4 Alasan Mengapa Era Generasi Emas Barcelona Sudah Berakhir

Kekalahan 0-4 Barcelona atas Paris Saint-Germain (PSG) di leg pertama 16 besar Champions League berbuntut panjang. Itu bukan hanya sekedar kekalahan biasa bagi Blaugrana, terutamanya bagi pengamat sepak bola Eropa yang terkejut dengan hasil akhir tersebut.

Gol-gol yang tercipta di gawang Marc Andre ter Stegen dan diciptakan oleh dua gol Angel Di Maria, Julian Draxler, dan Edinson Cavani menandakan ada yang tidak beres dengan Barcelona. Bahkan satu tema besar menyeruak setelahnya, penilaian bahwa era generasi emas dan kejayaan Barcelona telah berakhir.

Apa benar demikian? Apa alasan penyebab opini tersebut? Ftb90 pun coba membeberkannya untuk Anda pembaca setia:

4. Produk La Masia Bisa Dihitung dengan Jari Tangan

FBL-EUR-C1-PSG-BARCELONA

Barcelona dikenal sebagai salah satu klub terbaik dunia bukan hanya karena permainannya yang bagus, tapi juga karena jebolan La Masia yang menembus tim utama. Alumni La Masia memiliki filosofi kuat akan gaya bermain ofensif dan penguasaan bola Barcelona, sehingga tiap musimnya para alumnus itu dinanti fans klub.

Namun sejak Barcelona ditangani oleh Luis Enrique, produk La Masia yang menembus tim utama bisa dihitung dengan jari tangan. Saat ini hanya ada Rafinha Alcantara dan Jordi Masip yang menembus tim utama, sementara sisanya dipinjamkan ke klub lain.

Bagaimana bisa Barcelona kembali memunculkan penerus generasi emas seperti Xavi Hernandez, Lionel Messi, Carles Puyol, Victor Valdes, dan Andres Iniesta, jika alumni La Masia tak lagi dipercaya masuk skuat utama klub? Jadi, bisa dikatakan bahwa era kejayaan Barcelona telah berakhir.

3. Anti-Taktik Gaya Main Barcelona

Paris Saint-Germain v FC Barcelona - UEFA Champions League Round of 16: First Leg

Ini sedianya merupakan masalah klasik yang dialami Barcelona. Dahulu mereka memiliki gaya bermain tiki taka, kental dengan penguasaan bola dan permainan yang menghibur. Kini, permainan itu mengalami perubahan di era Enrique, yang lebih memainkan direct football dan serangan balik mengandalkan trisula MSN (Messi, Luis Suarez, dan Neymar).

Namun kedua gaya main itu sudah dapat diprediksi lawan-lawan Barcelona. PSG misalnya, mereka hanya menjawab filosofi bermain Barcelona dengan pertahanan yang solid dan serangan balik yang efektif. Nah, ketika Barcelona dihadapkan dengan permainan seperti itu, mereka tak memiliki opsi lain alias rencana B.

Hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Barcelona tak pernah memiliki rencana B ketika permainan mereka dibaca lawan. Tentu mereka tak bisa selalu mengandalkan magis Messi, dan jika lawan-lawan sudah tahu bagaimana menghentikan permainan mereka, Barcelona akan selalu menemui jalan buntu ketika melawan klub lain.

2. PSG, Tanda Awal Era Baru

FBL-EUR-C1-PSG-BARCELONA

Tanpa memandang rendah PSG, mereka bisa dikatakan baru menjadi klub besar beberapa tahun terakhir. Les Parisiens terbentuk instan dengan kucuran dana konsorsium Timur Tengah yang mendatangkan nama-nama besar ke Parc des Princess.

Mereka bukan klub yang dibentuk dengan ideologi atau filosofi yang menjadi pondasi awal laiknya Manchester United, AC Milan, Barcelona, atau Liverpool. Namun pada akhirnya ‘uang’ berbicara, dan kumpulan bintang PSG mampu mempermalukan Barcelona.

Hal ini bisa jadi penanda era baru, era sepak bola modern. Klub-klub yang dibangun instan dengan kekayaan sang pemilik, bisa menggeser dominasi dan supremasi klub dengan sejarah serta tradisi yang kuat. Barcelona

1. Kehilangan Sosok Pemimpin dan Petarung

Carles Puyol Announces He Will Leave FC Barcelona At End Of Season

Dahulu, ketika Barcelona dalam kondisi tersudut dan butuh inspirasi, mereka selalu memiliki Puyol atau Xavi yang selalu memberi inspirasi dengan caranya masing-masing. Puyol dengan jiwa petarung dan contoh permainan heroiknya di lapangan pertandingan, sementara Xavi dengan visi bermainnya yang kerap membongkar pertahanan lawan.

Saat ini pun mereka sedianya memiliki Iniesta dan Messi. Tapi Iniesta jarang bermain akibat cedera dan kian dekat dengan akhir kejayaannya, ia juga pasif ketika mengemban ban kapten di lapangan.

Sementara Messi tak bisa berkutik ketika aliran bola kepadanya dipotong lawan, atau dia dijaga ketat lawan. Alhasil ketika Barcelona butuh sosok pembeda, tak ada yang mampu memberikannya dan menunjukkan akhir kejayaan klub asal Catalunya itu.