Hakim Garis Cantik yang Dipaksa Pensiun Karena Kecantikannya

Emansipasi. Itu pesan kunci yang selalu menjadi inti Hari Kartini yang jatuh hari ini, 21 April. Hari ini nyaris semua hal dikaitkan dengan perjuangan Kartini untuk persamaan hak dengan kaum pria.

Wanita, dalam beberapa hal, memang masih dilihat tidak setara. Apalagi jika berada di bidang yang didominasi oleh laki-laki. Tak semudah yang dibayangkan.

Fernando Colombo Uliana merasakan benar sulitnya dilihat secara obyektif sebagai seorang hakim garis. Sebagai wanita, dia justru sangat menonjol karena kecantikannya – bukan karena kemampuannya menjadi hakim garis.

Nama gadis kelahiran 24 April 1991 ini menjadi trending topic di twitter ketika foto-fotonya bertugas sebagai penjaga garis dalam sebuah laga resmi Copa do Brasil atau Piala Brazil menjadi viral. Saat itu, 8 Mei 2014, Sao Paulo menang 3-0 atas CRB.

Tapi, bukan hasil pertandingan yang diperbincangkan. Melainkan sesosok gadis cantik yang berlari-lari lincah membawa bendera di garis lapangan. Ya, dialah Fernando Colombo Uliana yang tercatat sebagai wasit di federasi sepakbola Santa Catarina, Brazil.

Seminggu kemudian pemegang gelar sarjana di bidang kesehatan olahraga ini semakin mendunia ketika menjalani debut di Serie A Liga Brazil sebagai hakim garis pertandingan klub elite, Cruzeiro versus Atletico Mineiro.

Sayang, debutnya berjalan buruk. Dia mengangkat bendera offside di menit-menit terakhir saat Cruzeiro mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Akibat keputusan salah itu, yang membuat Cruzeiro kalah 1-2, dia menjadi bulan-bulanan.

“Dia memang sangat cantik, tetapi jelas tidak siap untuk bertugas,” sindir Direktur Cruzeiro, Alexandre Mattos. “Pendukung tuan ruamah menekannya dengan teriakan, dan dia membuat keputusan yang salah. Jika dia merasa cantik tapi tidak siap bertugas, dia seharusnya tidak jadi hakim garis dan berpose untuk majalah Playboy saja.”

Diskriminatif!

Runyamnya, federasi sepakbola Brazil juga seperti mendukung hukuman sosial pada gadis yang menjadi pelari saat mahasiswa itu. Fernanda Colombo Uliana diistirahatkan sementara dengan alasan ‘sedang diberi pembekalan’.

Tahun 2015, Fernanda dipindahkan tempat tugas ke Pernambucana. Meski terpilih sebagai best assistant, dia kerap menjadi sasaran kritik. FIsik tidak prima dan kurang fokus adalah dua hal yang paling sering dipakai menyerang hakim garis p[emilik sertifikasi FIFA ini.

Tak tahan dengan situasi penuh diskriminasi, akhirnya Fernanda menyerah. Saat ini Fernanda memilih pensiun sebagai hakim garis dan menekuni profesi barunya di bidang lain.

“Saya tidak menyebutnya mundur atau pensiun,” kata si cantik Fernanda dalam wawancara dengan Globo.com awal tahun ini. “Tapi, saya lebih suka menyebutnya dengan ada perubahaan prioritas hidup. Saat ini menjadi hakim garis bukan lagi menjadi prioritas saya.”

Toh, kecintaan gadis berumur 27 tahun ini pada sepakbola tak bisa dihilangkan. Kini dia telah menyelesaiakan sebuah buku tentang peraturan sepakbola dan berencana mencari penerbit yang mau mempublikasikan karyanya.

“Saya sangat terganggu ketika orang mempertanyakan kemampuan saya karena mereka menganggap saya cantik. Saya masih tetap punya mimpi suatu hari nanti kembali menjadi hakim garis. Saya tak bisa lepas dari sepakbola dan banyak mendapat teman dari lapangan hijau.”

Emansipasi wanita ternyata tetap masih butuh diperjuangkan. Selamat Hari Kartini.