Goal Retro: Masa Jaya La Quinta Del Buitre – Kuintet Legendaris Real Madrid

Pada periode 1980-an, Real Madrid dikenal memiliki kuintet legendaris yang punya julukan La Quinta del Buitre (Lima Burung Bangkai).


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Periode kesuksesan tim sepakbola selalu dipatri dengan sebuah era, yang biasanya ditandai oleh seorang pemain bahkan sekelompok pemain.

Ambil contoh, Belanda di era Johan Cruyff, Brasil di era 3R (Ronaldo, Rivaldo & Ronaldinho), AC Milan di era Dream Team, Manchester United di era Class of  ’92, hingga Barcelona dengan era La Masia.

Selain itu kub tersukses di dunia dan yang jadi bahasan kali ini, Real Madrid, tentu pernah punya era keemasan. Tidak hanya sekali, tapi sampai terbagi dalam beberapa periode. Sebuah kelaziman menilik tumpukan koleksi gelarnya.

Jika sekarang jadi eranya trio BBC atau mungkin lebih tepat disebut eranya Cristiano Ronaldo, di mana mereka raih La Decima dan La Undecima, Madrid juga pernah miliki era Mejores Equipos dan Galacticos.

Mejores Equipos yang artinya “Tim Terbaik” hadir pada periode 1950-an. Dengan dijejali sederet legenda macam Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Raymond Kopa, Jose Santamaria, dan Francisco “Paco” Gento, Madrid kala itu berhasil menjuarai Piala Champions sampai enam kali! Ini jadi prestasi luar biasa, tak satu pun klub mampu menyamainya.

Sedangkan era Galacticos dihadirkan oleh presiden Madrid, Florentino Perez, dimulai pada periode pertamanya pada 2000 hingga 2006. Memboyong bintang-bintang dunia seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, Michael Owen, sampai David Beckham, Los Galaticos sejatinya kurang sukses secara prestasi. Meski begitu mereka tetap mampu meraih sederet gelar domestik dan satu trofi Liga Champions.

Selain kedua era tersohor itu, Madrid sejatinya masih miliki satu era lagi yang hadir di periode 1980-an. Satu era yang mulai banyak dilupakan orang. Satu era yang dibangun dengan penuh kebanggaan kedaerahan, tapi tetap bergelimang prestasi. Ya, era yang dikenal dengan sebutan La Quinta del Buitre.

SIMAK JUGA: Goal Retro – Pengalaman Pahit Timnas U-23 Naik Pangkat

La Quinta del Buitre yang memiliki arti “Lima Burung Bangkai”, merupakan julukan untuk lima bintang utama Madrid binaan sendiri yang mendominasi sepakbola Spanyol di periode 1980-an. Kelima pemain itu adalah Manuel Sanchis (sweeper), Rafael Martin Vazquez (gelandang), Michel (gelandang), Miguel Pardeza (penyerang), dan motor utamanya, Emilio Butragueno (penyerang).

Uniknya julukan La Quinta del Buitre berasal dari seorang jurnalis El Pais, bernama Julio Cesar Iglesias. Sejatinya julukan itu merupakan judul artikel yang ingin dibuatnya, menyambut Castilla — tim junior Madrid — yang berkompetisi di Divisi Segunda Spanyol pada musim 1983/84.

Kala itu Castilla yang diasuh Amancio Amaro, diperkuat oleh lima bintang masa depan yang telah disebutkan di atas. Butragueno jadi yang paling menonjol dan punya julukan El Buitre. Jadilah, dengan saran editornya untuk meyertakan nama Amancio, Iglesias kemudian menelurkan artikel dengan judul “Amancio y La Quinta del Buitre” (Amancio dan Lima Burung Bangkai).

Terbit pada 14 November 1983, siapa sangka artikel tersebut jadi legendaris karena di akhir musim Castilla berhasil jadi kampiun. Sepak terjang Butragueno cs pun diperhatikan dengan seksama oleh pelatih Madrid saat itu, yakni sang legenda, Alfredo Di Stefano.

Kecuali Michel, pada musim tersebut Di Stefano berani memberikan debut untuk mereka. Sanchis dan Vazquez menjadi dua nama pertama yang lakoni debut, dalam duel tandang di Murcia. Tak mengecewakan, karena Sanchis bahkan langsung torehkan gol perdana. Pardeza kemudian menyusul beberapa pekan berselang.

Debut fantastis lantas dibuat Butragueno, ketika akhirnya mendapat kesempatan pada 4 Februari 1984. Masuk saat Madrid tertinggal 2-0 dari Cadiz, El Buitre mencetak sepasang gol dan satu assist untuk bawa timnya berbalik menang 3-2!

Semusim berselang pada kampanye 1984/85, apa yang diprediksi Iglesias makin nyata karena Amancio ditunjuk jadi pelatih baru. Di masa inilah julukan La Quinta del Buitre benar-benar bekumandang agung di stadion Santiago Bernabeu.

SIMAK JUGA: Goal Retro – Kontroversi Derby Merseyside Di Awal Musim

Pada musim perdana mereka mengusung bersama panji kebesaran Madrid, Los Blancos langsung dibawanya berbicara di Eropa dengan jadi kampiun Piala UEFA. Tak lupa gelar Copa de La Liga pun diboyong.

Sayangnya kegagalan di La Liga Spanyol akibat kalah bersaing dengan sang rival, Barcelona, membuat Amancio dilengserkan jelang akhir musim. Pada bursa musim panas, salah satu anggota El Buitre, Pardeza, juga memutuskan hijrah ke Real Zaragoza dan akhirnya jadi legenda di sana.

Meski begitu di bawah asuhan pelatih baru, Luis Molowny, yang dilanjutkan Leo Beenhaker, dan John Toshack, keempat anggota El Buitre yang tersisa justru makin menjadi. Mengubah permainan jadi lebih pragmatis, dalam kurun 1985 hingga 1989 Madrid dibawa kembali raih gelar Piala UEFA, lima gelar La Liga, satu Copa del Rey, dan tiga Piala Super Spanyol.

Hingga 1990 tatkala Vazquez memutuskan hijrah ke Torino, Madrid bersama La Quinta del Buitre total mengumpulkan 11 trofi bergengsi. Satu koleksi yang tak main-main pada masa itu, di mana sepakbola masih lebih kompetitif.

Sayangnya ada satu gelar yang hilang, apalagi jika bukan Piala Champions. Pada era tersebut bahkan tak sekalipun Madrid menggapai partai puncak turnamen. Mereka terbilang sial karena hanya mentok di babak semi-final di tiga musim beruntun, 1986/87, 1987/88, dan 1988/89.

Dengan Butragueno yang tinggalkan Santiago Bernabeu di musim 1995/96, pada akhirnya hanya Sanchis satu-satunya El Butre yang bertahan di Madrid hingga akhir kariernya. Gantung sepatu pada 2001, pemain satu klub ini berhasil wujudkan mimpi jadi kampiun Liga Champions pada musim 1997/98 dan 2000/01.

Pada kenyataannya Madrid memang selalu jadi tempat berkumpulnya pesepakbola terbaik dunia, dari masa ke masa. Namun era La Quinta del Buitra akan selalu jadi pengingat bahwa Los Merengues pernah juga mencapai kejayaan, dengan diperkuat pemain binaannya sendiri.