Goal Retro: Gol Derby Pertama Francesco Totti

Jadi kapten termuda di Serie A 1998, Francesco Totti mempersembahkan penampilan istimewa, mengukir debut gol derby yang menyelamatkan gengsi AS Roma.


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti di twitter


“No Totti, no party”. Jargon ini begitu lekat dengan sosok legenda hidup sepakbola Italia, Francesco Totti. Bicara AS Roma, pasti tak akan terlepas dari sosok playmaker elegan satu ini. Roma adalaha Totti, Totti adalah Roma.

Tak hiperbola bila dirinya kerap disebut sebagai sang pangeran Roma. Dedikasi, pengabdian serta loyalitas tinggi untuk hanya satu klub sejak 1992 hingga hari ini membuat dia banyak mengukir momen-momen fantastis di ibu kota.

Termasuk rentetan episode epik yang dia ciptakan ketika memainkan partai derby kontra sang rival sekota, Lazio. Salah satunya, gol derby pertamanya bersama Roma, yang mungkin tak akan pernah dilupakan siapa pun yang mengaku sebagai loyalis sejati Giallorossi!

Spesialnya, gol derby perdananya itu menyelamatkan gengsi Roma. Setelah sempat melalui beberapa musim sebagai pemain tak terpakai di bench, di musim 1998, Totti muda yang kala itu berusia 22 tahun dan telah menjadi kapten, mencetak gol krusial, di mana pada kesempatan itu Er Pupone membantu tim comeback secara dramatis.

SIMAK JUGA – Goal Retro: Pertandingan Paling Sengit Derby Della Madonnina  

Marco Delvecchio sejatinya membawa Roma lebih dulu unggul, namun bintang Lazio Roberto Mancini mengubah keadaan timnya dengan berbalik memimpin sebelum penalti Marcelo Salas membuat Biancocelesti berada di atas angin saat laga tersisa 20 menit lagi. Roma sepertinya akan kehilangan muka di derby kali ini, yang jika tumbang berarti mereka menelan kekalahan kelima di derby secara beruntun.

Namun Totti menunjukkan peran vitalnya di fase pengujung pertandingan! Performa berkelas dan taktis ditunjukkannya untuk menghadirkan hasil dramatis. Pertama, dia berlari mengecoh pertahanan Lazio dan merangsek ke kotak penalti untuk mengkreasi gol bagi Eusebio Di Francesco. Beberapa saat kemudian, sodoran Delvecchio diterima Totti dengan sempurna di tempat dan waktu yang tepat untuk menceploskan gol yang menyelamatkan prestise Serigala Ibu Kota. Hasil akhir, 3-3!

Mungkin gol itu terlihat biasa-biasa saja, tapi menjadi torehan yang sangat penting mengingat tingginya gengsi pertandingan ini, apalagi tercatat sebagai gol derby pertama dari seorang putra daerah.

Sebetulnya bisa menjadi malam yang lebih istimewa lagi bagi Totti andai gol kontroversial Delvecchio di detik-detik terakhir pertandingan — memanfaatkan tembakan bebas indah dari Totti — tidak dianulir wasit.

Di bawah naungan Zdenek Zeman selama dua musim, Totti berhasil mengoleksi 30 gol dan memproduksi 26 asssit, pencapaian yang cukup untuk membuatnya jadi kapten termuda Serie A Italia yang memenangkan gelar Pemain Muda Terbaik Serie A 1998/99.

Hingga hari ini, tak ada pemain yang mampu tampil melebihi catatan Totti di laga derby Roma. Tak ada pula pemain yang mampu melampaui rekor golnya di derby, yakni 11 gol yang menjadikannya sebagai top skor derby sepanjang masa — sama dengan rekor Dino Da Costa! Totti sudah dianggap sebagai simbol kebesaran AS Roma secara khusus, dan secara umum bagi sepakbola Italia.

“Totti itu abadi. Dia adalah simbol olahraga kami [Italia]. Saya menyesal, tidak pernah berkesempatan untuk bekerja sama dengan dia,” sanjung pelatih jempolan asal Italia, Carlo Ancelotti.

SIMAK JUGA – Goal Retro: Ketika El Clasico Tak Sanggup Menarik Atensi  

Hal senada juga diungkapkan legenda besar Argentina dan Napoli Diego Maradona, “Totti adalah nomor satu, dia mewakili sepakbola Italia dan fans Italia akan selalu bahagia bersamanya.”

Pemain jawara Piala Dunia 2006 ini akan menginjak usia 40 tahun, September mendatang. Belum ada isyarat darinya bakal gantung sepatu. Apalagi, pelatih Luciano Spalletti memberi sinyal jika pihaknya masih akan terus memberikan kepercayaan pada sang pangeran Roma.

“Banyak yang bicara, saya mendorong Totti untuk pensiun. Jelas itu salah. Sebaliknya, saya menilai Francesco harus bermain selama dia merasa bergairah. Klub harus puas untuk memenuhi keinginan dia. Jika tidak, saya akan pergi,” ujar Spaletti.

No Totti, no party. Faktanya, istilah ini memang bukan sekadar isapan jempol, mengingat betapa banyak momen magis yang dipersembahkannya untuk klub. Entah kapan lagi Roma bisa menelurkan sosok fantastis sekelas Totti. Seperti yang pernah diungkapkan Spalletti: bersama Totti, Roma beruntung, bersama Totti, atmosfer sepakbola terbangun, bersama Totti, ada magnet tersendiri!