Perpisahan Tepat Waktu John Terry

Musim depan, Chelsea dipastikan tidak akan sama lagi seperti di musim-musim sebelumnya karena kapten, pemimpin, dan legenda klub mereka akan pergi.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


“Ini adalah keputusan terberat dalam hidup saya, tetapi saya sudah mempertimbangkan kepergian ini dengan kondisi, cara, dan waktu yang tepat – yaitu sekarang.”

Demikian John Terry membuka salam perpisahannya, Rabu (19/4), setelah mengonfirmasi akan meninggalkan Chelsea di penghujung musim 2016/17.

Terry, 36 tahun, telah memantapkan niat untuk menyudahi karier panjangnya di Stamford Bridge, yang dimulai dari masuk tim akademi pada 1995, menembus tim utama pada 1998, hingga menjadi bagian penting dari revolusi klub di bawah rezim Roman Abramovich.

Frank Lampard, John Terry, Roman AbramovichTerry jadi tonggak kesuksesan Chelsea di era Abramovich.

Keputusan ini terbilang tidak mengejutkan, mengingat tenaga Terry sudah tidak terlalu dibutuhkan oleh Antonio Conte. Ini jelas terlihat beberapa hari sebelum pengumuman itu, ketika Chelsea dibekap Manchester United 2-0, Minggu (16/4).

Seperti biasa, Terry duduk di bangku cadangan dan menyaksikan David Luiz, Gary Cahill, dan Cesar Azpilicueta beraksi di jantung pertahanan. Berhubung Marcos Alonso cedera maka Azpilicueta digeser ke posisi wing-back kiri. Conte kemudian memilih Kurt Zouma untuk mengisi satu slot bek sentral tersebut. Sementara Terry masih duduk di bench.

Seandainya Cahill cedera, barangkali Terry masih belum kebagian tempat karena sang manajer mungkin akan lebih memilih Nathan Ake yang lebih muda dan segar. Sistem tiga bek memang tidak cocok untuk Terry. Ia butuh perlindungan dari full-back sebagaimana yang biasa dilakoninya selama bertahun-tahun dalam formasi empat bek.

SIMAK JUGA: Salam Perpisahan Emosional Terry

Penampilan starter terakhirnya di Liga Primer Inggris terjadi pada 11 September kontra Swansea City. Bulan berikutnya, Conte sudah menerapkan back three sepenuhnya sampai sekarang. Tanpa Terry di belakang, Chelsea terlihat baik-baik saja. Semua itu menjadi pertanda bahwa petualangan panjang Terry bersama The Blues segera mencapai garis finis.

Chelsea telah berevolusi dan ketersingkiran Terry ini adalah sesuatu yang wajar. Tapi Terry merasa masih sanggup bermain reguler, meski usia sudah uzur. Perpisahan pun menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. “Ini adalah waktu yang tepat untuk mencari tantangan baru,” katanya.

GFXID Terry Vaseline

“Captain, Leader, Legend,” demikian tulisan dari sebuah spanduk di Stamford Bridge, yang mengasosiasikan pada Terry. Kata-kata itu memang tidak berlebihan. Selama dua dekade terakhir, Terry membuktikan diri sebagai bek dan kapten terbaik yang pernah dimiliki Chelsea. Terry juga layak disebut sebagai salah satu bek terbaik di era Liga Primer Inggris.

Frank Lampard, partnernya di klub yang pada Februari lalu telah gantung sepatu, melontarkan pujian tinggi, “Pemain terakhir dari era luar biasa Chelsea. Sungguh menyenangkan bisa bermain bersama bek terbaik dalam sejarah Liga Primer. Dia selalu dan akan menjadi legenda klub, bukan cuma karena talentanya, namun juga tekadnya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dari dirinya dan pemain lain.”

SIMAK JUGA: Carra: Terry Masih Layak Main Di EPL

Tidak terhitung beberapa kali Terry melakukan aksi heroik untuk menyelamatkan gawang Chelsea dari kebobolan. Membuang badan di dalam kotak penalti untuk memblok bola menjadi aksi rutin yang ia pertontonkan di masa jayanya. Empat trofi Liga Primer Inggris mampu diangkatnya di mana ia hanya absen lima kali dari 152 laga dalam empat musim itu.

Kendati demikian, Terry juga tidak lepas dari kontroversi. Terlepas dari kiprah hebatnya sebagai seorang pemain top, Terry memang kerap diidentikkan dengan kelakuan bejatnya di dalam maupun di luar lapangan. Daftarnya ternyata cukup panjang.

Di antaranya berselingkuh dengan Vanessa Perroncel yang merupakan pacar dari rekan setimnya sendiri Wayne Bridge, terlibat kasus rasisme dengan Anton Ferdinand, menghantamkan lututnya kepada Alexis Sanchez di semi-final Liga Champions 2011/12 kontra Barcelona, menghina korban 9/11, dan beberapa kali berbuat onar di klub malam. Selain itu, Terry juga tergolong cengeng untuk seorang kapten.

Wayne Bridge John TerryTerry lekat dengan kontroversi.

Inilah yang membuat sebagian orang bersikap antipati kepada Terry, yang mungkin bisa mencoreng karier briliannya selama ini. Namun, pesona Terry masih layak mendapatkan tempat. Pada Januari lalu, hampir separuh klub Liga Primer dilaporkan berminat kepadanya. Ketertarikan pada Terry sepertinya akan terus bertambah jelang bursa transfer musim panas nanti.

Di musim depan, mungkin Terry bisa bernasib sama seperti Lampard yang harus rela melawan Chelsea dengan seragam tim lain. Tapi yang pasti, ia tidak akan dianggap sebagai Yudas. Bagi fans Chelsea, Terry akan selalu menjadi kapten, pemimpin, dan legenda tercinta mereka.

Mengangkat trofi Liga Primer Inggris untuk kelima kali di akhir musim ini tentu saja bakal menjadi epilog sempurna dari kisah Terry bersama seragam biru kebanggaannya.

 

Performa optimal di atas lapangan bisa membuat kusam wajah para pemain, tapi mereka tak perlu lagi cemas soal penampilan. Pasalnya ada Vaseline Men Active Bright Oil Expert Gel Wash yang mengandung Micro-Droplets of Vaseline Jelly yang dapat digunakan usai pertandingan untuk mengembalikan wajah tetap cerah dan #GantengMaksimal walau habis bercucuran keringat.