Boxing Day, Antara Tradisi dan Hiburan Sepakbola di Inggris

Tanggal 26 Desember 2016 waktu setempat, sebanyak 16 tim Liga Primer Inggris akan melangsungkan pertandingan di hari yang dikenal dengan istilah boxing day. Sebenarnya apa itu boxing day? Kenapa dinamakan demikian? Apakah ada hubungannya dengan cabang olahraga tinju? Sabtu (24/12/16).

Bulan Desember merupakan salah satu periode terpenting dalam kalender sepakbola Inggris dan juga masyarakat Inggris pada umumnya. Di bulan ke-12 ini, (setidaknya) ada dua event penting, yaitu Natal dan boxing day. Keduanya punya arti sendiri-sendiri, baik itu bagi umat Kristiani, pecinta sepakbola, dan pecinta sepakola beragama Kristen.

Seperti diketahui, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan salah satu hari besar mereka tiap tanggal 25 Desember. Selang satu hari kemudian, tepatnya 26 Desember, ada satu tradisi perayaan yang telah terjaga sejak era Victoria (Victorian Era) di Inggris yang populer dengan sebutan boxing day.

Bagi penikmat sepakbola, khususnya sepakbola Inggris, baik itu English native maupun fans overseas, tanggal 26 Desember merupakan hari dimana mereka bisa menikmati kado Natal berupa pertandingan Liga Primer Inggris. Hari itu kini biasa disebut boxing day fixtures.

Berikut adalah jadwal lengkap Liga Primer Inggris per tanggal 26 Desember 2016:


8 pertandingan ramaikan boxing day.

Kali ini, ZB akan memaparkan serba-serbi mengenai boxing day, mulai dari sejarah, kritikan, hingga catatan-catatan penting yang terjadi di Liga Primer Inggris di tanggal 26 Desember.

1. Sejarah Boxing Day

Sebagian orang mungkin mengartikan kata boxing di sini sebagai tinju. Padahal, kata dasar dalam konteks ini adalah box, yang dalam Bahasa Indonesia berarti kotak (pembungkus hadiah). Lebih jauh lagi, boxing di sini memiliki arti membungkus hadiah Natal atau sebagian pendapat mengartikan boxing day sebagai pemberian dan membuka hadiah Natal.

Banyak pendapat berbeda yang muncul terkait sejarah dan asal-usul boxing day. Yang paling populer, kata boxing diambil dari Christmas Box (hadiah Natal – Inggris Raya). Yang jelas, sepakbola tidak ada hubungannya dengan boxing day meski belakangan istilah itu lekat dengan Liga Primer Inggris.


Ilustrasi boxing day pada zaman dahulu.

Awal mulanya, boxing day adalah tradisi khusus di kalangan keluarga kaya di abad petengahan Inggris, tepatnya di era Ratu Victoria. Saat itu, pegawai atau kaum pekerja yang bekerja untuk keluarga kaya harus tetap melayani tuan besarnya di hari Natal, dan mereka baru mendapat libur di hari berikutnya.

Di hari itu, pekerja-pekerja tersebut akan mendapatkan hadiah dari majikannya dalam bentuk kotak (box) yang dibungkus rapi. Semenjak ‘tradisi’ itu lah kemudian berkembang nama boxing day sebagai hari dimana orang-orang mendapatkan hadiah Natal.

Dalam perkembangannya hingga sekarang, tidak ada perayaan khusus menyambut boxing day karena pada praktiknya, tidak semua orang Kristen mengetahui (apalagi merayakan) tanggal 26 Desember. Hanya beberapa negara saja yang menjadikan boxing day sebagai hari yang spesial.

Inggris Raya, Kanada, Selandia Baru, Australia, dan beberapa negara persemakmuran Inggris memberikan atensi khusus terkait boxing day. Selebihnya, umat Kristiani di negara lain hanya menganggapnya sebagai hari libur (di Inggris disebut National Bank Holiday).


Pemerintah Inggris sempat larang penggunaan anjing untuk memburu karena dikhawatirkan si anjing menjadi terlalu buas di tempat umum ke depannya.

Di Inggris sendiri, boxing day biasanya dirayakan dengan kegiatan berburu rubah atau fox hunting. Namun sejak tahun 2005, parlemen Inggris mengetatkan aturan karena menggunakan anjing untuk memangsa buruannya.


Boxing day dijadikan ajang berkumpul untuk mereka yang tidak datang ke stadion.

Selain itu, orang Inggris memanfaatkan momen ini untuk berkumpul dengan keluarga, bertukar kado, nongkrong di pub, dan tentu saja, (lagi-lagi) menonton sepakbola.

Mengenai sepakbola, awalnya Football Association (FA) mengatur agar laga yang digelar di boxing day tidak mempertemukan dua tim yang lokasinya berjauhan. Ini dilakukan supaya fans tim tamu tidak diberatkan dengan jarak.

Tidak hanya itu saja, tidak jarang tim sepakbola di Inggris harus bermain dalam waktu yang berdekatan di periode boxing day, misalnya, bertanding di hari Jumat dan Minggu. Oleh karena itu, cukup sering boxing day menghadirkan laga derby.

Sayang, belakangan suporter tamu tetap harus bepergian jauh untuk menemani tim kesayangannya bertanding, walau seharusnya bukan masalah besar mengingat tanggal 26 Desember adalah hari libur.

Berikut perhitungan jaraknya (via distancecalculator):

WatfordvsCrystal Palace51 km
ArsenalvsWest Bromwich Albion195 km
BurnleyvsMiddlesbrough143 km
ChelseavsBournemouth169 km
Leicester CityvsEverton197 km
Manchester UnitedvsSunderland234 km
Swansea CityvsWest Ham United370 km
Hull CityvsManchester City153 km

 

2. Dikritik Pesepakbola, Dinanti Suporter

Tim-tim peserta Liga Primer Inggris musim ini bisa dikatakan beruntung. Sebab, mereka tidak perlu merasakan padatnya jadwal liga ketika memasuki festive period, atau periode waktu antara Natal dan tahun baru.

Sebelumnya tidak jarang ada tim yang harus bermain dua kali dalam tiga hari dan hanya mendapat satu hari waktu untuk beristirahat. Oleh sebab itu lah, seperti disebutkan sebelumnya, pertandingan-pertandingan di boxing day (seharusnya) mempertemukan dua tim yang berjarak dekat, terkadang malah tersaji laga derby.

Para penggemar jelas ‘diuntungkan’ dengan adanya partai liga di tanggal 26 Desember. Selain karena pada tanggal tersebut pemerintah setempat memberlakukan hari libur nasional, di boxing day ini mereka berkesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat, baik itu di rumah, atau, jika kebetulan memiliki tiket pertandingan, di stadion.

Lain penggemar, lain pelaku sepakbola. Sejumlah manajer dan pesepakbola mengutarakan pendapatnya perihal boxing day, ada yang mengkritik, ada pula yang tidak ambil pusing.


Juan Mata awalnya sempat mengeluh, tapi kemudian malah menikmatinya.

Gelandang Manchester United, Juan Mata, misalnya. Sebagai pemain asing di Liga Primer Inggris, ia awalnya mengaku sulit untuk ‘bekerja’ di hari yang seharusnya ia habiskan bersama keluarga. Namun, ia bisa menerima hal itu, dan mengatakan atmosfer stadion justru hangat dan meriah di tengah dinginnya cuaca di bulan Desember.

“Faktanya, pekan ini kami harus bermain dua kali dalam waktu berdekatan, Jumat dan Minggu,” kata Mata mengomentari boxing day edisi 2014.


Kevin Nolan ketika masih menjabat kapten di West Ham United memimpin pasukannya di laga boxing day.

Mantan manajer Tim Nasional Inggris, Sam Allardyce, memiliki pandangan sendiri. Meski berat, ia tetap yakin tim yang diasuhnya bisa melewati hambatan di boxing day, masa krusial di Liga Primer Inggris.

“Seberat apa pun, saya pikir anak-anak cukup percaya diri dan mereka yakin bisa melakukannya,” ujar eks manajer West Ham United, Sam Allardyce, kepada Daily Mail tahun 2014 silam, dimana The Hammers harus berhadapan dengan Chelsea tanggal 26 Desember dan Arsenal dua hari berselang saat itu.

Manajer sekelas Sir Alex Ferguson pun pernah mengeluh seputar boxing day. Keluhannya bukan tentang adanya pertandingan di tanggal 26 Desember, tapi lebih kepada tidak adanya waktu istirahat di winter break, atau libur musim dingin. Padahal, menurutnya, liburan diperlukan untuk mengembalikan kebugaran para pemain mengingat padatnya jadwal kompetisi. Belum lagi, boxing day kerap kali merenggut korban.

Di beberapa liga di Eropa, operator liga memang meliburkan kompetisi selama beberapa pekan. Bundesliga misalnya, usai ‘laga terakhir’ tahun ini, yaitu per tanggal 22 Desember, roda kompetisi akan berhenti total dan baru dimulai lagi satu bulan kemudian, tepatnya 21 Januari 2017.

Mesut Ozil pernah berharap Liga Primer Inggris meniru aturan Bundesliga yang memberhentikan kompetisi sepakbola sejak Natal hingga pertengahan atau akhir bulan Januari. Menurutnya, setiap pesepakbola butuh waktu untuk menikmati libur bersama keluarga atau sekadar beristirahat menghilangkan jenuh di tengah kesibukan mereka bermain sepakbola.


Selain karena pesertanya yang lebih sedikit dan hawa dingin di bulan Desember-Januari, Bundesliga menganggap momen Natal sebagai event yang penting.

Namun kembali lagi, sepakbola adalah hiburan dan tradisi tersendiri bagi para penikmatnya. Melihat loyalitas fans yang rela bepergian ke kota lain demi menemani tim kesayangannya bertanding, padahal di waktu bersamaan mereka juga berhak ‘beristirahat’, klub-klub dan operator liga tentunya lebih sulit menemukan alasan tepat untuk tidak menyuguhkan hiburan di boxing day.

3. Sepenting Apakah Boxing Day? Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Di sub-judul sebelumnya, disebutkan jika penikmat sepakbola di Inggris menantikan pertandingan di Boxing day. Kenyataannya memang demikian, setidaknya itu pengalaman yang penulis temui saat berbincang dengan fans di Inggris melalui media sosial Facebook.

Sebagai orang yang tidak merayakan hari Natal, penulis pernah disapa oleh salah satu teman Facebook. Dia menanyakan bagaimana Natal yang dirayakan penulis beberapa tahun lalu.

Good Christmas?” tanya kawan di postingan Facebook miliknya membalas ucapan selamat hari raya Natal dari penulis.

Karena penulis tidak merayakan Natal, tentu dijawab, “It’s always good for us, but I don’t celebrate. How’s yours mate?

Perbincangan berlanjut hingga penulis mendengar cerita menarik dari kawan penulis. Dikatakan bahwa mereka (orang Inggris) biasanya menanyakan atau mendoakan agar saudara atau rekan mendapatkan Natal yang baik.

Terkesan basa-basi, tapi ini menjadi penting karena tidak semua orang mendapat Natal yang diinginkan; berkumpul bersama keluarga, kekasih, rekan, dan sebagainya. Jika mengalami Natal yang tidak berkesan, maka biasanya mereka akan mencari ‘pelarian’.

Beberapa akan mengunjungi bar atau pub langganan mereka, menikmati pie n’ mash, atau hanya berdiam di rumah saja. Tapi yang paling sering dilakukan sebagai pelarian adalah, ya, sepakbola. Jika tidak bisa hadir di stadion, masih ada mendengarkan ulasan pertandingan di Radio Times sambil mengenakan kostum Santa di hangatnya sofa mereka.

Kendati demikian, boxing day bukan berarti pelarian bagi mereka yang mengalami Natal yang tidak berkesan. Bagus atau tidak, banyak fans di Inggris akan tetap menantikan sepakbola.

“No matter how sh*t your xmas mate, tomorrow’s a matchday, grab a pint or two, we celebrate it like we’re watching Soccer Saturday!” – “Tidak penting bagaimana Natal mu, kawan. Besok ada pertandingan, ambil gelas (bir) mu, mari rayakan seperti kita menonton Soccer Saturday (salah satu program acara di stasiun televisi Sky)!” kata rekan penulis.

Perbincangan penulis dengan rekan sedikit banyak menunjukkan betapa suporter di Inggris diuntungkan dengan adanya tayangan pertandingan sepakbola di hari libur nasional tanggal 26 Desember. Mereka bisa menonton melalui layar kaca bersama orang-orang tersayang mereka, atau datang ke stadion langsung.

Ketika banyak orang yang menonton pertandingan sepakbola, tentu ada pihak-pihak lain yang diuntungkan. Mulai dari klub, badan liga, sampai hak siar televisi yang bisa menyedot banyak iklan dan sponsorship.


Harta, tahta, dan sepakbola.

Klub akan diuntungkan dengan penjualan tiket karena di hari libur, fans tidak terganggu dengan jadwal kesibukan seperti biasanya. FA pun bisa memanfaatkan boxing day untuk menyedot pemirsa lebih banyak lagi karena relatif hanya liga Inggris yang masih memainkan kompetisi sepakbola, yang ujung-ujungnya keuntungan finansial dengan pihak stasiun televisi.

Masyarakat mencintai sepakbola, pebisnis mencintai uang masyarakat; sebuah win-win solution.

4. The GOALden Era: Saat 66 Gol Tersaji dari 10 Pertandingan di Boxing Day 1963

Boxing day tahun 1963 tercatat sebagai salah satu pekan paling produktif dalam sejarah persepakbolaan Inggris. Sejumlah catatan luar biasa tercipta pada tanggal 26 Desember kala itu.

Salah satunya adalah total 66 gol di divisi teratas liga Inggris (ketika itu masih First Division) yang tersaji dari 10 pertandingan. Ini berarti tiap laga rata-rata menghasilkan 6,6 gol.

Yang mencolok adalah kemenangan Burnley atas Manchester United dengan skor 6-1, Fulham yang berhasil mencukur Ipswich 10-1, dan kekalahan tuan rumah West Ham United atas Blackburn Rovers dengan skor 2-8.