(FOTO) Pasca Golnya Dianulir, Barcelona Resmi Gunakan Teknologi Hawk Eye

Barcelona seakan belajar dari pengalaman yang merugikannya pada hari Minggu (29/01/17). Pasca gol Luis Suarez yang dianulir oleh wasit saat bertandang ke kandang Real Betis, La Blaugrana langsung menggunakan teknologi Hawk Eye, Rabu (01/02/17).

Tentu kita ingat kejadian kontroversial saat gol Suarez tidak disahkan kala bertamu ke kandang Real Betis.

Saat itu, wasit Alejandro Hernandez tidak menganggap bola hasil sepakan Suarez yang masuk ke dalam gawang Adan sebagai sebuah gol.

Kejadian yang terjadi pada menit ke 76 ini dianggap menjadi biang keladi dari ditahannya Messi dkk di Benito Villamarin Stadium, markas Real Betis.

Andai saja gol tersebut dianggap sah oleh wasit saat itu, tentunya Barcelona tidak akan tertinggal 4 poin dari pimpinan klasemen sementara La Liga, Real Madrid.

Seakan tidak mau mengulangi kejadian yang sama, pihak Barcelona langsung memasang teknologi Hawk Eye di Camp Nou.

Namun, pemasangan teknologi tersebut bukan maksud untuk mendahului pihak La Liga, yang memang belum mewajibkan peserta La Liga untuk menggunakan teknologi tersebut.

?? El Camp Nou ya tiene ojo de halcón en la Champions https://t.co/i4AyhEXNOf #FCBlive pic.twitter.com/ejepHT2Zi3

— FC Barcelona (@FCBarcelona_es) January 31, 2017

Dilansir dari Marca, pihak La Blaugrana sengaja memasang teknologi Hawk Eye sebagai sebuah kewajiban dari pihak UEFA sendiri.

Barcelona masuk ke dalam perdelapanfinal Liga Champions dan semua klub yang masuk ke babak 16 besar tersebut diwajibkan memasang teknologi Hawk Eye di stadionnya masing-masing.

Sekedar informasi, teknologi Hawk Eye merupakan sistem komputerisasi yang bisa digunakan untuk mengawasi pantulan bola secara visual.

Sistem ini telah digunakan secara resmi di sejumlah olahraga seperti kriket, tenis, sepakbola, bulutangkis dan lainnya.

Kelebihan sistem ini secara virtual mampu melacak lintasan pergerakan bola yang menampilkan catatan jalur statistik sebagai gambar bergerak.

Sistem ini dikembangkan oleh Dr. Paul Hawkins di Inggris dan telah diterapkan pada tahun 2001 untuk pertandingan kriket.