Goal Retro: Sir Alex Ferguson & Manchester United, Kisah Sukses Perdana Di Eropa

United mendapatkan momentum untuk kembali menjadi kekuatan di Eropa ketika memenangkan Piala Winners 1991.


OLEH    ADHE MAKAYASA     Ikuti di twitter


Tiga musim pertama dilalui tanpa trofi sempat membuat karier Sir Alex Ferguson di Manchester United masuk dalam zona bahaya. Meski begitu, peruntungannya berubah seiring kesungguhannya dalam melakukan perombakan dari atas ke bawah sampai ke scouting network yang menghasilkan kesuksesan di ajang lokal dan melanjutkan itu ke panggung Eropa.

United di era awal Ferguson terbilang memiliki mental ala Inggris yang negatif. Para pemain suka pergi ke bar dan ada pula yang ketagihan alkohol, dan hal tersebut membuat sang manajer berang bahkan ia tak segan untuk menendang beberapa pemainnya yang tidak mau mengikuti aturannya demi meraih sukses.

Titik balik terjadi ketika ia menjuarai Piala FA 1989/90 dan Community Shield 1990, momentum United pun berlanjut dengan menjuarai Piala Winners 1991, yang sekaligus menjadi trofi Eropa pertama yang dipersembahkan Sir Alex untuk klubnya, dan itu seolah menghapus dahaga Setan Merah karena mereka tidak lagi berjaya di Benua Biru sejak mengangkat trofi Piala Eropa pada 1967/68 silam.

Piala Winners sendiri merupakan sebuah kompetisi yang kini sudah tidak lagi ada, namun itu adalah kejuaraan yang mempertemukan tim-tim juara di piala domestik dari seluruh negara yang masuk dalam anggota UEFA, dan edisi 1991 merupakan tahun pertama klub Inggris diperbolehkan kembali ke pentas Eropa setelah sebelumnya dilarang berpartisipasi menyusul tragedi Heysel 1985.

SIMAK JUGA – Antoine Griezmann: Kans Ke Manchester United? 60 Persen

Perjalanan United di Piala Winners 1991 bisa dibilang tanpa hambatan. Mereka bahkan dipertemukan tim-tim yang relatif ringan dengan mengklaim agregat kemenangan yang cukup telak atas wakil Hongaria Pecsi (3-0, di putaran pertama), klub Wales Wrexham (5-0, putaran kedua), Montpellier (3-1, perempat-final) dan Legia Warsawa (4-2, semi-final).

Sementara itu, Barcelona menemui lawan cukup menantang namun mereka dengan gemilang menyingkirkan Trabzonspor (agregat 7-3, di putaran pertama), menyisihkan wakil Islandia Fram (5-1, di putaran kedua), menjungkalkan Dynamo Kiev (4-3, perempat-final) dan menendang Juventus dari semi-final dengan mengklaim agregat 3-2.

Kemudian final Piala Winners 1991 digelar pada 15 Mei di Feyenoord Stadium, Rotterdam, dan itu adalah final yang ditunggu-tunggu oleh kedua kubu. Di depan 45 ribu penonton, United yang mengenakan jersey klasik warna putih tampil dominan di babak pertama, namun upaya mereka tak ada yang bisa menembus kiper Carles Busquets.

Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-67. Menyusul tendangan bebas yang diambil kapten Bryan Robson dan disundul bek Steve Bruce, Mark Hughes yang bebas dari posisi offside kemudian mengejar bola tersebut sampai ke mulut gawang sebelum menyonteknya. 1-0 United memimpin.

Tujuh menit berselang Hughes kembali menjadi momok bagi Barcelona, klub yang pernah ia bela antara 1986 dan 1988, dengan ia menjaringkan bola setelah melewati Busquets yang memilih keluar dari gawangnya. Meski memiliki ruang tembak yang sempit, penyerang awal Wales itu dengan mudah mengonversinya menjadi gol.

Sisa 14 menit yang ada membuat Barcelona tertekan. Mereka mencoba untuk melakukan comeback dan mendapatkan momentum dengan gol yang dicetak Ronald Koeman lewat tendangan bebas, namun itu rupanya tidak cukup karena pasukan Ferguson mampu mempertahankan keunggulannya.

United akhirnya mengangkat trofi Eropa pertamanya di bawah arahan Ferguson, dan itu merupakan keberhasilan kedua sang manajer di ajang ini. Sebelumnya Ferguson menghadirkan kejutan dengan mengalahkan raksasa Spanyol Real Madrid pada 1983, ketika masih membesut Aberdeen. Lebih dari itu, pria asal Skotlandia tersebut menyebut menjuarai Piala Winners 1991 sebagai titik balik bagi timnya.

“Itu adalah kemajuan yang besar [bagi klub ini],” kata Sir Alex kepada Inside United pada 2011 silam. “Tidak diragukan lagi.

“Waktu itu Sharpey [Lee Sharpe] dan Giggsy [Ryan Giggs] baru dipromosikan dari tim akademi. Kami juga punya Sparky [Mark Hughes] dan Choccy [Brian McClair], [Paul] Ince dan [Bryan] Robson dan, setelahnya, kami mendatangkan Paul Parker, Andrei Kanchelskis dan Peter Schmeichel.

“Itu adalah pembelian fundamental yang menjadikan tim kami semakin kuat.”

SIMAK JUGA: Angel Gomes Jadi Debutan Termuda Manchester United Di Liga Primer Inggris

Mengenai permainan Barcelona di final tersebut, Fergie menambahkan: “Taktik yang mereka terapkan membuat segalanya sangat sulit bagi kita di babak pertama. Mereka memainkan dua pemain yang bermain melebar dan tanpa penyerang, serta menyesaki lini tengah.

“Seketika kami membahasnya di jeda, kami tampil sebagai tim terbaik di babak kedua dan itu merupakan malam yang fantastis bagi kami.”

Semenjak itu, United secara perlahan mulai menjadi tim dominan di Inggris dan secara reguler bermain di Eropa. Selama 27,5 tahunnya di Old Trafford, Ferguson yang dikenal suka mempromosikan pemain muda ke tim utama berhasil mempersembahkan banyak gelar termasuk dua trofi Liga Champions pada 1999 dan 2008.

United kini ada di bawah arahan Jose Mourinho. Pria Portugal tersebut berkesempatan mencatatkan sejarah dengan menghadirkan gelar Liga Eropa pertama bagi The Red Devils, namun untuk itu mereka harus menaklukkan Ajax di final yang digelar di Stockholm pada Kamis (25/5) dini hari WIB mendatang.