10 Pemain Inggris yang Gagal Memenuhi Harapan Semua Orang

Dari setiap pemain berbakat yang mengeluarkan seluruh kemampuan yang ia miliki secara maksimal –Frank Lampard dan Paul Scholes, misalnya- pasti ada beberapa nama yang tidak bisa memenuhi potensi spektakuler yang terlihat di awal karir mereka.

Karena penulis artikel ini adalah orang Inggris, maka pendapat ini bisa saja bias, tapi rasanya ada begitu banyak pemain-pemain Inggris. yang masuk kategori semacam ini. Mungkin itu hanya imajinasi kami saja. Tapi kami cukup yakin 10 pemain ini dulu, atau bahkan ada lebih banyak saat ini yang tampil di bawah potensi kemampuan mereka sebenarnya.

Jack Wilshere

Jack Wilshere

Seharusnya tidak berakhir seperti ini…

 

Masalah yang muncul di fibula-nya akibat berbenturan dengan Harry Kane adalah yang terbaru dari daftar panjang cedera yang kerap mengganggu Wilshere, sosok pemain “paling-nyaris” di sepakbola Inggris.

Di masa-masa terbaiknya, ia adalah salah satu talenta paling luar biasa di Inggris –cerdas dalam menguasai bola dan mampu membuka pertahanan lawan dengan satu pergerakan yang pintar (atau bahkan tiga sekaligus: gol indah yang ia ciptakan menghadapi Norwich di tahun 2013 silam menjadi bukti).

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/U05Id6m_1uQ?enablejsapi=1&origin=https%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 10 Pemain Inggris yang Gagal Memenuhi Harapan Semua
Orang

Meski begitu, ia sekarang telah berusia 25 tahun dan bermain sangat sedikit jika dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya –hanya 115 kali tercatat sebagai starter di Premier League dalam jangka waktu sembilan musim. Karirnya di Bournemouth sekarang bisa dibilang cukup mengembalikan sedikit kemampuan yang ia miliki, namun ia tetap tidak membuat Dunia kagum lagi dan cedera terakhir yang ia derita kembali membuat masa depannya diragukan. Memang ia sangat tidak beruntung dengan berbagai cedera yang datang, tapi sifat-nya pun tidak selalu membantu karirnya.

Ia mungkin saja akan tetap bisa menjadi pemain yang bagus suatu saat nanti tapi, jujur saja: keluar masuk starting XI Bournemouth di pertengahan usia 20an sama sekali tidak sesuai dengan rencana besar dari pemain yang seharusnya menjadi masa depan lini tengah Arsenal dan Inggris ini.

Joe Cole

Joe Cole

Mourinho sukses mengubah gaya bermain Cole menjadi pemain kelas dunia, walaupun hanya sesaat

Di awal-awal karirnya, Cole tampak seperti mengalir begitu indah di lapangan –dipenuhi dengan berbagai pergerakan tajam berbahaya dan berlari kencang di lini tengah. Posisi terbaiknya adalah saat bermain sebagai no. 10. Tapi sayangnya, budaya sepakbola Inggris sama sekali tidak ramah bagi dirinya.

Di West Ham, ia menjadi bagian dari tim yang luar biasa berbakat namun harus rela degradasi dengan 43 poin dan saat Claudio Ranieri membawanya ke Chelsea, ia menyebutkan bahwa Cole bisa menjadi Gianfranco Zola selanjutnya klub ini. Kenyataan-nya tidak seperti itu. Walaupun Cole menjalani karir yang cukup sukses bersama Jose Mourinho di Chelsea –memenangi total 10 trofi- ia lebih sering menjadi pemain sayap pekerja keras di lapangan.

Mourinho menjadikannya pemain dengan mental juara dengan cara menghilangkan talenta kreatif yang dimilikinya, dan Sven melakukan hal yang sama di tim nasional Inggris namun. Awal penuh bencana setelah kepindahan dirinya ke Liverpool menjadi penanda buruk bagi sisa karirnya, dan sekarang pemain berusia 35 tahun ini bermain untuk Tampa Bay Rowdies di NASL hingga akhir musim nanti.

Ben Foster

Ben Foster

Foster: Kiper hebat yang tidak bisa menghadapi tekanan besar di United

Setelah kesulitan untuk mendapatkan pengganti jangka panjang Peter Schmeichel, Alex Ferguson sempat merasa dirinya mendapatkan solusi dalam diri Foster, pemain berharga £1 Juta dari Stoke ini diklaim Fergie sebagai ‘Penjaga gawang tim nasional Inggris selanjutnya”.

Pada awalnya, ia dipinjamkan ke Watford, di mana manajer-nya ketika itu, Aidy Boothroyd bahkan menegaskan lebih jauh lagi bahwa ia punya potensi menjadi penjaga gawang terbaik di Dunia. Tapi ia kesulitan untuk menembus tim utama Manchester United, hanya tampil 23 kali dalam waktu tiga tahun sebelum pindah ke Birmingham, dan kemudian West Brom, di mana ia akhirnya menjalani karir yang cukup solid namun sama sekali tidak spektakuler.

Foster kemudian mengungkapkan bahwa dirinya lega bisa lepas dari tekanan yang muncul saat bermain untuk United.

Ravel Morrison

Ravel Morrison

Mulut harimau Morrison mendatangkan banyak masalah baginya

Manajer legendaris United, Alex Ferguson (yang penilaiannya mulai kami pertanyakan di sini) menyebut Morrison adalah pemain terbaik yang pernah ia lihat di usianya, dan pemain tengah ini menjadi bintang bersama Paul Pogba dalam tim Manchester United yang menjadi juara Piala FA Junior di tahun 2011. Walaupun ia memang memiliki bakat yang hebat, Morrison adalah sosok yang sulit untuk diurus siapapun, dan menghadapi berbagai masalah di pengadilan akibat intimidasi terhadap saksi, penyerangan, dan kasus kriminal lainnya.

Fergie memutuskan ia tidak layak untuk dipertahankan dan menjual Morrison ke West Ham, di mana ia menciptakan satu gol luar biasa menghadapi Tottenham sebelum pergi dengan meninggalkan masalah lagi setelah berselisih dengan sang bos, Sam Allardyce. Masa peminjaman di QPR, Birmingham, dan Cardiff dilanjutkan dengan kepindahan ke Lazio, di mana lagi-lagi sifatnya sama sekali tidak membuatnya bisa punya teman.

Saat ini, Morrison yang berusia 24 tahun sedang berada dalam masa pinjaman di QPR hingga akhir musim, tapi hingga sekarang kita hanya bisa melihat sekilas saja kemampuan sebenarnya yang ia miliki.

David Bentley

David Bentley

Bentley mencatatkan tujuh penampilan bersama Inggris tetapi pensiun sebelum berusia 30 tahun

Disebut sebagai penerus David Beckham oleh para produsen merchandise yang mengandalkan inisial (DB), Bentley memang menciptakan beberapa gol spektakuler namun tidak memiliki semangat juang, kemampuan dan mental juara, yang sukses membuat Beckham bisa menyentuh level tertinggi.

Ia berhasil menembus tim utama Arsenal, namun kesulitan untuk mempertahankan posisi di tim utama saat terganggu masalah kecanduan judi. Ia menghabiskan waktu di Blackburn dan Tottenham, di mana ia memberikan kontribusi yang paling diingat semua orang –sebuah voli cantik dari jarak jauh dalam pertandingan yang berakhir 4-4 saat menghadapi mantan klubnya di derby London Utara.

 

Ia pensiun saat masih berusia 29 tahun karena sudah tidak memiliki gairah dan tidak mencintai sepakbola lagi, dan sekarang menjadi pemilik restoran di Marbella.

Francis Jeffers

Francis Jeffers

Jeffers gagal total di Arsenal. Tetapi dia terus tetap gagal di klub lainnya

Beberapa sosok di sepakbola secara permanen, dan dengan sangat jelas, bisa dikaitkan dengan kata-kata tertentu. Jika kami menyebut ‘kursi dokter gigi’, ‘kaki yang bagus untuk orang yang begitu besar’, atau ‘tandukan di kamar mandi’, maka Anda akan tahu bahwa kami berbicara tentang Paul Gascoigne, Peter Crouch, dan Tony Pulis.

Bagi Jeffers, label ‘Fox in The Box’ atau ‘Rubah di dalam Kotak Penalti’ menjadi miliknya dalam masa-masa sulit bersama Arsenal. Ia muncul di Everton sebagai striker tajam pencetak gol, dengan 18 gol dalam 49 pertandingan bagi The Toffees, membuat Arsene Wenger rela menghabiskan £8 Juta untuk mendatangkannya.

Rencana ini gagal total, dan karir Jeffers berakhir dengan terus turun divisi, pindah ke Australia untuk bermain dengan Newcastle Jets, dan tidak pernah mampu mengembalikan performa bagus yang ia tunjukkan pada awal karirnya di Everton. Ia mengakhiri karir di Accrington Stanley.

Lee Sharpe

Lee Sharpe

Kemampuan Sharpe berhasil dilewati oleh David Beckham

Pemain sayap yang menarik ini adalah salah satu bintang di era awal Fergie di Manchester United, namun konsentrasinya terpecah dengan gaya hidup ala playboy dan tertutupi oleh Ryan Giggs serta rekan-rekannya yang lain. Ia menjalani debut di United pada usia 17 tahun, dan menjadikan dirinya sebagai sayap kiri pilihan utama sebelum ia kehilangan posisi ini ke Giggs akibat masalah cedera dan penyakit.

Sharpe bisa bermain di kedua sisi lapangan, namun dengan Beckham tampil bagus di sisi kanan dan Ferguson yang semakin tidak sabar dengan dirinya, iapun dijual pada tahun 1996, saat usianya masih 25 tahun.

Ia pindah ke Leeds, kemudian Bradford, lalu Portsmouth –dan mengumumkan pensiun dari sepakbola pada usia 32 tahun, setelah menghabiskan satu musim di klub Islandia, Grindavik.  

Kieron Dyer

Kieron Dyer

Dyer sangat menikmati 100% sambutan dari para fans Newcastle United

Bersama Darren Anderton dan Wilshere, Dyer bisa dikatakan lebih terkenal karena masalah cedera yang ia derita dibandingkan dengan apapun yang ia lakukan di lapangan – momen paling diingat tentang dirinya mungkin malah saat diusir keluar lapangan karena berkelahi dengan rekan satu tim sendiri, jadi tampaknya semuanya memang cukup jelas.

Pemain tengah yang dinamis ini mengawali karir di Ipswich, dan tampil bagus di bawah Bobby Robson di Newcastle pada awal 2000an, namun sisa karirnya terganggu dengan begitu banyak masalah cedera jangka panjang yang datang. Ia tampil kurang dari 50 pertandingan di Liga dalam enam tahun terakhir karirnya, yang ia habiskan di West Ham, Ipswich, QPR, dan Middlesborough.

 

Ia entah bagaimana bisa tampil di Piala Dunia 2002 dan juga Piala Eropa 2004 –di mana ia bermain selama… tujuh menit saja.

Jonathan Woodgate

Jonathan Woodgate

Galacticos: Zidane, Figo, Ronaldo….. dan siapa? Woodgate

Pemain belakang yang (sebenarnya) memiliki kemampuan lengkap ini disebut sebagai ‘permata di atas mahkota’ milik Leeds United saat klub yang terhantam kesulitan keuangan ini harus menjualnya ke Newcastle, namun jujur saja, masa-masa terbaiknya sudah lewat. Ia bermain bagus untuk The Magpies, tapi cedera jangka panjang mengganggu waktunya di sana dan reaksi yang muncul saat ia pindah ke Real Madrid adalah rasa terkejut dan kebingungan –terutama karena ia masih mengalami cedera yang membuatnya harus absen sepanjang musim pertama.

Saat ia akhirnya menjalani debut, giliran para fans lah yang terkejut dan kebingungan –Woodgate menciptakan gol bunuh diri dan mendapat kartu merah. Ia bermain untuk Middlesborough, Tottenham, dan Stoke, namun tidak pernah bisa menjadi bek tengah andalan yang diinginkan Inggris. Kehormatan ini akhirnya diambil oleh Rio Ferdinand, mantan pemain Leeds lainnya.

Pada bulan Juli 2007, Woodgate dipilih sebagai transfer terburuk sepanjang abad 21 oleh para pembaca media olahraga Spanyol, Marca.

Robbie Fowler

Robbie Fowler

Pemain muda penuh harapan tetapi gagal di masa-masa emasnya

Nah. Ini bisa tampak sebagai pilihan yang kontroversial. Fowler menciptakan 120 gol dalam 236 penampilan di Liga dalam masa perdana-nya di Liverpool, dan berada di posisi keenam dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Premier League, berada di antara Thierry Henry dan Jermain Defoe.

Namun ia adalah seorang finisher yang begitu alami dan penuh insting, membuat sulit sekali membuang perasaan bahwa dirinya bisa melakukan lebih banyak lagi di karirnya. Pada akhir musim 1996/97, di usia hanya 22 tahun, ia sudah menjalani musim ketiga secara beruntun di mana ia menciptakan lebih dari 30 gol. Rekor gol di Liverpool tampak menjadi target yang seharusnya bisa dilewati dengan mudah. Namun setelah itu, ia bahkan tidak pernah lagi menciptakan 20 gol dalam semusim.

Cedera dan perselisihannya dengan Gerard Houllier mempengaruhi penampilannya di lapangan, Liverpool kemudian menjualnya ke Leeds pada tahun 2001 dan ia tidak pernah bisa memenuhi potensi yang ia miliki setelah saat itu. Karir internasional-nya juga menjadi bukti lain: ia adalah salah satu striker paling berbakat yang dimiliki Inggris, namun hanya tampil 26 kali saja, dengan catatan tujuh gol. Ini lebih sedikit dari Theo Walcott, Danny Welbeck, dan bahkan Joe Cole.  

Robbie Fowler

Semua karena fashion…

fourfourtwo.com