Goal Retro: Drama Scudetto Melayang Il Biscione

Serie A Italia musim 2001/02 selalu dikenang sebagai salah satu musim paling kompetitif dan dramatis dalam sejarah sepakbola Negeri Pizza.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR       Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Satu kemenangan lagi dan Juventus akan raih Scudetto keenam beruntun, dalam Derby della Mole akhir pekan ini. Si Nyonya Tua terlampau adidaya di Serie A Italia, sehingga banyak pihak menilai eks liga terbaik di dunia itu sudah jauh dari kata kompetitif.

Jika memang tak ada keajaiban dalam skala besar, sepanjang sejarah baru sekali ini ada klub yang raih Scudetto untuk kali keenam secara beruntun. Tampak luar biasa untuk Juve, tapi sejatinya tidak untuk Serie A yang jadi makin mudah ditebak.

Jauh berbeda jika kita memutar waktu ke belakang, di momen-momen akhir kejayaan Serie A  tepatnya pada 5 Mei 2002. Kala itu di giornata pamungkas musim 2001/02, Juve diselimuti atmosfer ketidakpastian akan gelar Scudetto pertamanya dalam empat musim terakhir.

Satu kisah dramatis yang sejatinya lebih menyoroti rival abadi Juve, Inter. Kisah yang La Gazzetta dello Sport populerkan lewat judul “Drama Scudetto Melayang Il Biscione“.

SIMAK JUGA: Goal Retro – Deportivo La Coruna, Musim Fenomenal & Riwayatmu Kini

Meski AS Roma merupakan juara bertahan Serie A, bursa turhan lebih menjagokan Inter untuk jadi kampiun di musim 2001/02. Tak mengejutkan karena meski sudah absen juara selama 13 tahun, I Nerazzurri mempersiapkan timnya dengan begitu baik untuk musim tersebut.

Belajar dari kegagalan finish di tiga besar selama tiga musim sebelumnya, Inter melalui pemilik legendarisnya, Massimo Moratti, melancarkan manuver transfer untuk merevolusi skuatnya. Pertama adalah mendatangkan pelatih yang bawa Valencia ke final Liga Champions dua kali beruntun, Hector Cuper.

Bintang-bintang besar Serie A pada momen itu, Francesco Toldo, Sergio Conceicao, Marco Materazzi, hingga Cristiano Zanetti diboyong. Belum lagi para youngster muda macam Emre Belozoglu, Gonzalo Sorondo, Mohammed Kallon, dan si bocah ajaib Adriano Leite.

Mereka semua dipadukan dengan sederet penggawa lawas bintang lima, layaknya Ivan Cordoba, Clarence Seedorf, Luigi Di Biagio, Alvaro Recoba, Christian Vieri, dan sang Il Fenomeno, Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Anda bisa bayangkan seperti apa kekuatan Inter saat itu.

SIMAK JUGA: Goal Retro – Debut Napoli Di Piala Champions

Segalanya berlangsung mulus untuk Inter sejak giornata perdana kala membantai Perugia 4-1 di Giuseppe Meazza. Meski akhirnya gagal jadi Campione d’Inverno, La Beneamata mengakhiri paruh musim di posisi ketiga dengan cuma berselisih satu poin dari Roma di puncak klasemen.

Performa Inter di paruh kedua kompetisi kemudian makin terengginas. Salah satu faktor utama tentu saja kembalinya Ronaldo, yang sebelumnya absen selama setahun lebih. Sang legenda asal Brasil mencetak tujuh gol hanya dari sepuluh giornata yang dimainkannya.

Duetnya dengan Christian “Bobo” Vieri yang dijuluki “Robo” (Ronaldo – Bobo), begitu dinantikan dan begitu mematikan. Apalagi saat itu Vieri mampu tampil tajam dengan torehan 22 gol Serie A. Total keduanya menghasilkan 29 gol, satu statistik menjulang di sepakbola pada era tersebut.

Namun siapa sangka jika kegemilangan Inter mampu disaingi dua kompetitor kuatnya, yakni Juve dan Roma. Sehingga terjatuh sedikit saja, potensi gelar pasukan Cuper jadi makin mengecil.

Benar saja, cuma dua kali menang di empat giornata jelang duel pamungkas Serie A, Inter yang ada di puncak klasemen selama sebilan pekan lamanya jadi hanya berselisih satu poin dengan Juve dan dua poin dengan Roma. Artinya Ronaldo cs bakal kehilangan Scudetto yang sudah di depan mata, jika sampai kalah di giornata terakhir. 

SIMAK JUGA: Goal Retro – Senja Karier Gabriel Batistuta

Parahnya lawan yang bakal dihadapi adalah Lazio, yang saat itu masih dianggap sebagai tim elite tak hanya di Italia tapi juga Eropa. Rekor Inter hadapi I Biancocelesti juga buruk, karena tak pernah menang dalam 11 pertemuan terakhirnya di Serie A! Segalanya semakin suram lantaran duel dimainkan tandang, di Olimpico Roma.

Tak ingin kehilangan Scudetto yang terakhir dirasakan 13 tahun silam, Inter sebagai tamu mampu menguasai penuh jalannya pertandingan. Mereka lantas raih keunggulan cepat di menit 12 melalui Vieri, memanfaatkan blunder Angelo Peruzzi.

Sempat disamakan 1-1 oleh tembakan first-time Karel Poborsky di menit 20, Inter kembali unggul 2-1 berkat gol tandukan Di Biagio empat menit berselang. Namun lagi-lagi Poborosky membuat tim tamu ketar-ketir akan kesempatannya amankan Scudetto, ketika gol keduanya di pengujung babak pertama menyetarakan kedudukan jadi 2-2.

Memasuki paruh kedua, Inter kolaps. Serangan bertubi yang mereka lancarkan, tak dibarengi dengan keseimbangan di lini pertahanan. Tak heran bila Lazio berhasil mencuri gol kesemuanya lewat tandukan, dari Diego Simeone dan Simone Inzaghi. Khusus Simeone, dia enggan merayakan gol-nya karena pernah besar bersama Tim Biru Hitam.

SIMAK JUGA: Goal Retro – Gol Derby Perdana Francesco Totti

Memasuki menit ke-80 pertandingan dengan tertinggal 4-2, para penggawa Inter mulai menangis. Pemandangan paling diingat tentu saja Ronaldo yang menangis tertunduk sembari menutupi mukanya, disertai tetes air mata yang deras.

Mereka tahu gelar Scudetto sudah melayang, karena di tempat lain Juve unggul 2-0 atas Udinese juga Roma yang kangkangi Torino 1-0. Skor tersebut pada akhirnya bertahan hingga laga usai, Juve pun keluar sebagai kampiun, diikuti Roma di pos runner-up, sementara Inter secara ironis terlempar ke peringkat tiga.

“Sungguh sebuah pemandangan ruang ganti yang tak bisa saya lupakan. Sebuah tragedi, ironi, bahwa Scudetto sudah sangat dekat, tapi melayang begitu saja. Semua tim menangis sejadinya di Olimpico, pun ketika kami pulang ke Milan. Memori yang sangat buruk,” kisah Vieri di Sky Sport Italia.

La Gazzetta dello Sport menggambarkan drama itu dengan simbol kedua tim, yakni elang untuk Lazio dan ular untuk Inter. Selayaknya rantai makanan, elang merupakan konsumen tingkat tiga yang memangsa ular sebagai konsumen tingkat dua. Elang membuat ular melayang dan dalam kisah ini Tim Elang membuat Scudetto Tim Ular melayang.

Sulit membayangkan kapan drama macam itu bisa hadir kembali di Serie A, seturut Juve yang semakin kuat meninggalkan para pesaing lokalnya. Namun optimisme patut dimunculkan, seturut akusisi duo Milan oleh konsorsium Tiongkok dan manajemen klub-klub di Serie A yang semakin membaik. Tak ada garansi kembalinya kejayaan memang, tapi roda selalu berputar dan kita layak menantikannya.