Perjalanan Luar Biasa Trent Sainsbury

Mimpi jadi kenyataan menghampiri bek Socceroos tetapi apakah dia akan gemilang di Eropa?


OLEH  Gunawan Widyantara     Ikuti di twitter


Jelang penutupan bursa transfer musim dingin lalu, loyalis Inter Milan terbangun pada pagi hari dengan satu pertanyaan besar terkait langkah transfer klub kesayangan mereka.

Siapakah Trent Sainsbury? 

Rasanya bukan juga jadi kejutan jika Sainsbury sendiri tidak percaya bisa merapat ke salah satu tim raksasa Eropa. 

Setelah I Nerazzurri kehilangan Andrea Ranocchia ke Hull City, bek Socceroos ini dipinjamkan Jiangsu Suning ke Giuseppe Meazza hingga akhir musim. 

#WelcomeSainsbury! Find out which shirt number the new #Inter defender will wear https://t.co/NCazVhmsEA #FCIM pic.twitter.com/UYvobc2eXE

— F.C. Internazionale (@Inter_en) January 31, 2017

Semua pihak tersenyum, transfer ini memenuhi kebutuhan semua pihak. Jiangsu bakal memenuhi aturan pemain asing baru di Tiongkok sementara La Beneamata mendapat amunisi tambahan di benteng pertahanan.

Kritik memang menyertai kepindahan pemain berusia 25 tahun ini namun jelas kesempatan untuk membungkam itu semua terbuka lebar.

Lahir di Perth, karir profesional Sainsbury dimulai di kota kecil bernama Gosford. 

Pada usia 18, bek tengah ini  diboyong Central Coast Mariners. Setelah dua musim jadi pemain pelapis, dia bertransformasi menjadi salah satu pilar utama klub.

Zeljko Kalac: Di Italia, Trent Sainsbury Harus Agresif

Sukses mengantarkan timnya merajai A-League Premiership pada 2011/12 dan A-League Championship semusim berikutnya, Sainsbury mencoba peruntungan di Belanda dengan bergabung ke tim Eredivisie PEC Zwolle.

Cedera lutut parah mengganggu kiprah di musim perdananya bersama Zwolle bahkan dia harus absen hingga kompetisi berakhir.

Meski demikian pada musim berikutnya Sainsburry berhasil mencatatkan 23 pertandingan di semua kompetisi.

Setelah ambil bagian penting dalam kesuksesan Australia di Piala Asia 2015, Sainsbury dianggap siap melangkahkan kaki lebih jauh lagi di Eropa namun dia malah mengambil opsi ke Tiongkok. 

Keputusan merapat ke Jiangsu menuai sejumlah reaksi di Australia namun Sainsbury membalasnya dengan performa top di CLS dengan bermain di 29 pertandingan untuk mengantarkan timnya menyegel peringkat kedua di bawah Guangzhou Evergrande di CSL dan Piala FA Tiongkok. 

Jatuh ke pelukan Inter, sekarang Sainsbury berada di klub dengan gengsi tertinggi di antara pemain Australia lainnya di Eropa. Kesepakatan ini terasa bergulir di waktu dan tempat yang tepat namun sebutan beruntung pada Sainsbury tidak bisa dicopot begitu saja. 

Alasannya mudah, Sainsbury dipilih untuk melapisi benteng pertahanan Inter karena tim yang bermarkas di Meazza dan Jiangsu Suning punya pemilik sama. Kesepakatan ini juga didorong oleh kepergian Ranocchhia ke Liga Primer Inggris. 

Perubahan aturan juga memaksa Jiangsu harus melepas Sainsbury karena mereka terlalu banyak memiliki pemain asing menuju musim 2017. Klub CSL sekarang hanya diperbolehkan menurunkan tiga pemain asing di waktu bersamaan dan tidak ada lagi keuntungan memiliki pemain asing dari konfederasi yang sama (AFC).

Sebelumnya CSL memperbolahkan empat pemain asing beredar di atas lapangan dengan salah satunya dihuni pemain AFC. 

Kepergian Sainsbury membuat Jiangsu tinggal memiliki duo Brasil Alex Teixeira dan Ramires plus penyerang Kolombia Roger Martinez ditambah bek tengah Korea Selatan Hong Jeong-ho. 

Meski tidak di kompetisi domestik, keempat pemain ini bisa dimainkan oleh Jiangsu saat bertarung di Liga Champions Asia yang masih menganut kuota 3+1. Saisbury adalah pemain reguler di Jiangsu namun pelatih anyar Choi Yong-soo lebih memilih mempertahankan Hong untuk musim depan. 

“Kami menghargai segala kontribusi Sainsbury musim lalu dan berterima kasih atas segala kegembiraan dan kebanggaan yang disuguhkan untuk fans,” pernyataan Jiangsu. 

“Kami berharap yang terbaik baginya di tantangan yang baru.”

GFXID - Trent Sainsbury

Fans Inter tidak bisa beranggapan tim kesayangan mereka baru saja kehilangan Ranocchia untuk digantikan seoarang bek yang ‘ditolak’ beredar di CSL.

Dalam dua tahun ke belakang Sainsbury adalah pilihan nomor satu Ange Postecoglou saat mereka merajai Asia dan menempatkan diri di posisi bagus menuju Piala Dunia 2018. 

Ramping nan ringan dan punya kecepatan tinggi, Sainsbury punya kemampuan fisik berduel dengan kebanyakan tipe striker. Dia juga terbiasa menyusun serangan dari belakang berkat Postecoglou yang kerap mengusung gaya sepakbola possession.

Cukup untuk jadi catatan, sebagai bek asing di Tiongkok, Sainsbury selalu diandalkan menempel striker terbaik lawan setiap pekannya. Pada 2016 dari lima teratas top skor CSL, mereka hanya sanggup dua kali membobol gawang Jiangsu saat Sainsbury bermain. 

Tetapi pada kenyataanny nanti, seperti halnya Ranocchia yang bukan favorit Pioli, Sainsbury bakal kesulitan mencari perhatian pelatih. Miranda dan Jeoson Murillo diprediksi bakal mengisi dua slot reguler di sektor tengah pertahanan.

Trent Sainsbury Kaget Bisa Gabung Inter Milan

Meski demikian kartu merah yang didapat Miranda di Coppa Italia lawan Lazio telah membuka kesempatan baginya untuk melakukan debut di Derby d’Italia lawan Juventus meski Gary Medel yang baru pulih dari cedera lutut difavoritkan menutup lubang yang ditinggalkan bek Brasil.

Menggaet Sainsbury dengan status pinjaman bisa dikatakan langkah pintar Inter karena tim ini bisa mengembalikannya ke Jiangsu di akhir musim jika dia tidak tampil sesuai harapan. 

Tetapi dengan opsi bek Pioli seperti Marco Andreolli dan Eloge Yao yang baru menorehkan total satu laga Serie A musim ini, jelas peluang Sainsbury untuk terlibat bersama I Nerazzurri hingga akhir kompetisi terbuka lebar. 

Merapat ke Inter benar-benar bagai mendapat durian runtuh bagi Sainsbury.