8 Pemain Top Yang Tampil Luar Biasa Setelah Berganti Posisi

Andrea Pirlo

Andrea Pirlo dilahirkan dua kali di dunia ini: pertama, sebagai seorang bayi laki-laki, dari keluarga mampu di Brescia pada bulan Mei tahun 1979 lalu; kemudian, sebagai seorang regista, dari lini tengah Brescia pada tahun 2001 lalu.

Jika kelahiran pertamanya menandakan akan adanya pesepakbola berbakat di Italia, kelahiran keduanya mampu membuktikan bahwa dia bukan hanya berbakat tapi juga salah satu yang terhebat.

Carlo Mazzone adalah orang yang paling bertanggung jawab saat Pirlo lahir untuk kedua kalinya di dunia ini. Sebelumnya, Pirlo adalah salah seorang trequartista berbakat yang dimiliki oleh Italia dan Inter Milan. Tetapi, selain karena kalah bersaing dengan seniornya, Pirlo sebetulnya tak mampu mengeluarkan 100% kemampuannya saat bermain sebagai seorang trequartista.

 

 

Saat bermain sebagai trequartista, Pirlo memang masih mampu mengatur bagaimana cara timnya membangun serangan, memberikan umpan-umpan akurat, dan mampu mencetak gol saat benar-benar dibutuhkan. Namun dari posisi itu, dia tak sepenuhnya bisa mengatur tempo permainan. Selain itu, kemampuan umpan-umpan lambungnya, yang sebenarnya di atas rata-rata, juga tak akan banyak terlihat.

Menyadari hal itu, Mazzone kemudian mengubah posisi Pirlo saat mantan bintang timnas Italia U-21 tersebut dipinjamkan ke Brescia pada tahun 2001 lalu. Pirlo dimainkan lebih dalam, sebagai seorang regista. Peran baru yang diberikan Mazzone ini kemudian membuat peruntungan Pirlo berubah. Dia mampu tampil hebat bersama Brescia, pindah ke AC Milan, dan sisanya adalah perjalanan karier seorang legenda. Sebagai seorang regista, Pirlo berhasil meraih segalanya, dari gelar Liga Champions Eropa hingga gelar Piala Dunia.

Paul Scholes

Pada pertandingan final Liga Champions 2009 lalu antara Barcelona melawan Manchester United, layaknya harta karun yang ditinggalkan para bajak laut, menguasai bola adalah hal langka bagi Setan Merah. Mereka sama sekali dibuat tak berdaya oleh Barcelona, terus berlari mengejar bola tanpa tahu bagaimana cara merebutnya. Lalu datanglah Paul Scholes. Dalam 20 menit terakhir, dia berhasil mengirimkan 25 kali umpan, rata-rata melakukan lebih dari satu umpan dalam satu menit. Meski tak berhasil membuat United menang, kehadiran Scholes setidaknya mampu membuat United memberikan sedikit perlawanan.

Berdasarkan kekalahan United pada laga tersebut, Ferguson mengaku menyesal tidak memainkan Scholes sejak awal pertandingan. Dalam biografinya, dia mengatakan, “Kita pikir kita tahu segalanya tentang sepakbola. Ternyata tidak. Menyia-nyiakan orang dan berpikir kita selalu bisa mengandalkan mereka selagi mereka mendekati akhir karier itu salah. Kita lupa seberapa hebatnya mereka.”

 

Jauh hari sebelumnya, tepatnya saat Scholes masih berusia 16 tahun, Ferguson sebetulnya sudah salah dalam menilainya. Dia mengatakan bahwa Scholes tidak akan memiliki masa depan bagus karena tubuhnya yang terlalu kecil. Saat itu Scholes masih bermain sebagai penyerang tengah.

Sejak saat itu, meski terus mencetak gol saat diberikan kesempatan, keraguan Ferguson tentang salah satu pemain terbaiknya itu masih terus bertahan. Dia kemudian mencoba memainkan Scholes di posisi berbeda, dari penyerang lubang hingga pemain tengah. Dan di posisi terahirnya itulah keraguan Ferguson terhadap Scholes kemudian hilang. Scholes berhasil menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia.

“Scholes barangkali gelandang terbaik Inggris sejak Bobby Charlton. Sejak saya berada di Inggris, Paul Gascoigne adalah pemain yang bisa membuat kita melonjak berdiri dari bangku penonton. Dalam tahun-tahun terakhirnya, Scholes melayang lebih tinggi daripada Paul Gascoigne. Karena karier panjangnya, dan karena dia terus lebih baik lagi pada umur tiga puluhan,” begitu pujian Ferguson untuk Scholes. Mungkin, begitupula pujian Zinedine Zidane, Xavi Hernandes, Edgar Davids, dan pemain-pemain tengah hebat lainnya yang juga mengagumi kehebatan Scholes.

Javi Martinez

Dalam pertandingan final DFB Pokal tahun 2014 lalu antara Bayern Muenchen melawan Borussia Dortmund, setelah Javi Martinez melakukan tekel sempurna terhadap Robert Lewandowski, penggemar Bayern Muenchen langsung meneriakkan namanya keras-keras: “Martinez! Martinez! Martinez!” Itu adalah kali pertama nama seorang pemain disebutkan penggemar Bayern Muenchen pada pertandingan tersebut. Dan teriakkan yang sama masih terus terdengar hingga pertandingan benar-benar bubar, di mana Bayern akhirnya berhasil memenangkan pertandingan.

Selain karena aksi heroik Martinez itu, para penggemar Bayern mempunyai alasan lain mengapa mereka memilih meneriakkan nama Martinez daripada nama pemain-pemain lainnya. Sebagai seorang bek tengah, Javi Martinez benar-benar tampil sempurna pada pertandingan itu. Sementara Robert Lewandowski, top skorer Bundesliga pada saat itu, berhasil dibuatnya tak berdaya, kemampuan Martinez dalam membaca permainan juga berhasil membuat Marco Reus, pemain yang paling banyak menciptakan peluang di Bundesliga pada saat itu, miskin imajinasi. Selain itu, gegenpressing yang diterapkan Dortmund juga berjalan tak maksimal karena kemampuan Martinez dalam mengatur permainan dari lini paling belakang.

 

 

Sejak saat itu, Javi Martinez, yang sejatinya merupakan seorang gelandang bertahan murni, kemudian menjadi bek tengah permanen Bayern Muenchen. Pemain yang sudah sering menjadi bek tengah saat bermain untuk Athletic Bilbao ini ternyata terus berkembang di posisi barunya itu. Tak heran jika Carlo Ancelotti, seorang pelatih yang lebih mementingkan pemain daripada sistem permainan, lebih memilihnya daripada Jerome Boateng, salah satu bek tengah terbaik yang dimiliki oleh Jerman, untuk mendampingi Matt Hummels di pusat pertahanan Bayern Muenchen.

David Alaba

Tidak hanya mempunyai pengamatan bagus terhadap para pemain muda, Louis van Gaal juga mempunyai insting bagus di posisi mana seharusnya para pemain muda itu bermain agar mampu mengeluarkan potensi terbaiknya. Dengan pendekatan seperti itu, saat pelatih asal Belanda tersebut bersabda, orang-orang seharusnya tak boleh mengacuhkannya.

Suatu waktu, saat Louis van Gaal menangani Bayern Muenchen, timnya mengalami krisis di pos full-back kiri. Dia kemudian menawarkan posisi tersebut kepada David Alaba yang sebetulnya seorang gelandang tengah. Meski sempat menolak karena tidak yakin dengan posisi barunya itu, Alaba akhirnya mau menerimanya setelah Louis van Gaal meyakinkannya. Lalu, lahirlah seorang full-back kiri yang paling sering mengundang decak kagum dalam setiap penampilannya.

Dari era Jup Heynckes hingga era Carlo Ancelotti baru-baru ini, Alaba selalu menjadi andalan Bayern di sisi kiri pertahanan mereka. Memang, Pep Guardiola pernah beberapa kali menggeser posisi Alaba demi sistem permainannya. Namun, hal itu terjadi bukan karena Alaba lebih bagus di posisi lainnya, melainkan karena Alaba memang seorang pemain yang serba bisa. Menurut Guardiola, Alaba adalah pemain yang luar biasa cerdas.

 

Sebagai seorang full-back kiri, Alaba sendiri berhasil meraih segalanya bersama Bayern Muenchen. Ya, semuanya gara-gara Louis van Gaal.

Bastian Schweinsteiger

Dalam pertandingan melawan Austria pada Piala Eropa 2008, Bastian Schweinsteiger terpaksa tidak dapat tampil karena kartu merah yang diterimanya saat Jerman menghadapi Kroasia pada pertandingan sebelumnya. Menariknya, hukuman itu ternyata membawa berkah. Di atas tribun, dia duduk di samping Angela Merkel. Dia pun kemudian mendapatkan wejangan berharga dari orang paling dihormati di Jerman tersebut.

“Dia mengatakan bawa saya seharusnya tidak boleh melakukan hal-hal bodoh lagi. Ketika Kanselir Jerman mengatakan kamu harus melakukan sesuatu, kamu harus melakukannya,” begitu kata Basti, sapaan akrab Bastian Schweinsteiger.

Sejak saat itu, Basti benar-benar melakukan perubahan terhadap sikapnya, baik di luar maupun di dalam lapangan. Dia bukan lagi pemain suka melakukan tindakan bodoh di lapangan, dan juga bukan seorang pemain yang penuh kontroversi saat berada di luar lapangan. Perubahan karakter itu kemudian juga berhasil menggugah insting tajam Louis van Gaal, pelatih barunya di Bayern Muenchen pada saat itu. Pelatih asal Belanda tersebut menggeser posisi Basti dari pemain sayap menjadi seorang gelandang tengah. Dan kita semua tahu bagaimana kisah Basti selanjutnya.

“Sekarang, saya selalu dekat dengan bola,” kata Schweinsteiger. “Saya tidak bisa seperti itu saat bermain terlalu melebar. Pergantian posisi ini sangat penting bagi karier saya,” peraih gelar Piala Dunia 2014 itu menambahkan.

Keputusan Louis van Gaal tersebut ternyata tidak hanya berdampak bagi perkembangan karier Schweinsteiger, tetapi juga bagi Bayern Muenchen dan timnas Jerman juga. Pada musim 2012/13 lalu, Bayern berhasil meraih tiga gelar karena peran Basti sebagai gelandang bertahan. Dan pada saat Jerman berhasil meraih gelar Piala Dunia 2014 lalu, Basti adalah orang yang paling pantas untuk dielu-elukan masyarakat Jerman. Dominasinya di lini tengah Jerman pada pertandingan final berhasil membuat ilmu sihir pemain-pemain Argentina, terutama Lionel Messi, tak mempan.

Gareth Bale

Setelah menyeberang dari Southampton ke Tottenham Hotspur pada tahun 2007 lalu, Gareth Bale hanyalah seorang full-back kiri pelapis. Selain kalah bersaing dengan Benoit Assou-Ekotto, dia juga lebih sering berkutat dengan cedera. Namun, segala peruntungan Bale berubah saat Harry Redknapp, pelatih Spurs pada saat itu, mengubah posisinya menjadi sayap kiri. Redknapp beranggapan bahwa Bale mempunyai kualitas ofensif mumpuni untuk menjadi pemain sayap.

Insting Redknapp ternyata jitu. Bale benar-benar mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemain sayap. Dan salah satu penampilan terbaiknya sebagai seorang pemain sayap terjadi saat Tottenham dua kali melawan Inter Milan, juara Liga Champions 2009/10, di babak penyisihan grup Liga Champions musim 2010/11. Di San Siro, markas Inter, meski timnya kalah, Bale mencetak hattrick, dan di White Hart Lane, Bale berhasil menjadi pemain terbaik di laga itu. Selain berhasil membawa Spurs menang dan mencatatkan dua assist, Bale juga berhasil membuat Maicon, salah satu full-back kanan terbaik di dunia pada saat itu, merasa bahwa ia membutuhkan tumpangan mobil Formula 1 untuk mengejar Bale setiap kali dia berlari.

 

Menariknya, setelah dijadikan Real Madrid sebagai pemain termahal di dunia pada tahun 2013 lalu, Bale sekali lagi pindah posisi, yaitu sebagai penyerang sayap di sebelah kanan trio penyerang Madrid. Semula, Bale memang kesulitan di posisi barunya itu. Agennya bahkan sempat melakukan protes terhadap manajemen Madrid. Namun, Carlo Ancelotti berhasil meyakinkannya bahwa Bale cocok di posisi itu. Bale memilih patuh, dan keputusan Ancelotti ternyata tidak salah.

Pasca kepergian Ancelotti, Bale tetap dimainkan Zidane sebagai penyerang sayap di sebelah kanan. Namun, pendekatan yang dilakukan Zidane sedikit berbeda. Selain sering dijadikan sebagai pusat serangan, Bale diberikan kebebasan lebih untuk bergerak sesuai dengan instingnya. Bale kemudian bisa menikmati posisi barunya itu dan saat ini perannya di sisi kanan lini serang Madrid nyaris tak tergantikan.