Corentin Tolisso, “Pisau Swiss Army” Milik Olympique Lyon Yang Jadi Rebutan Juventus, Barcelona & Arsenal

Pemuda 22 tahun ini tengah naik daun di Ligue 1 dan versatilitasnya mendatangkan ketertarikan dari klub-klub terbesar Eropa.


OLEH   DEDE SUGITA     Ikuti di twitter


Kampanye transfer Olympique Lyon pada musim panas 2016 tidak cuma didominasi oleh pemain yang berhasil mereka datangkan, tetapi juga pemain yang berhasil mereka pertahankan.

Semua bintang top mereka menolak tawaran dari luar negeri dengan iming-iming sepakbola Liga Champions, dengan Alexandre Lacazette dan Corentin Tolisso merupakan dua figur paling menonjol di antara pemain yang memilih bertahan dalam skuat pimpinan Bruno Genesio.

Lacazette memang menjadi pemain yang paling banyak menuai pujian di Parc OL, setelah kembali menikmati musim produktif di Ligue 1, namun Tolisso memainkan peran yang sama vitalnya untuk perjalanan tim musim ini.

KLASEMEN LIGUE 1 PRANCIS

Faktanya, saat Lyon mengklaim kemenangan 2-1 atas Besiktas pada perempat-final leg pertama Liga Europa, Kamis (13/4) pekan lalu, Tolisso-lah yang mencuat sebagai bintang utama.

Pemuda 22 tahun yang nenek moyangnya berasal dari Reunion Island ini ibarat Pisau Swiss Army untuk Lyon sejak melakoni debut pada Agustus 2013, telah tampil di banyak posisi berbeda dan memainkan beragam peran.

“Adalah sebuah kemewahan memiliki pemain sepertinya karena di mana pun bermain di lapangan, ia bermain baik,” papar Genesio awal musim ini. “Ia memiliki kualitas di atas rata-rata dan ia jadi bahan pembicaraan hangat sekarang.” 

Coco, sapaan akrabnya, menembus tim di tengah krisis cedera, dan pada awalnya kerap digunakan sebagai bek kanan di Lyon. Namun, setelahnya ia pindah lebih maju di lapangan, secara harfiah maupun metaforis.

Corentin Tolisso Angel Di Maria PSG Lyon Ligue 1 19032017

Mampu diposisikan di mana saja, dari gelandang deep-lying di depan pertahanan hingga berperan sebagai false nine memimpin lini depan timnya, Tolisso menjadi salah satu pemain paling berharga di Ligue 1. Pun demikian, Stephane Roche, yang melatihnya sebagai youngster, memandang Tolisso paling efektif di jantung lini tengah.

“Dekat dengan pertahanan di beberapa kesempatan dan di beberapa kesempatan lainnya mendukung penyerangan,” tutur pelatih tim junior dan tim reserve Lyon ini. “Dia sangat komplet.”

Keputusan Tolisso untuk menampik pendekatan Napoli, yang dikabarkan melayangkan tawaran €37,5 juta kepada Lyon untuk servisnya musim panas tahun lalu, terjustifikasi setelah ia berhasil mengangkat permainannya ke level lebih tinggi.

Lesatan performanya mendapat pengakuan sahih pada Maret, tatkala ia membuat debut internasional pada Spanyol, dan musim panas mendatang ia digadang-gadang bakal berlabuh ke Juventus, sementara Barcelona dan Arsenal juga disebut menaruh ketertarikan padanya.

Namun, kepergian Tolisso dari Lyon, tempatnya bermukim sejak usia 13 tahun dan berjarak tidak sampai 50 km dari tempat kelahirannya, belum dipastikan.

“Saya ingin terus meningkat, dan saya akan melihat apa yang terjadi, apakah itu dengan Lyon atau tidak,” ujarnya kepada RMC belum lama ini.

“Target utama saya adalah pergi ke Piala Dunia dengan Prancis, dan untuk itu saya harus berada dalam kondisi sebaik mungkin. Jika saya bertahan, itu karena saya memutuskan ini akan menjadi pilihan terbaik bagi saya agar bisa pergi ke Piala Dunia.”

Corentin Tolisso Lyon AS Roma Europa League 09032017

Tolisso telah berkembang pesat dan berbeda jauh dari sosoknya 18 bulan lalu, ketika ia kesulitan menemukan performa dan dituding menjadi pemain yang besar kepala usai menandatangani kontrak baru menyusul kampanye debut sukses di Prancis.

Mantan pelatih Lyon Hubert Fournier sempat mengeluhkan penampilan pasukannya, tapi nyatanya semua berubah seketika menyusul pergantian tongkat kepemimpinan ke tangan Genesio. Tolisso dan Lyon seolah terlahir kembali.

Ia memainkan peran vital dalam kampanye Lyon yang singkat tapi cukup menjanjikan di Liga Champions, di mana mereka hampir mengeliminasi Juve, yang akhirnya malah terpikat pada Tolisso setelah ia membobol gawang Gianluigi Buffon di Turin.

Ia bahkan telah mengapteni klub di tengah absensi Maxime Gonalons dan Alexandre Lacazette.

Dalam setahun terakhir keyakinan Tolisso telah tumbuh, sebagaimana yang dituturkan sang ayah, Vincent, kepada L’Equipe: “Episode Napoli membuatnya menyadari nilainya,” jelasnya. “Dia bilang: ‘Jika klub seperti itu tertarik pada saya, saya pasti pemain yang cukup bagus’.”

Sekarang Tolisso lebih dari sekadar “cukup bagus”, dan Lyon dipastikan paham betul akan hal ini. Ia mungkin tidak menghiasi headline internasional seperti halnya Lacazette, namun perannya sama pentingnya untuk tim dan kemungkinan besar itu akan terefleksi pada nilai transfernya saat ia akhirnya hengkang kelak.