5 Pemain Besar Yang Pernah Rasakan Jurang Degradasi

Setiap pemain memiliki momen-momen buruk yang ingin mereka lupakan, tak terkecuali pemain besar yang kita tahu banyak meraih gelar bergengsi di sepanjang kariernya. Menjelang berakhirnya musim 2016/17, mari kita ingat kembali beberapa bintang besar yang pernah mengalami momen buruk dengan terdegradasi bersama klub mereka.

Gabriel Batistuta (Fiorentina, 1992/93)

Awal 1990-an adalah saat yang menyakitkan bagi Fiorentina. Mereka kehilangan bintang besar Roberto Baggio yang hijrah ke Turin pada tahun 1990, gabung Juventus dengan biaya transfer yang memecahkan rekor dunia.

Fiorentina lantas mendatangkan Batistuta dari Boca Juniors pada 1991 dengan tujuan untuk sedikit mengurangi penderitaan fans. Namun pemain asal Argentina itu tidak mampu mencegah degradasi Fiorentina ke Serie B, meski ia memberi upaya bagus dengan mencetak 16 gol dalam 32 pertandingan Serie A musim 1992/93.

Namun, keputusannya untuk tetap bertahan di Artemio Franchi dan membawa klub tersebut kembali ke papan atas Serie A memberinya status pahlawan yang ia nikmati sampai hari ini. Rekor 207 gol dalam 332 penampilannya di sembilan musim juga merupakan pencapaian Batistuta yang akan selalu diingat oleh fans La Viola.

Roberto Ayala (Napoli, 1997/98)

Pada musim panas 1986, Napoli meraih Scudetto perdana. Dua belas tahun kemudian, mereka telah mendapatkan gelar itu sebanyak dua kali, sebagian besar berkat seorang pria bernama Diego Maradona. Namun pada musim 1997/98 mereka benar-benar terpuruk.

Partenopei tidak menunjukkan performa bagus pada musim itu, dengan hanya mengumpulkan 14 poin dan hanya memenangkan dua pertandingan di liga. Lini belakang yang diperkuat oleh Ayala, yang mengumpulkan 115 pertandingan untuk Argentina sebelum pensiun dari pentas internasional pada 2007, harus kebobolan sebanyak 76 kali di sepanjang musim, sementara lini depan Napoli hanya berhasil menciptakan 25 gol

Franco Baresi (Milan, 1981/82)

Milan mungkin melalui masa-masa sulit dalam beberapa tahun terakhir, tapi setidaknya mereka belum mengalami keterpurukan seperti awal tahun 80-an. Rossoneri terdegradasi ke Serie B sebagai hukuman atas keterlibatan mereka dalam skandal taruhan Totonero, dan kemudian kembali terdegradasi secara normal beberapa tahun kemudian di saat berjuang mengembalikan nama besar mereka.

Bek tengah Baresi baru berusia 22 tahun ketika Milan terdegradasi pada musim 1981/82, namun keputusannya untuk tetap bertahan dengan klub memperkuat posisinya sebagai legenda Milan dan dia menjadi salah satu pemain terbesar Italia ketika akhirnya pensiun pada tahun 1997.

Zlatan Ibrahimovic (Malmo, 1999)

Ibra tidak pernah kekurangan kepercayaan diri, tapi pemain asal Swedia itu bahkan harus tertunduk ketika Malmo mengalami degradasi pada tahun 1999. Itu adalah musim pertama striker tersebut di skuat senior (di mana dia hanya tampil sebanyak enam kali), dan ia tak mampu membantu timnya untuk lolos dari jurang degradasi pada musim itu.

Ibrahimovic mendapat peran yang lebih besar pada musim berikutnya dan mampu mencetak 12 gol dalam 26 pertandingan untuk membantu Malmo kembali ke kompetisi teratas Swedia. Dan kini ia menjadi pemain terbaik sepanjang masa Swedia.

Oliver Bierhoff (Ascoli, 1991/92)

Karier klub Bierhoff berkembang dengan cukup lamban. Striker tersebut hanya berhasil mengumpulkan 10 gol dalam 73 pertandingan untuk tiga klub Jerman yang berbeda, sebelum akhirnya meraih sukses di klub Austria, Salzburg, pada musim 1990/91.

Bierhoff bergabung dengan Ascoli pada tahun 1991, namun ia harus merasakan jurang degradasi ke Serie B di musim pertamanya di klub. Meski begitu, ia tetap tak berhenti berjuang di Italia, dan pada tahun 1998 berhasil pindah ke Milan setelah menjalani masa tiga tahun yang sangat bagus di Udinese. Kini, ia diingat sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki oleh Jerman. (Sumber: Four Four Two)