Goal Retro: Debut Napoli Di Piala Champions

“Mereka [Madrid] menyebut kami mafia,” kenang Bagni, salah satu pemain yang terlibat dalam debut Napoli di kompetisi tertinggi antarklub Eropa.


OLEH   DEWI AGRENIAWATI


Kenangan duel keras antara raksasa Eropa Real Madrid dan Napoli tiga dekade silam kembali mengemuka, satu pekan sebelum dua tim tersebut kembali sua di Liga Champions. 

Saat hasil undian babak 16 besar diumumkan di Nyon akhir tahun lalu, pusat atensi tercurah pada laga-laga besar seperti Barcelona yang jumpa Paris Saint-Germain atau fans Arsenal yang kembali dibuat ketar-ketir karena mereka dipertemukan dengan Bayern Munich, tim yang mengalahkan the Gunners lima kali dalam sepuluh perjumpaan di kompetisi paling elite di Eropa ini. 

Tapi tidak bagi para pendukung setia Los Merengues dan terutama Napoli. Ingatan mereka pastinya langsung tertuju pada duel panas di Piala Champions musim 1987/88, saat I Partenopei tampil untuk kali pertama di tingkat Eropa usai menyabet Scudetto di musim sebelumnya. 

SIMAK JUGA: Magis Pele Hentikan Perang Saudara Di Nigeria

Tampil sebagai debutan, Napoli yang saat itu diarsiteki Ottavio Bianchi langsung dihadapkan pada lawan berat raksasa Eropa Madrid. Bermain tanpa suporter di Santiago Bernabeu menyusul sanksi yang diberikan UEFA atas insiden di laga antara Madrid dan Bayern Munich di musim sebelumnya, wakil Serie A Italia ini tampil penuh semangat, bahkan cenderung menerapkan permainan keras. 

Mantan gelandang Napoli Salvatore Bagni bahkan masih ingat betul bagaimana laga panas yang terjadi pada 16 September 1987 tersebut terjadi. 

“Diego [Maradona] terus bilang kepada kami ‘ayolah, mari kita habisi mereka!’  tapi saat itu saya terlalu sibuk membalas ejekan pemain Madrid yang menyebut kami ‘mafia’.” kenang Bagni, setelah pengumuman hasil undian di Nyon beberapa waktu lalu. 

Sayang di pertandingan ini, Maradona tampil kurang efektif dan Napoli pun kebobolan di menit ke-18 via penalti Michel menyusul pelanggaran Alessandro Renica terhadap Manuel Sanchis si area terlarang. Meski tanpa dukungan suporter dan hanya disaksikan total 298 jurnalis dari berbagai media, skuat Leo Beenhakker mampu menggandakan keunggulan di babak kedua lewat gol Miguel Tendillo.

Salvatore Bagni quote

Dua pekan kemudian, giliran Napoli yang menjamu Madrid di Stadio San Paolo. Harapan untuk lolos ke babak berikutnya terbuka kala Giovanni Francini membobol gawang Paco Buyo untuk memperkecil agregat kala laga baru berjalan sembilan menit. 

Sorak gembira loyalis Gli Azzurri begitu nyaring terdengar sebelum legenda Madrid Emilio Butragueno membungkam puluhan ribu suporter setelah mencetak gol dari jarak dekat hasil umpan Hugo Sanchez. 

Dengan tekanan wajib mencetak tiga gol demi lolos, Napoli bermain lebih keras di paruh kedua. Hasilnya, wasit asal Jerman Dieter Pauly harus memberikan banyak tendangan bebas. Rasa frustrasi tuan rumah makin tergambar kala Andrea Carnevalle, yang baru masuk menggantikan Bruno Giordano di menit ke-66, diganjar kartu merah langsung tiga menit sebelum laga bubar menyusul pelanggaran keras terhadap Buyo. Pengusiran Carnevalle dari lapangan memicu keributan suporter sehingga mereka melempar berbagai benda ke lapangan. 

Insiden tersebut hanya memperburuk situasi karena ujung-ujungnya tetap Madrid yang berhak lolos ke babak berikutnya dengan kemenangan agregat 3-1.