Hiroshi Kiyotake, Samurai Pink Yang Terlupakan

Lima tahun menjelajah Eropa, Hiroshi Kiyotake akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jepang dan kembali memakai warna merah muda bersama Cerezo Osaka.


OLEH    TEGAR PARAMARTHA     Ikuti di twitter


Nama Hiroshi Kiyotake sudah tidak asing di sepakbola Eropa setelah malang melintang di Bundesliga Jerman dan La Liga Spanyol dalam lima tahun terakhir. Namun, sayang namanya tenggelam di Sevilla meski sempat membuat pelatih Jorge Sampaoli terkesan di awal musim 2016/17.

Mengawali karir sebagai pemain akademi di klub kampung halamannya di Jepang, Oita Trinita, Kiyotake sukses menembus skuat senior setelah tiga tahun pada 2008 dan langsung memberi kesan istimewa pada laga debutnya. Pemain kelahiran 1989 tersebut mencetak gol beberapa menit setelah masuk sebagai pemain pengganti untuk menyelamatkan timnya dari kekalahan menghadapi Shimizu S-Pulse.

GALERI KARTUN GOAL INTERNASIONAL 2017

Aksi impresifnya pada laga debut membuat kualitasnya diapresiasi dan terus mendapatkan kesempatan hingga akhirnya ia direkrut oleh Cerezo Osaka pada 2010 setelah gagal menyelamatkan Oita dari jurang degradasi.

Bersama Sakura, Kiyotake menghabiskan tiga tahun dengan menjalani 82 pertandingan, mencetak 19 gol dan lebih banyak lagi assist untuk rekan-rekannya. Namanya semakin melambung setelah itu, sehingga klub-klub Eropa mulai mengendus bakatnya.

Klub Jerman, Nurnberg, menjadi tim yang berhasil menggaet pemain dengan kombinasi visi dan dribel andal itu pada 2012. Kiyotake langsung membayar kepercayaan klub barunya dengan proses adaptasi yang cepat terlepas ia masih belum menguasai bahasa Jerman.

HIROSHI KIYOTAKE NURNBERG EINTRACHT BRAUNSCHWEIG BUNDESLIGA 02222014

Pelatih klub saat itu – Dieter Hecking – memuji instingnya di atas lapangan hijau dan ia memberinya kepercayaan untuk mengambil tanggung jawab di setiap bola mati.

Empat gol dan sepuluh assist menjadi catatan yang cukup bagus bagi seorang pemain Jepang dalam menjalani debutnya di Eropa, dan banyak pihak yang mulai membandingkannya dengan Shinji Kagawa yang bersinar terlebih dahulu di Jerman.

Tiada gading yang tak retak, satu musim berselang, Kiyotake tak dapat menyelematkan Nurnberg dari jurang degradasi, tetapi bakatnya yang menawan lagi-lagi membuatnya terhindar untuk turut tenggelam bersama klubnya, Hoffenheim datang merekrut dan mengganjarnya dengan kontrak berdurasi empat tahun untuk membuatnya tetap berkarir di kasta tertinggi sepakbola Jerman.

SEMUA TRANSFER TOP MUSIM DINGIN 2017

Pemain dengan tinggi 173 cm itukembali menjadi pemain andalan di lini tengah bersama klub barunya, mengantar Hoffenheim menduduki posisi delapan di klasemen akhir, satu posisi di bawah zona Liga Europa, meski di awal musim disebut menjadi salah satu kandidat degradasi.

Sayang seribu sayang, Kiyotake yang terus berkembang harus terpaksa mengalami gangguan besar karena cedera pada musim 2015/16. Setelah sempat istirahat selama 13 minggu, ia baru kembali ke lapangan hijau pada matchweek ke-empat dan langsung menjadi bintang dalam sembilan pertandingan dengan mencetak tiga gol dan empat assist.

Setelah itu pada November 2015, ia kembali dipaksa diparkir di pinggir lapangan karena mengalami cedera yang membuatnya absen hingga tahun baru. Pelatih Hannover Michael Frontzeck mengatakan: “Cedera itu sangat pahit, untuk Kiyo dan untuk kami sebagai tim. Kami harus mengatasi absennya. Kiyo dalam performa luar biasa beberapa pekan terakhir dan menjadi pemain kunci untuk Hannover.”

HIROSHI KIYOTAKE HANNOVER GERMAN BUNDESLIGA 07052016

Pada musim berikutnya, ia mendapatkan tantangan yang lebih besar lagi setelah Sevilla datang membawanya ke Spanyol. Kiyotake bahkan menampilkan performa istimewa dalam laga debutnya di La Liga Spanyol dengan mencetak satu gol dan satu assist untuk membantu tim menang 6-4 atas Espanyol.

“Dia (Kiyotake) menjalani pertandingan luar biasa, dan menjadi salah satu fondasi kemenangan,” puji pelatih Sampaoli.

Tetapi, bagaimanapun juga, Kiyotake datang ke Sevilla karena ketertarikan Unai Emery (pelatih sebelumnya) bukan Sampaoli, dan dengan persaingan sangat ketat di Rojiblancos, dengan pemain berkualitas seperti Samir Nasri, Franco Vazquez hingga Ganso, membuat perannya semakin menipis dan hanya tampil sebanyak sembilan kali di semua ajang selama enam bulan di Ramón Sánchez Pizjuán.

Situasi yang semakin rumit dengan keinginan klub merekrut Walter Montoya dari Rosario, Kiyotake menyadari dirinya tidak akan mendapat banyak kesempatan di skuat Sevilla yang bersaing meraih gelar juara La Liga. Ia pun memutuskan untuk hengkang pada bursa Januari kemarin. Meski masih memiliki kesempatan untuk bertahan di Eropa seiring kabar ketertarikan Mainz, plus kesempatan bermain di Amerika Serikat bersama Seattle Sounders, Kiyotake memilih pulang ke Cerezo Osaka, klub yang membuat namanya terdengar di Benua Biru.

Namanya mungkin sudah semakin terlupakan di Eropa, tetapi di Jepang, ia akan kembali mendapatkan apresiasi tertinggi untuk kualitasnya di atas lapangan hijau sebagai playmaker dengan jersey pink.