Leonardo Araujo Ungkap Kondisi Horor Ronaldo Sebelum Final Piala Dunia 1998

Leonardo Araujo mengungkap kondisi fisik eks rekannya di timnas Brasil itu, jelang final Piala Dunia 1998.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter


Kisah tentang bagaimana legenda timnas Brasil, Ronaldo, yang mengalami kejang pada malam sebelum final Piala Dunia 1998, memang sudah diketahui banyak orang.

Namun sedikit yang benar-benar tahu detail kisah mengapa Ronaldo mengalami situasi fisik horor tersebut. Baru-baru ini eks rekannya di timnas yang juga merupakan juru transfer terkenal, Leonardo Araujo, mengungkapkannya.

SIMAK JUGA: Neymar Sulit Ikuti Jejak Ronaldo

Leonardo tak menyebut suhu tubuh panas yang banyak dirumorkan sebagai penyebab utama kejangnya Ronaldo. Sampai sekarang dirinya bahkan sang pemain sendiri tak benar-benar tahu mengapa Il Fenomeno mengalami kondisi tersebut.

Sesuatu yang membuat Ronaldo dan timnya gagal fokus di partai final, hingga akhirnya kalah telak 3-0 dan menyerahkan trofi ke tuan rumah turnamen, Prancis.

“Ronaldo ketika itu akan tidur di malam sebelum final, seperti yang semua pemain lakukan. Saat dia tidur, tiba-tiba saja dia mengalami kejang-kejang. Roberto Carlos yang satu kamar dengannya kemudian berlari keluar dan meminta pertolongan,” kisah Leonardo, seperti dikutip Eurosport.

“Kami semua bergegas menuju kamarnya dan melihat sebuah situasi yang dramatis. Setelah mendapat pengobatan dan melalui kejangnya, dia langsung tertidur kembali. Dokter melakukan pemeriksaan terhadap dirinya, tapi tak mendapati hal yang mengkhawatirkan.

SIMAK JUGA: Candaan Owen Buat Ronaldo Berang

“Keesokan harinya Ronaldo tampak normal bahkan bangun pukul lima pagi, tanpa merasakan apapun. Pemeriksaan tetap dilakukan untuk mendapat kepastian pakah dirinya sanggup bermain. Saat itu Edmundo sudah disiapkan, jika akhirnya hal yang buruk terjadi.

“Kami lantas ada di stadion untuk melakukan pemanasan. Ronaldo muncul dari mobil dan mengatakan dia baik-baik saja, dia ingin bermain. Dia masuk ke ruang pelatih, keluar 20 menit berselang dan bermain.

“Tak satu pun dari kami yang benar-benar melakukan pemanasan karena khawatir dengan Ronaldo. Dia sendiri melakukannya di ruang ganti dan keluar untuk bermain. Bayangkan apa yang terlintas di pikiran kami pada saat itu.

“Apakah Ronaldo akan datang, apakah dia tidak datang, akankah dia bermain atau tidak, akankah dia berbicara atau tidak? Sungguh sebuah kekacauan, itulah bagaimana kami mempersiapkan pertandingan itu. Tak heran kami kebobolan tiga gol melawan Prancis,” tutupnya.