Mourinho dengan partai final.  

GFXID Rekor Final Jose Mourinho

Jika dikonversi ke dalam persentase peluang juara, Mourinho punya jaminan merebut trofi sebesar 85 persen apabila ia melangkah ke laga final. Angka yang mentereng dan berpotensi membuat lawan-lawannya gentar sebelum kick-off.

Piala Liga menjadi kompetisi yang paling banyak dimenangi oleh manajer asal Portugal itu, yakni empat kali. Termasuk di musim ini dengan membawa United mengalahkan Southampton 3-2 pada Februari lalu.

Meski sudah mengoleksi dua gelar Liga Champions, Mourinho menyebut Piala UEFA 2002/03 sebagai laga final yang paling mengaduk emoisnya. Skornya amat ketat, 3-2, dan sempat dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu.

SIMAK JUGA: De Ligt: United Favorit Di Final UEL

“Saya selalu bilang, final Piala UEFA melawan Celtic adalah final paling emosional dalam karier saya, sebab final Liga Champions pada 2004 dan 2010 lebih terkontrol. Saya rasa gelar itu adalah awal dari semuanya. Saya pun memutuskan bertahan di Porto semusim lagi dan Anda tahu, saya sangat mensyukuri keputusan itu,” kata Mou seperti dikutip dari laman resmi UEFA.

Mourinho barangkali akan sama emosionalnya seperti 14 tahun silam jika mampu memenangi Liga Europa musim ini bersama United. Pasalnya, gelar ini bakal memulihkan citra Mourinho sebagai The Special One, status yang sempat tercoreng akibat kampanye buruk bersama Chelsea di musim lalu.