Goal Retro: Awal Generasi Baru Ajax Amsterdam

Keberhasilan di Piala UEFA 1992 menjadi modal kepercayaan diri Ajax Amsterdam untuk meraih sukses yang lebih besar.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Rabu (24/5) esok, Ajax Amsterdam menjalani final Liga Europa musim 2016/17 bertepatan dengan 22 tahun setelah kali terakhir keberhasilan mereka menjuarai Liga Champions.

Namun, dengan cepat fakta itu menutupi fakta lain bahwa jalan sukses Ajax merebut gelar Liga Champions keempat dimulai sejak tiga tahun sebelumnya. Musim 1991/92, Ajax berhasil menjuarai Piala UEFA setelah berhasil mengatasi persaingan dengan Torino dalam dua leg laga final. Keberhasilan itu merupakan titik awal generasi emas baru Ajax.

Musim 1991/92 adalah musim pertama Louis van Gaal menjabat sebagai pelatih Ajax. Dia mendapat promosi setelah Leo Beenhakker memutuskan kembali bergabung ke Real Madrid. Tugas itu sudah lama ditunggu Van Gaal sejak menjadi pelatih tim junior Ajax.

SIMAK JUGA: Ajax Siap Manfaatkan Situasi Manchester United

Van Gaal menerapkan taktik dengan disiplin tinggi. Berbeda dengan metode Johan Cruyff yang memerhatikan dan memaksimalkan kinerja pemain bintang, Van Gaal tidak pernah memandang status bintang. Kinerja pemain dinilai dari kontribusinya terhadap tim dan kepatuhannya terhadap sistem yang diterapkan.

Dalam dua bulan pertama kepelatihan Van Gaal, Ajax menderita kekalahan dari PSV Eindhoven, FC Utrecht, dan Feyenoord Rotterdam serta ditahan imbang FC Den Haag. Publik mulai tidak puas, mereka meneriakkan nama Johan Cruyff saat Ajax bertanding.

Guncangan krisis internal juga menerpa Van Gaal. Jan Wouters, pemain pujaan fans, dipinggirkan hingga akhirnya hijrah ke Bayern Munich, akhir 1991. Van Gaal lebih memilih gelandang muda bernama Wim Jonk untuk posisi yang semula ditempati Wouters.

Perubahan krusial lain yang dilakukan Van Gaal adalah posisi bermain Dennis Bergkamp. Pada era kepelatihan Cruyff hingga Beenhakker, Bergkamp lebih sering dimainkan di posisi sayap kanan. Penyerang tengah ditempati pemain asal Swedia, Stefan Pettersson.

Di bawah Van Gaal, Bergkamp dimainkan sebagai shadowspits. Penyerang bayangan. Taktik itu moncer. Visi bermain Bergkamp lebih terasah, sang pemain pun menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Musim 1991/92, Bergkamp total melesakkan 29 gol dalam 43 pertandingan di semua ajang.

Van Gaal tidak berhasil mempersembahkan gelar juara Eredivisie pada musim debutnya. Ajax kalah bersaing dari PSV, yang tampil lebih pragmatis dengan membangun tim di sekeliling Romario. Namun, Van Gaal mampu memetik sukses di ajang Piala UEFA.

SIMAK JUGA – Jose Mourinho: Ajax Seharusnya Tidak Berada Di Liga Europa

Kompetisi menerapkan sistem gugur sejak putaran pertama. Musim itu, Piala UEFA juga diikuti antara lain oleh juara bertahan Internazionale, Bayern, Liverpool, dan Real Madrid. Ajax melalui dua putaran awal dengan kemenangan mutlak atas Orebro dan Rot-Weiss Erfurt.

Di babak 16 besar dan perempat-final, Ajax melewati hadangan Osasuna dan Gent. Babak berikutnya, Ajax menghadapi tantangan Genoa, yang sukses mengungguli Liverpool. Ajax mampu meraih kemenangan 3-2 di kandang Genoa pada leg pertama. Pertandingan itu hingga kini dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik Ajax di Eropa.

Pada leg kedua, Genoa mencuri keunggulan di babak pertama berkat gol Maurizio Iorio. Publik Amsterdam kembali tenang setelah di awal babak kedua Bergkamp mampu mencetak gol balasan. Ajax lolos ke final menghadapi Torino, yang mampu menyingkirkan Madrid.

“Kemunculan generasi baru sudah dapat dirasakan. Van Gaal membuat kami lebih tajam dan ambisius,” ungkap Bergkamp dalam biografinya, Stillness and Speed.

“Louis berulang kali mengatakan, ‘Kalau semua pemain menjalankan apa yang sudah disepakati dalam tim, sukses akan datang’.”

Leg pertama final dimainkan di Stadion Delle Alpi, Turin. Jonk membuka keunggulan melalui tendangan jarak jauh nan dahsyat pada menit ke-14. Torino membalas melalui gol Walter Casagrande, tapi eksekusi penalti Pettersson mengembalikan keunggulan Ajax. Tuan rumah selamat dari kekalahan berkat gol kedua Casagrande, enam menit sebelum akhir waktu normal.

Meski mengantungi keunggulan gol tandang, Ajax tampil gugup pada leg kedua di Stadion Olimpiade Amsterdam. Apalagi Bergkamp tidak bisa dimainkan karena menderita flu berat. Torino, dilatih Emiliano Mondonico, lebih banyak mendapat peluang mencetak gol, tapi tiga kali upaya mereka membentur mistar atau tiang gawang.

Skor 0-0 bertahan hingga wasit Zoran Petrovic asal Yugoslavia menyudahi pertandingan. Kedudukan itu sudah cukup bagi Ajax untuk mengangkat trofi Piala UEFA. De Godenzonen pun menjadi tim kedua setelah Juventus yang mampu melengkapi tiga trofi kompetisi antarklub Eropa: Piala Champions, Piala Winners, dan Piala UEFA.

SIMAK JUGA: Zlatan Ibrahimovic Siap Turun Di Final Liga Europa

Sukses itu mengembalikan reputasi Ajax di arena antarklub Eropa. Sukses itu juga mendongkrak nilai jual para pemainnya. John van’t Schip, Aron Winter, dan Bryan Roy hijrah musim panas 1992 ke klub-klub Serie A Italia; menyusul setahun berselang Bergkamp, Jonk, dan Marciano Vink.

Van Gaal tidak ambil pusing. Sukses pada musim debut dengan merebut Piala UEFA 1991/92 meneguhkan kepercayaan diri Van Gaal bahwa metode yang diterapkannya bisa mendatangkan sukses. Berbekal pengalaman sebagai pelatih tim junior Ajax, Van Gaal percaya diri dengan materi pemain muda yang dimilikinya. Mulai dari Edwin van der Sar, Michael Reiziger, Frank dan Ronald de Boer, Edgar Davids, Clarence Seedorf, Finidi George, Marc Overmars, Jari Litmanen, Nwankwo Kanu, hingga Patrick Kluivert.

Van Gaal kemudian memulangkan Frank Rijkaard dari AC Milan sebagai transfer kunci pada musim panas 1993 dan sisanya adalah sejarah.

Susunan pemain leg pertama final:

Torino Luca Marchegiani; Pasquale Bruno, Roberto Cravero / Giorgio Bresciani (80′), Enrico Annoni, Silvano Benedetti; Roberto Mussi / Gianluca Sordo (83′), Gianluigi Lentini, Rafael Vazquez, Giorgio Venturin, Enzo Scifo; Walter Casagrande.

Ajax Stanley Menzo; Danny Blind, Frank de Boer, Sonny Silooy; Wim Jonk, Aron Winter, Michel Kreek, Dennis Bergkamp; Stefan Pettersson, Bryan Roy / Alfons Groenendijk (82′), John van’t Schip.

Susunan pemain leg kedua final:

Ajax Stanley Menzo; Danny Blind, Frank de Boer, Sonny Silooy; Wim Jonk, Aron Winter, Michel Kreek / Marciano Vink (80′), Rob Alflen; Stefan Pettersson, Bryan Roy / Alfons Groenendijk (65′), John van’t Schip.

Torino Luca Marchegiani; Roberto Mussi, Roberto Cravero / Gianluca Sordo (58′), Luca Fusi, Silvano Benedetto; Roberto Policano, Gianluigi Lentini, Rafael Vazquez, Giorgio Venturin, Enzo Scifo / Giorgio Bresciani (62′); Walter Casagrande.