Goal Retro: Rene Higuita, Si Kalajengking Yang Tak Lagi Buruk Rupa

Gila, eksentrik dan penuh kontroversi. Bagaimana pun, Rene Higuita berhasil mengguncang dunia dengan satu aksi melegendanya: tendangan kalajengking!


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti di twitter


September 1995, siapa pun yang menyaksikan laga persahabatan antara Inggris dan Kolombia mungkin akan selalu mengingat satu atraksi monumental di Wembley. Entah sepakan Jamie Redknapp kala itu tujuannya apakah melepas tembakan on target, atau hendak mengirim crossing. Namun yang jelas, setelahnya seluruh insan sepakbola bisa menikmati sebuah aksi yang akan lekang dalam buku sejarah olahraga nomor satu dunia ini.

Rene Higuita, si penebar demam sebuah aksi yang amat digandrungi di tahun 1995 dan setelahnya, yang terrepresentasi dalam dua kata: Tendangan Kalajengking!

Bola tampak akan melintasi kepala Higuita. Namun, sebelum si kulit bulat benar-benar melewatinya, dia melompat dalam posisi membelakangi bola lalu melakukan tendangan dengan kedua tumitnya. Hebatnya, dia tak memandangi bola sama sekali! Sebuah skill yang bakal selalu menempati daftar teratas penyelamatan terbaik sepanjang masa, sebuah atraksi yang lantas menahbiskan dia dengan sebutan ‘El Loco’, yang berarti ‘Si Orang Gila’.

“Saya sama sekali belum pernah melihat aksi yang seperti itu [tendangan kalajengking]. Entahlah, saya kira kami tidak akan bisa melatih kiper kami untuk melakukan atraksi tersebut,” ungkap Terry Venable, pelatih Inggris, setelah pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol itu.

SIMAK JUGA – Goal Retro: Kisah Rivalitas Abadi Tottenham Hotspur Vs Chelsea

Sepanjang karier profesionalnya, Higuita banyak mewarnainya dengan beragam eksentritas, seperti halnya ketika kita melihat sosok kiper asal Amerika Selatan lainnya, Jose Luis Chilavert, yang mendunia karena kerap mengambil tendangan bebas dan penalti, baik bagi klub mau pun negaranya.

“Manusia selalu dikenang karena mahakarya mereka. Demikianlah adanya bagi mereka yang berkarya,” ujar pria 50 tahun tersebut, merujuk pada kreasi tendangan kalajengking-nya.

Dalam 68 pertandingan yang dilakoninya bagi Kolombia, Higuita berhasil mencatatkan delapan gol, satu rekor yang bahkan lebih baik dibandingkan torehan striker Emile Heskey bagi Inggris. Selama 25 tahun berkecimpung sebagai penjaga gawang, dia berhasil mengoleksi 25 gol liga dalam 380 penampilannya, dengan sebagian besar dilaluinya di Amerika Selatan. Kampiun Copa Libertadores bersama Atletico Nacional pada 1989 dan merengkuh titel Liga Kolombia pada 1991 dan 1994 dengan klub yang sama. Satu-satunya tim yang dibela Higuita di Eropa adalah Real Valladolid, di mana dia berkancah di Benua Biru hanya satu musim.

Fans di Eropa cukup menyayangkan karena tak bisa menikmati aksi masyhurnya itu, tapi dia tetap mendemonstrasikan diri sebagai kiper hebat berjuluk Si Tendangan Kalajengking. Higuita mungkin menjadi sosok pertama yang memperkenalkan peran kiper ‘sweeper’ dalam satu pertandingan, di mana dia mampu memainkan bola di luar kotak penalti sebab ditunjang skill olah bola yang aduhai, sebagaimana saat dia melakukan dribel dan berhasil melewati Gary Lineker di luar areanya dalam laga yang berakhir imbang 1-1 antara Kolombia dan Inggris pada 1988. Akan tetapi, dia tetaplah kiper, bukan striker. Dalam satu kesempatan di Piala Dunia 1990, Kolombia bentrok dengan Kamerun dan Higuita tak mampu mengecoh Roger Milla di luar kotak penalti sebelum si striker merebutnya lalu menodai gawangnya. Mirisnya, gol itu memaksa Kolombia mengepak koper dari ajang prestisius empat tahunan itu.

SIMAK JUGA – Goal Retro: Diego Maradona & Napoli, Riwayat Dewa Argentina Di Selatan Italia 

Isu kontroversial di luar lapangan turut menjadi bumbu perjalanan kariernya. Tidak tanggung-tanggung, pada 1993, dia pernah merasakan hidup di balik jeruji besi atas keterlibatannya dalam penculikan, dengan bertindak sebagai perantara duo bandar Narkoba, Pablo Escobar dan Carlos Molina. Dia pun harus dipenjara selama tujuh bulan, yang membuat dia kehilangan tempat di Piala Dunia 1994. Tak heran bila lantas Kolombia tak bisa berbuat banyak bersama kiper pelapis, Osar Cordoba, dengan mendapati mereka tersingkir di putaran pertama.

Sikap indisipliner sang penjaga gawang eksentrik tak berhenti sampai di situ. Pada 2004, Si Orang Gila kembali harus terjerat kasus hukum setelah positif dinyatakan menggunakan kokain, yang berujung pada skorsing larangan terlibat dalam pertandingan.

Setelah hiruk-pikuk kariernya sebagai pesepakbola tamat, dia memutuskan untuk merambah dunia selebritas pada 2005. Pada tahapan ini, sekali lagi, tindakan nyeleneh kembali mengiringi kehidupan Higuita. Dia melakukan operasi plastik! Ya, langkah ini ditempuhnya demi menunjang peran barunya sebagai artis untuk sebuah program reality show, ‘Survivor’, versi Kolombia.

“Saya lelah menjadi Rene yang jelek, saya ingin menjadi Rene yang ganteng,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.

Seperti dilansir Guardian, bukan tanpa sebab Higuita memutuskan untuk operasi plastik. Dia mengoperasi hidungnya, implan dagu dengan silikon, mengganti warna kulit, memotong kulit kelopak mata, sedot lemak dan perbaikan otot perut setelah dia dinobatkan sebagai ‘Ikon Kolombia Paling Jelek’. Setelah sebulan pasca-operasi, Higuita muncul dengan tampilan barunya dan dengan bangga mengatakan: “Saya sekarang sempurna!”

Higuita juga mulai aktif terlibat dalam kegiatan politik di Kolombia, utamanya di bidang olahraga dan aktivitas sosial. Statusnya sebagai pesepakbola eksentrik kemudian melegenda setelah dia dijadikan model Subbuteo – miniatur untuk tokoh olahraga – berbentuk ciri khas dia, tendangan kalajengking.

Sepakbola tak sepenuhnya ditinggalkan Higuita selepas pensiun. Keinginannya membesut timnas Kolombia terwujud Pada 2008 ketika dia merambah karier manajerial meski pada akhirnya ‘hanya’ menjadi pelatih kiper mantan klubnya, Valladolid. empat tahun berselang, dia hijrah ke Al Nassr di Arab Saudi untuk mengambil peran yang sama.

SIMAK JUGA – Goal Retro: Trofi Liga Primer Inggris Perdana Arsenal & Arsene Wenger

Di satu kesempatan, sang kiper legendaris diundang untuk memainkan laga terakhir atau perpisahan di kampung halamannya, Medellin, menghadapi kesebelasan pilihan yang berisi para legenda Kolombia macam Carlos Valderrama dan Faustino Asprilla. Tak pelak, saat muncul momen bola mengarah ke atas kepalanya, dia pun untuk terakhir kalinya mempersembahkan trik khasnya, tendangan kalajengking.

Memang kariernya di kancah Eropa tak banyak menghadirkan kesan mendalam, tapi dunia akan selalu mengenang dia sebagai sosok pemain gila, eksentrik, bahkan aneh. Dialah Rene Higuita, Si Tendangan Kalajengking.