GoalPedia: Mengenal ABBA, Sistem Adu Penalti Baru

Statistik menunjukkan sistem terkini menguntungkan tim penendang pertama. Kini format baru mulai diujicobakan agar adu penalti berjalan lebih adil.


OLEH   DEDE SUGITA     Ikuti di twitter


Adu penalti menjadi salah satu momen paling menarik dalam laga sepakbola. Saat sebuah pertandingan dengan format knock-out tak dapat dituntaskan dalam waktu normal plus ekstra 30 menit, pertarungan harus ditentukan lewat penalty shoot-out.

Menegangkan dan dramatis. Tidak pernah tidak, babak ini selalu membuat jantung penonton berdegup kencang, menunggu hasil eksekusi sang algojo dari titik putih: menyajikan keceriaan atau malah kemuraman nan menyesakkan.

Mengamati prosesnya, tak sedikit orang yang mengibaratkan adu penalti dengan lotre. Jargon lainnya pun babak tos-tosan, seolah-olah keberuntungan tampil sebagai faktor semata wayang di sini.

JADWAL LENGKAP PERTANDINGAN

Namun, benarkah demikian kenyataannya? Tergantung dari sudut mana Anda memandangnya, jawabannya bisa ya bisa tidak. Faktanya, statistik menunjukkan adu penalti dengan format terkini lebih menguntungkan tim penendang pertama dan, sebagaimana diketahui, kubu mana yang berhak menendang dahulu diputuskan melalui undian koin.

Berdasarkan hasil riset, ternyata sebuah tim mempunyai persentase kemenangan mencapai 60 persen apabila memperoleh giliran sebagai penendang pertama.

Guna lebih menyetarakan peluang kedua kubu sekaligus membuat penalty shoot-out berjalan lebih “adil”, badan tertinggi sepakbola Eropa, UEFA, mencetuskan rencana untuk mengubah format adu penalti. Sistem baru ini disebut ABBA.

Tiada sangkut-pautnya dengan grup band pop legendaris asal Swedia, ABBA di sini merujuk kepada urutan tim penendang.

Champions League final Real Madrid Atletico Madrid 28052016Argentina Chile Copa America Final 26062016Real Madrid dan Cile memenangi adu penalti di final Liga Champions dan Copa America 2016 setelah mendapat giliran menendang pertama

Dalam regulasi saat ini, bila tim penendang pertama dilabeli A dan yang kedua B, maka susunan eksekusinya adalah A, B, A, B, dan seterusnya. Urutan semacam ini cenderung merugikan tim kedua karena besar kemungkinan mereka selalu berada dalam posisi harus mengejar skor.

“Hipotesisnya adalah sang pemain yang mengambll tendangan kedua berada di bawah tekanan mental yang lebih besar,” demikian pernyataan resmi UEFA.

Federasi yang sekarang dipimpin presiden Aleksander Ceferin itu membuat terobosan dengan memperkenalkan aturan baru yang menyerupai sistem tie-break di cabang tenis. Sesuai namanya, dalam regulasi anyar, misalkan penalti pertama diambil tim A, maka dua penalti setelahnya menjadi milik tim B, sebelum tim A mendapat giliran lagi untuk sepasang penalti berikut, dan seterusnya. A, B, B, A.

Sebagaimana sistem terkini, masing-masing tim akan memperoleh jatah lima tendangan dan dilanjutkan dengan sudden death bila skor masih berimbang sesudahnya. Penentuan tim mana yang menendang pertama tetap menggunakan undian koin.

Sistem ABBA disetujui Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB) pada Maret lalu dan telah mulai diujicobakan dalam dua kompetisi di bawah naungan UEFA awal bulan ini, yaitu Kejuaraan Eropa U-17 kategori Putra dan Putri, yang masing-masing mentas di Kroasia dan Republik Ceko.

Bagaimana menurut Anda, apakah ABBA akan membuat adu penalti lebih seru, lebih sukar diprediksi, dan – sesuai tujuan utamanya – lebih adil untuk kedua kubu yang bertanding?