Apa yang Terjadi Pada Evan Dimas dan Talenta Besarnya?

Pada suatu malam di Hanoi, Vietnam, Evan Dimas untuk pertama kalinya bermain sebagai starter bagi timnas senior Indonesia di sebuah pertandingan resmi. Saat itu, 28 November 2014, pemuda yang pernah menjadi buah bibir di Korea Selatan tersebut memimpin lapangan tengah Indonesia melawan Laos dalam lanjutan pertandingan Piala AFF 2014 yang sudah tidak menentukan lagi.

Penampilan Indonesia malam itu jauh berbeda dari dua pertandingan sebelumnya, saat melawan Vietnam dan Filipina. Tim Garuda mampu tampil bagus, seolah ingin menyadarkan kepada banyak orang bahwa Indonesia adalah salah satu tim terbaik di Asia Tenggara. Dan salah satu penyebabnya adalah keberadaan Evan Dimas di lini tengah Indonesia.

Evan Dimas mampu membuat kaki-kaki pemain Indonesia lainnya lebih rancak dalam memainkan bola. Umpan-umpan pendek timnas Indonesia begitu mengalir. Dan, yang lebih penting, Indonesia pada akhirnya berhasil meraih kemenangan pertamanya di ajang Piala AFF 2014 meski harus bermain dengan sepuluh orang sejak pertengahan babak pertama.

Ada sedikit ketidakwajaran memang, ketika mengetahui seorang pemuda berusia 19 tahun mampu membuat pemain-pemain senior yang berada di sekelilingnya tampil bagus. Namun semua itu adalah bukti sahih dari kualitas brilian yang dimiliki oleh Evan Dimas.

Evan ikut menyumbangkan gol dalam satu-satunya penampilannya sebagai starter di Piala AFF 2014

Ada sedikit ketidakwajaran memang, ketika mengetahui seorang pemuda berusia 19 tahun mampu membuat pemain-pemain senior yang berada di sekelilingnya tampil bagus. Namun semua itu adalah bukti sahih dari kualitas brilian yang dimiliki oleh Evan Dimas

Saat segenap harapan mengenai masa depan sepakbola Indonesia kemudian mulai dibebankan kepada Evan Dimas berdasarkan pada performanya pada pertandingan tersebut, dari negara berbeda dan dalam turnamen yang sama, Chanathip Songkrasin, gelandang Thailand yang hanya sekitar satu tahun lebih tua daripada Evan, mampu memimpin Thailand untuk meraih gelar Piala AFF 2014. Prestasi Chanathip bahkan tidak berhenti sampai di situ. Performa menawannya di ajang paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut kemudian dihadiahi dengan gelar pemain terbaik.

Tak jauh berbeda dengan Evan kala memimpin timnas U-19 meraih gelar Piala AFF pada tahun 2013 lalu, Chanathip juga mulai menjadi buah bibir di Thailand saat dirinya masih begitu muda. Saat masih berusia 19 tahun, Canathip sudah tampil memukau bersama BEC Tero Sasana, klub asal negaranya, di divisi tertinggi liga Thailand. Gelar pemain muda terbaik Thailand pun berhasil diraihnya. Sejak saat itu kariernya terus menanjak, tidak hanya di level klub tapi juga di level internasional bersama timnas Thailand. Singkat kata, Chanathip terus berada di jalur yang benar untuk menjadi pemain besar.

Akhir tahun 2016 lalu saat Thailand berhasil mempertahankan gelarnya dalam gelaran Piala AFF 2016, Chanathip juga berhasil mempertahankan prestasinya sebagai pemain terbaik di turnamen itu. Mendapatkan gelar terhormat itu dua kali secara berturut-turut tentu saja bukan prestasi sembarangan. Itu hanya bisa dilakukan oleh pemain-pemain pilihan, dan Chanathip adalah salah satu dari pemain pilihan itu.

Tak heran jika Chanathip kemudian juga menjadi bagian penting kala Muangthong United, klubnya, mengalahkan Kashima Antlers, finalis Piala Dunia Antarklub, dalam gelaran Liga Champions Asia beberapa waktu lalu.

Chanathip telah melangkah begitu jauh sejak mencuri perhatian publik

Lalu, bagaimana dengan Evan Dimas?

Pasca Piala AFF 2014, sinar terang Chanathip hanya bisa diimbangi dengan satu gelar hiburan oleh Evan Dimas: Pemain Muda Terbaik Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016, sebuah kompetisi tidak resmi di Inodonesia. Selebihnya adalah mimpi buruk.

Evan Dimas mengalami kegagalan bersama timnas U-23 di SEA Games 2015 lalu dan bersama timnas senior di Piala AFF 2016 lalu. Dua-duanya terjadi karena kiprah Thailand yang dimotori oleh Chanathip Songkrasin. Menariknya, jika di tim SEA Games 2015 Evan Dimas menjadi pemain penting, di tim Piala AFF 2016 Evan hanyalah pemain pelengkap. Kejutan yang diciptakan Indonesia di sepanjang Piala AFF 2016 bahkan lebih sering terjadi kala Evan menganggur di bangku cadangan.

Sementara itu di level klub, Evan memang sempat menjalani trial di dua klub Spanyol, UE Llagoster dan Espanyol. Namun, hanya sebatas itu saja. Sementara Chanathip sendiri akan bermain di J.League bersama Consadole Sapporo sebagai pemain pinjaman selama 18 bulan mulai Juli nanti.

Masalah-masalah yang terus menggerogoti sepakbola Indonesia memang ikut ambil bagian dalam perkembangan lambat yang dialami oleh Evan Dimas. Dia tidak mendapatkan tempat sewajarnya di mana dia dapat mengembangkan potensi besar yang dimilikinya.

elain ekspektasi berlebih yang dibebankan kepadanya, dia sepertinya juga terlalu dipaksa untuk bersinar sebelum waktunya. Seharusnya, daripada memaksanya untuk berusaha bersaing di Eropa, liga-liga terbaik di Asia Tenggara lebih cocok untuk perkembangannya.

Trialnya di Spanyol terkesan dipaksakan

Setalah kegagalannya di Eropa, Evan akhirnya tetap berkompetisi di Indonesia. Kualitasnya masih menonjol, tampak berbeda dengan pemain-pemain seusianya atau bahkan dengan para pemain senior. Pujian-pujian pun masih sering datang menghampirinya. Sayangnya, hal itu terjadi di tengah-tengah sepakbola Indonesia yang kurang kompetitif.

Evan tumbuh di negara yang kompetisi liganya berjalan dengan semrawut, di mana faktor kepentingan sering kali berada di atas sportivitas. Pemain titipan bukan hal baru dan nama besar bukan tidak mungkin mengalahkan kualitas. Beruntung, Evan memiliki keduanya: kualitas dan nama besar. Bermain bagus atau tidak, Evan selalu mempunyai peluang besar untuk menjadi pilihan utama. Masalahnya, dengan pendekatan seperti itu, perkembangan Evan sebenarnya justru sedang menemui jalan buntu. Dia tak banyak mendapatkan hal-hal baru yang dapat  membantu perkembangannya.

Evan tumbuh di negara yang kompetisi liganya berjalan dengan semrawut, di mana faktor kepentingan sering kali berada di atas sportivitas

Kiprah timnas Indonesia di Piala AFF 2016 lalu dapat menjadi contoh dari terhambatnya perkembangan yang dialami oleh Evan Dimas. Saat itu, Alfred Riedl, pelatih Indonesia, tampak kesulitan untuk mengakomodasi peran Evan Dimas di dalam sepakbola reaktifnya.

Dalam beberapa kesempatan Riedl memang memaksa untuk tetap memainkannya, entah sebagai pemain jangkar di lini tengah atau sebagai gelandang serang. Serangan Indonesia memang lebih mengalir saat Evan berada di atas lapangan, tetapi hal itu justru sering kali menghilangkan momentum yang dimiliki Indonesia untuk memenangkan pertandingan. Masalanya jelas: Evan Dimas bukanlah seorang pemain yang cerdas dan disiplin menyoal taktik.

 

Evan lebih banyak duduk di bangku cadangan di Piala AFF 2016 lalu

Saat bertandingan melawan Filipina, Indonesia gagal menang karena kurang disiplinnya Evan Dimas, yang saat itu bermain sebagai jangkar, dalam melindungi garis pertahanan Indonesia. Dan saat Indonesia mengalahkan Singapura di pertandingan terakhir babak penyisihan grup, serangan-serangan yang dilakukan Indonesia justru terlihat efektif ketika Evan Dimas diganti di awal babak kedua.

Menariknya, setelah memilih untuk menepikan Evan Dimas di babak semifinal dan final, Indonesia yang sempat nyaris gagal lolos dari babak penyisihan grup justru hampir berhasil meraih gelar Piala AFF yang  sudah terlalu lama dinantikan.

Mental bertanding dan kualitas individu seorang pemain memang menjadi bagian penting untuk menjadi pemain besar. Namun kecerdasan dalam bermain juga tak kalah penting. Tanpa  didasari kecerdasan, umpan tepat sasaran tak akan mempunyai banyak arti, begitupula dengan aksi-aksi individu memukau.

Saat ini Evan memang masih berusia 22 tahun. Jalannya untuk menjadi pemain besar, seperti yang diharapkan oleh banyak orang, masih terbuka lebar. Dia masih memiliki cukup waktu untuk memperbaik segala kekuranganya. Namun, jika sepakbola Indonesia masih begitu-begitu saja atau jika dia tidak mau belajar, bukan tidak mungkin kebintangannya di masa depan hanya ada di angan-angan belaka.