#PrepareToInspire: Perjalanan Hijrah Pemain Sepakbola Dalam Meraih Sukses

Menjadi pesepakbola tidak semudah membalik telapak tangan, tidak jarang harus melalui perjalanan berliku. Simak kisah berikut dan #PrepareToInspire.

Menjadi pemain sepakbola adalah impian hampir semua fans sejak usia anak-anak. Selain menyalurkan hobi, berkarier sebagai pesepakbola profesional juga bisa mendatangkan popularitas, prestise, hingga pemasukan yang tidak sedikit.

Tapi, meniti karier sebagai pengolah si kulit bulat tentu tidak semudah telapak tangan. Tidak jarang pemain-pemain yang dikenal saat ini harus lebih dulu melalui perjalanan tidak hanya panjang, tapi juga sangat sulit.

Salah satu yang mesti melewati kisah pahit adalah Mamadou Coulibaly, pemain yang kini memperkuat klub Serie A Italia, Pescara. Orang tuanya sempat mengira dia sudah meninggal. Alkisah, begitulah awal perjalanan Coulibaly ketika memutuskan hijrah dari Senegal untuk kemudian kini bermain di Serie A, dua tahun yang lalu.

Mamadou Coulibaly Empoli Pescara Serie A 08042017

Remaja 18 tahun ini meninggalkan tanah kelahiran demi mewujudkan cita-cita menjadi pesepakbola profesional. Ironisnya, dia pergi tanpa membekali diri dengan perlengkapan alias bak seorang backpacker.

Coulibaly sejatinya terlahir bukan dari keluarga miskin. Akan tetapi, kedua orang tuanya tak menghendaki anaknya merambah karier di bidang sepakbola. Terutama sang ayah, paling ingin melihat anaknya sukes di kancah akademisi, sebab keluarganya berlatar belakang sebagai guru dan dosen.

Setelah tinggal bersama bibinya di Marseille beberapa saat, batu loncatan dia untuk sampai ke Pescara adalah ketika dia memulai hidup di Livorno. Satu ketika, tim pemandu bakat klub Serie B Italia itu melihat Coulibaly bermain bola di pantai. Sayang, saat Livorno hendak merekrutnya, Coulibaly tidak memiliki dokumen apa pun. Dia pun memutuskan pindah ke ibu kota, Roma.

Kegetiran kembali menghiasi perjalanannya, di mana dia harus tidur di jalanan. Hingga suatu ketika dia diberitahu jika di Pescara banyak imigran Senegal. Malangnya, saat mencoba bertolak ke sana, dia tersasar dan terdampar di Roseto. Selama tiga hari, Coulibaly tidur di lapangan olahraga sebelum polisi menemukannya untuk lantas dibawa ke rumah penampungan di Montepagano. Singkat cerita, selama tinggal di situ, dia mendapatkan dokumen yang dibutuhkan dan dia pun diberi kesempatan untuk melakoni trial di Pescara.

Dasarnya bertalenta, Coulibaly tak perlu waktu panjang untuk mencuri perhatian staf kepelatihan di tim utama. Setelah main dua kali bersama tim muda Pescara, dia membuat debut senior di 20 menit terakhir ketika klub bentrok dengan Atalanta, 19 Maret lalu. Puncaknya, dia tampil sebagai starter menghadapi tim kelas dunia, AC Milan, dan menjadi salah satu penampil terbaik di lapangan — hanya setelah melalui laga kompetitif keempat, termasuk sejak masih berada di Senegal.

Belajar dari pengalamannya, pemain yang ngefans Manchester United ini mempelajari beragam pergerakan dalam sepakbola. Banyak yang kemudian membanding-bandingkan dia dengan superstar Prancis Paul Pogba. Tapi, Coulibaly tetaplah Coulibaly, bocah pemalu yang akan selalu sadar derajat.

Victor Moses Chelsea 15102016

Pengalaman penggawa Victor Moses juga tidak kalah miris. Mungkin tak banyak yang mengetahui perjalanan penggawa Chelsea ini meraih kesuksesan dalam karier sepakbolanya di masa kini diwarnai dengan kegetiran.

Betapa tidak, di usia 11 tahun, dia sudah ditinggal kedua orang tuanya, yang tewas dibunuh. Di umurnya yang relatif bocah, dia ditolong temannya untuk melakukan perjalanan ke Inggris sebagai pencari suaka. Sebagai anak yang tumbuh di Nigeria, “terpaksa” hijrah ke negeri sebrang dengan kondisi tanpa kedua orang tua bukanlah satu kondisi yang diinginkan remaja mana pun.

Pria yang lahir di Lagos 26 tahun silam ini lalu bergabung dengan Stanley Technical High School [lebih dikenal dengan nama Harris Academy] di South Norwood. Di sana, dia dibina untuk bermain sepakbola bagi Cosmos 90 FC di kompetisi lokal, Tandridge League. Crystal Palace, yang berdekatan dengan sekolahnya, diam-diam mengamatinya.

Ditawari masuk ke akademi The Eagles, mereka lalu merekomendasikan Moses untuk ditempa di Whitgift School di Croydon, di mana mantan bintang Arsenal dan Chelsea Colin Pates menjadi pelatih tim sekolah sepakbola. Bersinar di Wigan Athletic, Moses kemudian direkrut Chelsea.

“Tentu saja, di mana pun mereka [kedua orang tuanya] berada sekarang ini, mereka akan bangga pada saya,” ujar pemain yang menguasai seluruh posisi sayap itu.

“Sungguh itu merupakan perjalanan panjang [dari Nigeria] dan saya hanya ingin terus kuat dan bekerja keras, apakah itu dalam hal sepakbola atau bukan. Saya bersyukur pada Tuhan atas apa yang saya raih sekarang ini. Seperti mimpi yang jadi kenyataan.”

Hijrah Moses dari Nigeria ke Inggris setidaknya menghapus duka di masa kanak-kanaknya, yang harus tumbuh tanpa perhatian dan kasih-sayang kedua orang tuanya. Setelah tiga periode menjalani peminjaman, dia kembali ke Stamford Bridge dan menjadi bagian integral dari skuat polesan manajer anyar, Antonio Conte.

Bagaimana pun momen pahit yang dilalui Moses di masa remajanya, pemain yang pernah mengantar Nigeria kampiun Piala Afrika 2013 dan tampil di Piala Dunia 2014 ini merupakan representasi kesuksesan seorang pengungsi menjadi jawara.

Pesepakbola lainnya yang pantas dikategorikan sebagai figur inspirasional lain adalah Mahmoud Dahoud, talenta Borussia Monchengladbach yang musim depan akan resmi berkostum Borussia Dortmund.

Mahmoud Dahoud Borussia Monchengladbach

Lahir di Amuda, sebuah kota dengan mayoritas kaum Kurdi, dekat perbatasan Turki, Dahoud saat bayi sudah harus menjalani perjalanan panjang untuk pindah ke Jerman. Orang tuanya memutuskan untuk meninggalkan Suriah, keluar dari polemik negara yang dikuasai rezim Assad, pada 1996, demi menata kembali kehidupan yang layak di Negeri Hitler itu.

Konflik di Suriah kala itu — bahkan masih berlangsung sampai hari ini — menjadi perhatian dunia. Dahoud sendiri memilih tutup mulut ketika ditanya tentang politik di negaranya. Dia lebih berkonsentrasi terhadap sepakbola sejak kanak-kanak, apalagi sarana dan prasarana di Jerman sangat mendukung untuk mengembangkan bakat sepakbola.

“Dia punya bakat alami dan seorang pelari yang pantang menyerah. Permainannya lebih efisien, tapi juga belajar bagaimana untuk tak selalu berlari setiap kali tampil. Itu akan datang seiring dengan pengalaman,” puji Andrea Schubert, mantan pelatih Gladbach yang pernah menangani Dahoud.

Diberkahi skill yang mumpuni, punya umpan jauh yang aduhai, memiliki etos kerja yang luar biasa, membuat Dahoud terus bertransformasi menjadi salah satu gelandang muda terbaik Eropa. Tak heran bila Dortmund buru-buru mengamankan jasa pemain 21 tahun itu sebelum bursa transfer musim panas nanti digelar.

Itulah tiga di antara sekian banyak pemain yang harus menempuh perjalanan panjang sebelum memetik hasilnya di dunia sepakbola. Mereka adalah sosok #PrepareToInspire yang mampu mengubah kesulitan menjadi keuntungan dengan kerja keras, kepercayaan, dan konsistensi. Perjalanan mereka menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk meraih sukses, baik dalam pekerjaan maupun cita-cita yang hendak mereka kejar.

Apakah Anda juga memiliki kisah meraih mimpi yang penuh lika-liku? Lalu bagaimana persiapan Anda untuk mewujudkan mimpi tersebut dan menjadi inspirasi banyak orang? Ceritakan kepada NIVEA MEN dan jadilah ikon #PrepareToInspire!