Mengerikan, Pesepakbola Top Dunia Terancam Sakit Paru-paru di China?

Para pesepakbola top dunia memang tengah berbondong-bondong melanjutkan karier di daratan China dengan iming-iming bayaran selangit. Sayangnya, keputusan hijrah tersebut justru membuat para pemain terancam kena penyakit paru-paru akibat polusi udara di China semakin mengkhawatirkan, Selasa (24/01/17).

Dengan iming-iming gaji besar, klub-klub elit Liga Super China sukses memboyong beberapa nama bintang sepakbola untuk merumput di Negeri Tirai Bambu, sebut saja seperti Oscar, Carlos Tevez, dan sebagainya.

Namun, para pesepakbola top yang berkarier di Liga Super China dengan gaji besar tersebut, bukan tanpa resiko.

Negeri Tirai Bambu sendiri saat ini sedang dilanda polusi udara yang mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan warganya.

Seperti dilansir dari Telegraph, pemerintah China tengah gencar memerangi polusi udara yang kerap melanda Beijing dan beberapa kota lainnya.

Polusi udara di China memang semakin parah, pemerintah telah memperingatkan seluruh masyarakat di 62 kota, termasuk Beijing, agar mewaspadai dampak buruknya bagi kesehatan. Bahkan total 20 kota di antaranya siap untuk dievakuasi jika terjadi keadaan darurat.

Tiananmen Square: Residents in Beijing wear masks to protect themselves from the air pollution Kondisi polusi udara di China semakin mengkhawatirkan.

Nama-nama besar seperti Oscar, Tevez, Ramires, Lavezzi, Hulk, hingga Kanoute terancam terkena polusi udara. Tak hanya itu, dampak yang paling mengerikan tentu ancaman terkena penyakit paru-paru.

Namun, yang paling beresiko terkena polusi adalah mantan pemain Sevilla, Frederic Kanoute yang memperkuat klub Beijing Guoan FC sejak 2012 lalu.

Pasalnya, kota Beijing yang ditinggali Kanoute jadi kota yang paling parah pencemaran udaranya di China.

Image result for frederic kanoute chinaFrederic Kanoute saat bertemu dengan legenda Manchester United, David Beckham di China.

Saking parahnya, polusi udara di Beijing telah melampaui ambang batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal tersebut membuat banyak sekolah dan kantor tutup, pembatalan penerbangan, dan pelarangan mengemudi.