Goal Retro: Pertandingan Paling Sengit Derby Della Madonnina

Laga derby Milan pada Oktober 2006 menjadi salah satu yang tidak terlupakan dengan banyaknya gol, kartu dan juga atmosfer panas usai Calciopoli.


OLEH   TEGAR PARAMARTHA     Ikuti di twitter


Menentukan pertandingan paling sengit antara dua tim sepakbola tentu sangat tidak mudah, kedua tim yang berhadapan biasanya memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga preferensi setiap orang berbeda sesuai dengan aksi yang ia lihat, informasi yang ia dengar dan apa yang hits dalam lingkup sosialnya saat itu.

Terlebih lagi, yang dipilih adalah salah satu pertandingan derby terbesar dalam dunia sepakbola, yaitu derby della Madonnina, pertarungan klasik antara dua klub Milan yang tersaji sejak 1909 silam.

Oleh karena itu, penulis tidak mungkin memilih pertandingan sengit antara Inter dan AC Milan pada periode yang terlalu lampau karena tidak pernah merasakan atmosfer panas saat itu secara langsung, seperti saat tersaji 11 gol pada 1949 silam, di mana itu masih menjadi rekor gol terbanyak derby Milan hingga sekarang.

BERITA LENGKAP INTER MILAN

Bagaimanapun juga, dalam medio sekitar 30 tahun terakhir, tetap banyak pertandingan spesial antara Nerazzurri dan Rossoneri. Misal kemenangan telak Milan atas Inter dengan enam gol tanpa balas pada 2001, comeback gemilang Milan usai tertinggal dua gol pada 2004, kemenangan dramatis Inter berkat gol telat Adriano atau ketika Ibrahimovic – memperkuat Milan – saling balas gol dengan Milito pada 2012. 

Tetapi, penulis lebih condong pada duel yang digelar pada Oktober 2006, ketika Nerazzurri sukses memetik kemenangan atas rival sekotanya dengan skor ketat 4-3.

Milan vs Inter - 29/10/2006

Pertama, bukan hanya karena banyaknya gol yang tercipta oleh kedua tim atau bagaimana pertandingan berjalan dengan panas, sehingga wasit mengobral kartu kuning hingga kartu merah, namun pertandingan ini juga bisa disebut sebagai laga paling bergengsi di kasta tertinggi sepakbola Italia saat itu menyusul hukuman degradasi terhadap Juventus akibat skandal Calciopoli.

Kemudian, selain gengsi besar pertandingan, secara umum dalam sepakbola Italia, musim 2006/07 disebut-sebut sebagai salah satu tahun puncak kesuksesan sepakbola negeri Pizza dengan keberhasilan Azzurri mengangkat trofi Piala Dunia yang kemudian diikuti AC Milan menjadi juara Liga Champions.

Saat itu, Rossoneri tidak mengubah banyak skuat reguler, pelatih Carlo Ancelotti hanya mengeluarkan dana untuk memboyong Ricardo Oliveira, Yoann Gourcuff dan Daniele Bonera, sementara Giuseppe Favalli didatangkan gratis dari Inter. Pemain seperti Kaka, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, Cafu, Maldini, Nesta hingga Filippo Inzaghi masih menjadi andalan di tim.

Sementara Nerazzurri justru kebalikannya, Inter berusaha membangun sebuah era dengan menggaet dua bintang Juventus yang turun ke Serie B, Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira, kemudian merekrut Maicon, Fabio Grosso dan meminjam Hernan Crespo. Kedatangan bintang-bintang baru itu melengkapi skuat yang sudah dihuni Javier Zanetti, Dejan Stankovic, Luis Figo, Julio Cesar dan Marco Materazzi.

Pendekatan musim baru yang diambil kedua kubu tampak bertolak belakang, namun racikan Ancelotti dan Mancini sama-sama membuahkan hasil yang sangat manis di akhir musim, Inter sukses memuncaki klasemen akhir Serie A sementara Milan menjadi raja Eropa dengan menaklukkan Liverpool 2-1 seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

AC Milan Champions League 05232007

Jelang pertandingan derby pertama musim 06/07 ini, Milan dalam posisi yang tidak menguntungkan, meski semua pemain dalam kondisi bugar skuat Ancelotti dalam kondisi tertekan karena harus memulai liga dengan minus delapan angka akibat imbas skandal Calciopoli, selain itu mereka juga memiliki catatan negatif dengan hanya mencetak dua gol dalam lima laga Serie A terakhir, meski cukup diimbangi dengan catatan pertahanan terbaik dalam delapan pekan awal liga.

Di kubu Inter, Nerazzurri dalam tren lebih positif dengan melibas Livorno 4-1 pada laga sebelumnya dan tidak pernah kalah, mereka juga hanya kehilangan sosok Esteban Cambiasso yang mengalami cidera sejak pekan pertama ketika menghadapi Fiorentina, namun posisinya bisa digantikan oleh Vieira meski sempat diragukan tampil karena masalah di kaki.

Situasi menguntungkan Inter ternyata juga terlihat di atas lapangan, dengan Nerazzurri mampu mengontrol pertandingan. Pada babak pertama, Dejan Stankovic tampil gemilang dengan mengirim umpan silang yang membuahkan gol pembuka oleh Hernan Crespo pada menit ke-17, sebelum menjebol gawang Dida lima menit kemudian melalui tembakan keras yang menghujam sudut kiri atas.

BERITA LENGKAP AC MILAN

Milan tampak tidak bisa keluar dari tekanan sepanjang periode pertama, alhasil para pemain terpaksa bermain keras untuk menghentikan paksa dominasi lawan sehingga menerima tiga kartu kuning. Mengetahui hal tersebut, Ancelotti melakukan langkah ‘tidak biasa’ dengan menghabiskan seluruh jatah pergantian pemain saat jeda dengan memasukkan Oliveira, Alberto Gilardino dan Paolo Maldini menggantikan Massimo Ambrosini, Filippo Inzaghi dan Jankulovski.

Taktik frontal itu membuat pertandingan lebih terbuka, dua gol dalam lima menit usai jeda membuktikan hal tersebut. Zlatan Ibrahimovic – yang melakoni derby Milan pertamanya – memperlebar keunggulan Inter, sebelum Clarence Seedorf kembali memangkas ketertinggalan Rossoneri.

Dejan Stankovic Zlatan Ibrahimovic Inter Gennaro Gattuso Milan Serie A 03112007

Gol pemain asal Belanda itu seolah membangkitkan motivasi Milan untuk mengejar defisit, dan giliran pemain Inter yang dipaksa bermain lebih keras sehingga wasit mencabut kartu kuning untuk Olivier Dacourt dan Marco Materazzi. Gilardino bahkan sempat mencetak gol tetapi dianulir wasit karena sudah terjebak dalam posisi offside.

Momen krusial pertandingan ini terjadi pada menit ke-68, Materazzi sukses menyambut umpan silang Luis Figo untuk mempertebal keunggulan Inter, dan harusnya pertandingan ‘selesai’ di sana seandainya Matrix tidak berbuat hal yang tak perlu. Ia melakukan selebrasi dengan mengangkat bajunya ke kepala, sehingga wasit mengganjarnya dengan kartu kuning yang berarti ia harus keluar dari lapangan.

Unggul jumlah pemain, Milan dengan agresif memborbardir pertahanan Inter yang bertindak sebagai tim tamu dalam sisa waktu yang ada. Bahkan, laga semakin mendebarkan dengan Gilardino sukses menjebol gawang La Beneamata pada menit ke-75 setelah menerima umpan silang yang matang dari Cafu.

Pada 15 menit terakhir Julio Cesar menjadi pemain paling sibuk dengan melakukan beberapa penyelamatan gemilang menepis peluang Oliveira, Seedorf dan juga Kaka, sementara Ivan Cordoba juga membuat beberapa blok krusial untuk menjaga keunggulan dua gol Inter.

BERITA LENGKAP SERIE A ITALIA

Milan akhirnya kembali menjebol gawang yang dikawal Cesar pada menit injury time, Kaka menjadi pemberi angin segar bagi Rossoneri setelah tembakan chip-nya mengubah skor menjadi 4-3. Peluang terakhir tuan rumah didapat Oliveira memanfaatkan umpan silang Gattuso tapi sayang tandukan pemain Brasil itu melenceng tipis sehingga timnya gagal menyamakan skor hingga wasit meniup peluit panjang.

Tingginya tensi pertandingan dan panasnya atmosfer di Giuseppe Meazza itu diakui oleh Ibrahimovic yang mengaku kaget dengan apa yang ia rasakan dalam Derby della Madonnina pertamanya. 

“Ini malam yang luar biasa. Ini pertandingan derby pertama saya dan saya tidak pernah memainkan laga seperti ini. Saya merasa amat sangat antusias sepanjang pertandingan dan saya memahami arti berada di lapangan dalam laga seperti ini,” ujar Ibra yang beberapa tahun kemudian menjebol gawang Inter dengan seragam Milan dalam laga bertajuk identik.

 

Bagaimana menurut pembaca? Apakah ada pertandingan Derby della Madonnina lebih sengit yang pernah Anda saksikan? Sampaikan opini Anda melalui kolom komentar di bawah ini!