Merancang Masa Depan

Melupakan kekecewaan hasil kekalahan final AFF Suzuki Cup 2016 dan menyiapkan masa depan timnas Indonesia.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Keajaiban itu tidak pernah tiba.

Pria setengah baya itu nyaris tidak berubah seperti saat perjumpaan kami lima tahun lalu. Dia masih betah menghabiskan senja di Sanam Luang. Berjalan-jalan mengitari padang luas di depan Istana Raja itu. Jika bosan, sesekali dia mampir ke pier Tha Thien. Duduk menatap Sungai Chao Phraya, menunggu matahari terbenam di balik punggung Wat Arun.

Cita-citanya hanya satu. Kelak jika nasib baik tiba, dia bisa berjumpa Raja di Sanam Luang dan bersimpuh di kakinya untuk memohon berkah. Dengan begitu pria setengah baya itu berharap kemujuran akan serta merta menghampiri. Hidupnya sebagai supir tuk-tuk sangat pas-pasan. Upah transportasi dari para turis backpacker di Khao San kadang tak bersisa, dihabiskan untuk bertaruh tarung muay thai di Stadion Ratchadamnoen.

Namun, harapannya membara. Sekali saja nasib mujur berpihak kepadanya, akan ditinggalkannya segala kemelaratan itu. Lalu dia akan hidup bersenang-senang sepanjang sisa hidupnya.

CATATAN AFF SUZUKI CUP 2016: Mencari Penyembuh

Nama kuno Bangkok adalah Krung Thep — kota seribu malaikat. Tapi, tidak semua malaikat berbaik hati memberikan keajaiban begitu saja. Tidak juga untuk timnas Indonesia yang mendamba gelar bergengsi pertama sejak 1991 pada leg kedua final AFF Suzuki Cup 2016, Sabtu (17/12) lalu.

Bertanding di hadapan lebih dari 40 ribu pendukung Thailand, dengan mengantungi kemenangan 2-1 pada leg pertama, Indonesia penuh harap. Hampir dua ribu pendukung Indonesia datang ke Stadion Rajamangala memendam ekspektasi untuk menyaksikan kejayaan Merah-Putih di pentas sepakbola regional.

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia harus mengakui kekalahan 2-0. Kemujuran kali ini mengkhianati Garuda. Bola sapuan Fachruddin Aryanto malah menghantam lutut Siroch Chatthong dan melesak masuk ke dalam gawang Kurnia Meiga. 

Chatthong benar-benar membuat fans Indonesia patah hati. Pada menit-menit awal babak kedua, Chatthong melepaskan tembakan terarah yang sulit dijangkau Meiga. Gelar juara pun terbang, Indonesia harus bertekuk lutut di hadapan raja Asia Tenggara — Thailand. Mimpi anak bangsa buyar.

Harapan yang begitu tinggi sontak menjadi kekecewaan. Muncul pula pertanyaan, apakah semuanya sia-sia? Perjuangan pemain Indonesia dan dukungan penuh para fans — apakah semuanya percuma?

GALERI AFF SUZUKI CUP 2016: Aksi Perjuangan Timnas Indonesia

Saya tidak menemukan kekecewaan yang berlebihan di luar stadion beberapa saat setelah pertandingan selesai. Atmosfer bahkan terasa positif dan luar biasa. Kedua kelompok fans saling memberikan aplaus dan melakukan high five. Kedua kelompok fans seperti saling memberi pengakuan. Kualitas Thailand dipuji dan semangat juang Indonesia dikagumi.

Tentang situasi internal tim, saya yakin suasana kekompakan tim Indonesia berhasil menyalakan lagi api semangat pelatih Alfred Riedl, yang pernah mengutarakan niat pensiun dari sepakbola. Meski Riedl belum tentu melanjutkan kiprah sebagai pelatih timnas Indonesia setelah masa kontraknya berakhir tahun ini, tetapi sebagian fans merasa pelatih 67 tahun itu masih layak dipertahankan.

Pendekatan taktik Riedl pada turnamen ini membagi dua fans Indonesia, ada yang memaklumi pragmatisme itu dan ada pula yang menyayangkannya. Tapi, dengan materi dan kesempatan yang dimiliki, Riedl beserta staf kepelatihan telah menerapkan pilihan terbaik. Menggunakan analogi, Riedl melatih tim ini seperti ikan yang kemampuan berenangnya terus diasah — bukan malah diminta memanjat pohon.

Faktor yang mendukung dipertahankannya Riedl adalah karena sang pelatih telah memahami karakter pemain Indonesia. Satu hal positif lain yang muncul pada turnamen ini adalah disiplin taktik yang diterapkan Riedl. Apabila penerapan taktik seperti itu dilakukan secara terarah di setiap level piramida sepakbola nasional, kita tidak akan kesulitan mencari 11 pemain terbaik dari 250 juta penduduk Indonesia — siapa pun pelatihnya.

CATATAN AFF SUZUKI CUP 2016: Membina Harapan

Penunjukan pelatih timnas bukan satu-satunya keputusan krusial PSSI, tetapi juga pemilihan direktur teknik yang bertugas merancang pengembangan sepakbola Indonesia. Sang direktur terpilih perlu merancang target jangka pendek, menengah, dan panjang. Jika mengambil titik awal pada penyelenggaraan Piala Asia 2007, siklus tiga tahun perlu diperhatikan PSSI.

Mari menelaah siklus tersebut. Usai menjadi tuan rumah Piala Asia 2007, Indonesia menembus final AFF Suzuki Cup 2010. Kemudian, seturut siklus tiga tahunan, final SEA Games 2013 dan AFF Suzuki Cup 2016 juga digapai. Sayang sekali jika siklus ini hanya menjadi kebetulan matematika belaka.

Penunjukan direktur teknik akan sangat menentukan kebijakan susunan pelatih tim di level junior. Idealnya, tim junior hingga senior menggunakan metode dan taktik yang sama. Riedl mungkin tak perlu kembali turun tangan menjadi pelatih tim senior, misalnya, tetapi menjadi direktur teknik. Hans-Peter Schaller dapat dipercaya naik jabatan. Begitu seterusnya, timnas junior hendaknya ditangani pelatih yang memiliki kesamaan visi.

BERITA AFF SUZUKI CUP 2016 – Stefano Lilipaly: Gelar Juara Tidak Penting

Timnas senior Indonesia memiliki tantangan besar karena tidak mengantungi agenda kompetitif apa pun hingga hampir lima tahun ke depan selain Kejuaraan AFF. Sebabnya, sanksi FIFA mencegah Indonesia bertanding pada kualifikasi Piala Dunia 2018 yang merangkap kualifikasi Piala Asia 2019. Jadi, agenda laga kompetitif internasional berikutnya yang dapat diikuti Merah-Putih adalah kualifikasi Piala Dunia 2022, yang kemungkinan digelar pada 2020!

Melihat agenda tersebut, pengembangan pemain muda memegang kunci penting. Sekalian saja tim SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 diproyeksikan untuk mengikuti Kejuaraan AFF 2018. Kenapa tidak?

Indonesia harus berubah, kecuali kita ingin berjumpa lima tahun lagi dengan pengemudi tuk-tuk setengah baya yang masih setia mencari keajaiban di Sanam Luang.