5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari Degradasi

Bagi fans klub besar yang punya basis suporter di seluruh dunia, meraih titel di akhir musim sudah menjadi suatu kewajiban. Titel merupakan ukuran kesuksesan sebuah klub di era sepakbola modern ini. Tak pelak persaingan merebutkan titel setiap musimnya sangat seru dan dinanti fans.

Tapi, itu semua berlaku untuk klub besar yang memang harus atau wajib meraih titel tiap musimnya. Tak mampu meraih trofi? Jangan harap manajemen dan fans bisa diam, apalagi menolerir fakta tersebut. Mungkin, hanya Arsene Wenger yang kebal dengan segala hal tersebut.

Bagaimana dengan tim semenjana atau gurem yang setiap musimnya hanya bertarung untuk sekedar masuk 10 besar atau lolos dari degradasi? Jarang menjadi perhatian. Namun jangan salah, ketika Anda berbicara dengan fans setia mereka yang kebanyakan lahir di kota klub itu berada, lolos dari degradasi melalui pertarungan yang dramatis seperti halnya memenangi titel Premier League.

Fanatisme fans lokal itu pernah dijabarkan oleh penulis novel “Fever Pitch”, Nick Hornby. Ia fans sejati Arsenal, namun tak luput memperhatikan lingkungan di sekitarnya, termasuk pertarungan klub-klub medioker asal London dalam pertarungannya keluar zona degradasi yang tak kalah hebat dari laga final Liga Champions.

Pertarungan untuk lolos zona degradasi laiknya laga hidup mati bagi klub, fans, pemain, dan tentunya manajer. Dibutuhkan manajer yang punya kekuatan mental baja, pengalaman, dan ketenangan untuk membawa timnya selamat dari jerat degradasi.

Menyelamatkan tim dari zona degradasi itu tak mudah, apalagi jika manajer itu datang di pertengahan musim menggantikan manajer yang dipecat klub. Oleh karena itu, tak sembarang manajer yang bisa melakukannya…

1. Roy Hodgson (Fulham 2007/08)

Salah satu momen dramatis dalam momen pertarungan keluar dari zona degradasi. Dijuluki dengan istilah ‘The Great Escape’, Fulham sampai harus memastikan kepastian mereka bertahan di Premier League dengan kemenangan 1-0 di laga pamungkas melawan Portsmouth.

Kolektivitas dan kebersamaan untuk sama-sama melalui masa sulit memang diperlihatkan oleh Fulham yang berisikan pemain seperti Jimmy Bullard, Jari Litmanen, Brian McBride, Clint Dempsey, dll, tapi semua itu takkan pernah terbentuk jika manajemen tidak memecat Lawrie Sanchez dan menggantikannya dengan Roy Hodgson, yang sebelumnya melatih timnas Finlandia.

Sejak awal musim Fulham sudah akrab dengan zona degradasi, bahkan, ketika melawan Manchester City pada April 2008, Fulham sudah tertinggal 0-2 dan secara matematis dinyatakan degradasi. Tapi momen magis terjadi ketika Fulham mampu melakukan kebangkitan gemilang dan berbalik menang 3-2.

Kemenangan itu pun dijadikan Hodgson sebagai pelecut motivasi kepada para pemain Fulham, meyakinkan mereka bahwa kans bertahan di Premier League masih ada. Benar saja, setelahnya Fulham meraih kemenangan penting hingga tripoin terakhir mereka kala melawan Portsmouth.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/ljwn5X8_09Q?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari
Degradasi

Tahukah Anda bagaimana Fulham selamat dari degradasi? Mereka berhasil hanya karena punya selisih gol yang lebih baik dari Reading yang sama-sama mengoleksi 36 poin. Sepertinya, Dewi Fortuna tak ingin Fulham turun kasta.

2. Alan Curbishley (West Ham United 2006/07)

Mengenang momen West Ham United di musim 2006/07 takkan jauh dari dua transfer bakal calon bintang Argentina saat itu, Javier Mascherano dan Carlos Tevez. Keduanya dibeli dari Corinthians ketika The Hammers masih ditangani oleh Alan Pardew.

Namun, umur Pardew di West Ham tidak panjang ketika tim menjalani tren minor hingga ia dipecat dan diganti dengan mantan pemain mereka di era 1975-1979, Alan Curbishley. Perlahan tapi pasti, Curbishley mampu mengangkat performa klub asal London itu.

Pada awal Maret 2007 West Ham ada di zona degradasi dan terpaut 10 poin dengan peringkat 17, Man City. Situasi yang sulit, tapi Curbishley pantang menyerah membawa timnya menjauh dari jerat zona degradasi dan meraih enam kemenangan dari total delapan laga terakhir, sebelum akhirnya momen final terjadi di Old Trafford.

Man United sudah memastikan diri sebagai juara Premier League dan tidak ada target khusus ketika menjamu West Ham. Bagi tim tamu, kendati Man United sudah juara, mereka tetap lawan yang sulit. Apalagi Man United bermain di Old Trafford dan masih ditangani oleh Sir Alex Ferguson.

Misi yang berat dan West Ham punya motivasi berlebih untuk bertarung habis-habisan, terutamanya mereka juga percaya diri karena dalam perjalanan menuju Old Trafford telah mengalahkan Arsenal, Everton, Wigan Athletic, dan Bolton Wanderers. Moral yang tengah meninggi itu mencapai klimaks ketika Tevez mencetak gol kemenangan timnya. Gol yang akan terus dikenang publik Inggris dan menyelamatkan West Ham dari degradasi.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/FbzHtGXukOk?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari
Degradasi

Sejarah mengenang Tevez. Namun bagi publik West Ham, Curbishley tetap jadi pahlawan mereka yang mengangkat keyakinan tim untuk bertahan di Premier League setelah terpuruk bersama Pardew. West Ham lolos dengan koleksi 41 poin dan terpaut tiga poin dari Sheffield United yang degradasi bersama Charlton Athletic dan Watford.

3. Bryan Robson (West Bromwich Albion 2004/05)

Ketika berbicara mengenai Bryan “Robbo” Robson, Anda paling tidak mengenang dua hal darinya: legenda Man United dan mantan pelatih timnas Thailand. Wajar jika hanya dua hal itu yang diingat darinya, karena karir kepelatihan Robson tidak segemilang Ferguson.

Tak banyak yang diingat darinya ketika menjadi pelatih, tapi, tidak demikian dengan fans West Bromwich Albion (WBA). Robson merupakan pahlawan bagi The Baggies di Premier League musim 2004/05.

WBA terdampar di dasar klasemen saat Natal tiba dan tidak ada tim yang sebelumnya lolos degradasi di posisi tersebut. Apalagi WBA terlibat pertarungan lolos degradasi dengan Southampton, Crystal Palace, dan Norwich City. Bahkan, ketika Robson mengangkat performa tim dengan meraih tiga kemenangan dan empat hasil imbang di 10 laga terakhir, mereka masih belum aman dan memastikan segalanya di laga terakhir.

Nasib ada di tangan Zoltan Gera cs saat itu kala melawan Portsmouth. Kalah, tentu mereka akan turun kasta ke Championship. Perlawanan sengit pun terjadi di Hawthorns, markas WBA, dan kedudukan masih sama kuat tanpa gol sebelum akhirnya Robson melakukan pergantian cerdas dengan memasukkan Geoff Horsfield. Ia menjadi pencetak gol pertama WBA dan mengawali proses serangan yang berbuah gol kedua, yang dicetak oleh Kieran Richardson.

WBA menang 2-0 dan dengan dramatis Robson memimpin timnya lolos pertarungan zona degradasi yang menguras keringat dan tenaga. WBA mengoleksi 34 poin, terpaut satu poin dengan Palace dan Norwich, serta Southampton yang berada di dasar klasemen dengan raihan 32 poin.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/GD8V8enE8gA?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari
Degradasi

Kelolosan yang dramatis dan untuk menggambarkan bagaimana tegangnya suasana di Hawthorns saat itu, BBC punya laporannya.

“Saat itu terjadi drama di sore hari dan tensi laga di Hawthorns, dengan emosi yang juga terlibat dan ketegangan saat ada gol di laga lainnya yang didapat dari informasi radio dan handphone.”

4. Abelardo Fernandez (Sporting Gijon 2015/16)

Keajaiban bagi pelatih yang sukses membawa timnya melalui pertarungan zona degradasi tak melulu terjadi di Premier League. Momen dramatis itu juga pernah terjadi di La Liga Spanyol dan diperlihatkan oleh Sporting Gijon asuhan Abelardo Fernandez pada musim 2015/16.

Musim berjalan berat bagi Gijon yang mendapat larangan transfer pemain karena sebelumnya sempat menunggak pembayaran pembelian pemain, dan mereka hanya diperbolehkan mendatangkan pemain U-23. Belum selesai sampai di situ, tugas Fernandez kian berat karena tim mengalami inkonsistensi di sepanjang musim dan tidak pernah menang lebih dari dua kali beruntun, plus pertahanan tim juga buruk.

Tak mudah bagi pelatih yang punya mental lemah untuk menangani tim seperti Gijon, namun, Fernandez berbeda. Pria yang juga pernah bermain sebagai pemain Barcelona itu coba menutupi kelemahan timnya dengan kualitas Gijon dari sisi ofensif dengan mengandalkan tiga pemain terbaik mereka kala itu, Alen Halilovic, Jony Rodriguez, dan Antonio Sanabria.

Naik turun sepanjang musim, nasib Gijon pun ditentukan di jornada pamungkas melawan Villarreal. Perlawanan gigih mereka pun membuahkan kemenangan 2-0 dan mereka selamat dari degradasi, apalagi karena pesaing mereka Getafe kalah dari Real Betis. Alhasil Getafe bersama dengan Rayo Vallecano dan Levante degradasi.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/WXWcg9luV0I?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari
Degradasi

Kendati hasil laga lain juga menentukan, namun tanpa kemenangan kontra Villarreal, bisa jadi Gijon yang degradasi. Tim asal Asturias itu selamat dari degradasi dan pelatih Barcelona, Luis Enrique, yang di musim itu meraih gelar ganda La Liga dan Copa del Rey bak merasakan treble winners keduanya.

Enrique merupakan alumni akademi Gijon dan bermain di sana pada periode 1989-1991. Tak pelak ia turut bahagia Gijon sukses menghindari jurang degradasi, “Pertandingan yang sangat hebat Sporting Gijon. Selamat,” ucap Enrique.

5. Bruno Labbadia (Hamburg 2014/15)

Salah satu kebanggaan klub peraih enam titel Bundesliga ini adalah, tidak pernah terdegradasi. Meskipun di sisi lain dekadensi performa dan kesuksesan tim sejak terakhir meraih titel Bundesliga pada 1983 tak lagi menjadikan Hamburg sebagai kandidat juara.

Bahkan, mereka juga sempat kesulitan hanya untuk sekedar berada di papan tengah klasemen, seperti yang diperlihatkan di musim 2014/15. Tim yang berisikan pemain seperti Rafael van der Vaart, Ivica Olic, Rene Adler, dan Valon Behrami, tertatih-tatih di papan bawah klasemen.

Inkonsistensi bermain Hamburg menambah kelimbungan manajemen yang panik dan khawatir timnya degradasi untuk kali pertamanya dalam sejarah sepakbola Jerman, mereka sampai harus empat kali mengganti manajer dari Mirko Slomka, Josef Zinnbauer, Peter Knabel, hingga akhirnya ditangani oleh mantan pemain sekaligus pelatih lama mereka, Bruno Labbadia.

Pria kelahiran Darmstadt itu resmi melatih Hamburg pada 15 April 2015, ketika klub di ambang degradasi. Tak mudah menerima pekerjaan di tengah kondisi sulit seperti yang dialami Hamburg, dan Labbadia tahu bahwa ia tak punya banyak waktu mengutak atik formasi atau mencari skema terbaik.

Hamburg pun di akhir musim hanya mampu menempati urutan 16 klasemen dari total 18 kontestan Bundesliga. Dua tim, SC Freiburg dan SC Paderborn 07, sudah dipastikan degradasi dan kini nasib ada di tangan Hamburg untuk melalui play off degradasi.

Ada peraturan di Jerman bahwa tim yang mengakhiri klasemen di peringkat 16 Bundesliga akan melawan tim peringkat tiga Bundesliga 2 dengan sistem dua leg. Mereka bertanding untuk menentukan nasib masa depan masing-masing: degradasi dan promosi.

Di leg pertama di Hamburg, laga berakhir sama kuat 1-1 kontra Karlsruher, yang berarti skor tanpa gol di leg kedua sudah cukup membawa Karlsruher promosi. Hamburg dalam kondisi sulit dan Labbadia tetap tenang menyiapkan skuatnya yang berpengalaman, alhasil, mereka menang 2-1 dan selamat dari degradasi dengan agregat gol 3-2. 

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/Pbo21e8GGrA?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 5 Manajer yang Secara Dramatis Menyelamatkan Klub Mereka dari
Degradasi

Fourfourtwo.com