Apa yang Terjadi Kepada Pemain Masa Depan MU yang Dulu Lebih Hebat dari Pogba?

Gary Neville memilih waktu yang tepat untuk belajar tampil di televisi. Saat ia masih menjadi pemain, bek kanan ini menjadi komentator di MUTV pada musim 2010/11, di lapangan Moss Lane-nya Altrincham ataupun di Old Trafford untuk menyaksikan pertandingan tim muda dan tim pelapis. Tim junior Manchester United, dengan Paul Pogba dan Jesse Lingard, menjadi bintang pada saat itu, dengan satu orang pemain lain yang sangat menonjol.

“Kemampuan Ravel Morisson bisa dibilang sebagai sebuah skandal tersendiri,” ucap Neville. “Ia bermain di lini tengah bertiga dengan Pogba dan Ryan Tunnicliffe. Mereka semua luar biasa, namun Ravel pada dasarnya adalah pemain yang bisa mengubah arah pertandingan. Ia memiliki talenta yang sulit dipercaya, semacam Paul Gascoigne yang bisa melewati semua lawan dan menciptakan gol-gol hebat. Hanya ada sedikit pemain tengah yang bisa melewati lawan dengan baik –Ravel bisa melakukannya tanpa susah payah.”

 

Ravel Morrison

Neville sangatlah terkesan dengan Morrison pada awal-awal karier pemain ini

Legenda lini tengah United, Paddy Crerand bahkan siap untuk memberikan pendapat yang lebih jauh lagi dibandingkan Neville saat menilai potensi yang dimiliki Morrison. “Ravel adalah pemain muda terbaik yang pernah saya lihat setelah George Best,” ucapnya. Ini didasarkan dari melihat nyaris setiap pertandingan yang dimainkan Morrison untuk tim muda United dan tim cadangan mereka saat bekerja untuk MUTV. “Bahkan saat berada satu tim dengan Pogba, Ravel tetap menonjol. Ia cepat dan memiliki otak sepakbola yang cerdas –ia punya segalanya yang harus dimiliki seorang bintang besar.”

Paul McGuinness bekerja lama dengan Morrison saat ia menjadi pelatih tim muda United, posisi yang ia jalani selama 23 tahun hingga 2016. “Ravel punya kualitas yang dimiliki para pemain terbaik –pengaturan waktu,” ucapnya . “Ia punya kemampuan untuk menguasai bola hingga waktu yang sangat tepat untuk melepaskan umpan melewati lini belakang lawan, atau untuk menarik beberapa lawan ke depanya dan kemudian melewati mereka.”

Bayang-Bayang Pogba

Tim Manchester muda ini menang agregat 6-3 dan Morrison tampil luar biasa, meciptakan dua gol dalam kemenangan 4-1 pada leg kedua di Old Trafford.

Setelah perjalanan Piala FA Junior yang berat di musim 2010/11 -mereka harus melewati beberapa tim besar, termasuk Liverpool dan Chelsea- United bertemu dengan Sheffield United di Final yang berjalan dua leg. Tim Manchester muda ini menang agregat 6-3 dan Morrison tampil luar biasa, meciptakan dua gol dalam kemenangan 4-1 pada leg kedua di Old Trafford. Ini artinya gelar Piala FA Junior ke-10 bagi United, dengan Tunnicliffe, Lingard, Pogba, dan Morrison semuanya berfoto bersama trofi ini. Mereka pun mulai menarik perhatian.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/UciWzba7GT0?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for Apa yang Terjadi Kepada Pemain Masa Depan Manchester United
yang Dulu Lebih Hebat dari Pogba?

“Ravel Morrison lebih muda dari saya, tapi ia dibawa untuk berlatih dengan kami,” ucap pemain belakang Blackburn Rovers, Corry Evans, yang ketika itu masih bermain untuk United. “Anda bisa melihat kemampuan yang ia miliki –ia tampak seperti tanpa kesulitan melewati lawan dan bisa menembak dan menciptakan gol dengan kedua kaki.”

Pogba dan Morrison adalah dua nama yang pertama kali diberikan kesempatan bermain di tim utama, dengan nama yang disebut terakhir menjadi cameo di kemenangan atas Wolves di babak keempat Piala Liga 2010, namun tidak ada satupun yang menciptakan sesuatu yang krusial untuk menembus tim utama. Keduanya berakhir di Italia. Pogba kemudian menjadi pemain yang paling diburu di Dunia. Morrison tidak sama sekali.

Lahir di Wythenshawe pada bulan Februari 1993, Morrison tumbuh di daerah kaum pekerja kelas atas atau kaum menengah kelas bawah di Manchester Barat, di antara Old Trafford dan lapangan latihan mereka di Carrington. United menemukan Morrison saat bermain untuk Fletcher Moss Rangers, yang memiliki beberapa talenta asli Manchester yang bagus. Namun sayangnya, seiring dengan perkembangan Morrison di Setan Merah, sifat dan pengaruh dari luar lapangan yang ia dapatkan mulai menjadi masalah.

United merasa mereka sudah melakukan segala yang mereka bisa dengan memberikannya kesempatan demi kesempatan. Mereka mendukung dirinya bahkan saat ia terbukti bersalah mengancam seorang saksi dengan pisau, yang akhirnya berhasil ia lewati hanya dengan masa percobaan 12 bulan dan membayar ‎£2,000 sebagai kompensasi. Dan mereka juga mendukungnya saat ia mengakui melakukan kerusakan yang cukup parah, setelah melemparkan telpon pacarnya dari jendela kamar orang tua gadis tersebut. Morrison dimasukan ke kelompok anak muda pelaku kejahatan di Salford untuk menjalani perawatan psikologis soal kekerasan rumah tangga, dan kemudian juga harus kembali membayar denda.

 

Ravel Morrison

Pengaruh lingkungan luar sangatlah mempengaruhi kariernya

Pemain Muda Terbaik yang Dimiliki oleh Sir Alex

Pihak lain di Old Trafford menegaskan bahwa jika talenta yang dimiliki Morrison 10 persen lebih sedikit dari ini, maka kelakuannya akan membuatnya dibuang dari sepakbola pada usia 16 tahun.

United sudah menunjukkan ketertarikan yang jelas pada dirinya. Alex Ferguson sudah menegaskan kepada para pemain senior bahwa Morrison adalah talenta terbesar yang pernah ia lihat untuk seorang pemain berusia 14 tahun. Lebih baik dari Paul Scholes. Lebih baik dari Ryan Giggs. Pihak lain di Old Trafford menegaskan bahwa jika talenta yang dimiliki Morrison 10 persen lebih sedikit dari ini, maka kelakuannya akan membuatnya dibuang dari sepakbola pada usia 16 tahun.

Tapi Ferguson tetap ngotot. Ia bahkan memindahkan sang pemain ke ruang ganti tim utama, tapi para pemain senior dengan cepat merasa muak dengan pemain muda penuh tingkah ini. Bagaimana bisa pemain yang begitu berbakat, pikir mereka, bisa terus menerus melakukan kesalahan? Mengapa ia selalu berada di tempat yang salah di waktu yang salah dengan kumpulan orang yang salah?

Mereka semua sudah memberikan pengorbanan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemain profesional dan mereka pun berhasil menyentuh titik tertinggi. Hasil yang didapat ada di depan mata Morrison untuk ia lihat setiap hari –status, rasa hormat, dan kekayaan yang berlimpah. Mereka semua tentu saja menjadi semakin frustasi melihat seseorang dengan talenta alami yang sangat besar tampaknya akan membuang segalanya begitu saja.

Morrison seringkali digambarkan sebagai seorang preman yang bodoh, namun orang-orang yang mengenalnya dengan baik menegaskan bahwa ini tidak benar. Kecerdasan yang ia miliki jauh melebihi sekedar apa yang bisa ia lakukan di sepakbola, tapi segala yang terjadi di kehidupannya sama sekali tidak membantu.

Paul Scholes, Ryan Giggs

Morrison bahkan lebih baik dari Scholes dan Giggs pada usia yang sama

Orang-orang banyak yang menahan diri saat berbicara tentang Morrison. Ia berusia 24 tahun pada bulan Februari kemarin, namun karirnya masih hidup dan mereka tidak ingin merusak prospek masa depannya. Ia bukanlah seseorang membosankan yang duduk di kursi paling ujung di dalam sebuah bar dan bercerita tentang apa yang seharusnya bisa ia capai. Ia masih tetap seorang pemain profesional dan orang-orang yang mengenal dirinya berharap ia bisa menjalani karir yang sukses. Banyak di antaranya adalah orang asli Manchester, yang akan dengan senang hati menyaksikan dirinya memenuhi potensi yang ia miliki dan percaya ia hanya butuh satu kesempatan yang bagus.

“Ia sebenarnya seorang pria yang baik,” ucap Crerand, yang tumbuh di daerah keras Gorbals di Glasgow. “Pendiam dan penuh hormat. Terkadang saat Anda tumbuh bersama sekelompok anak lain, beberapa menjadi liar dan Anda tidak. Saat Anda menjadi seseorang yang mendapatkan lebih banyak uang, ini bisa menjadi masalah.”