8 Pertandingan yang Terbukti Diatur Bandar Judi

Manchester United vs Liverpool (1915)

Lebih dari satu abad yang lalu atau tepatnya pada 1915, tanah Inggris dikejutkan dengan sebuah laga yang diwarnai skandal pengaturan skor. Bukan dari divisi bawah, skandal itu terjadi di kompetisi Football League First Division atau setara Premier League saat ini. Lebih menarik lagi, laga itu mempertemukan dua tim yang kini menjadi raja di tanah Britania, Manchester United dan Liverpool.

Tepat pada 2 April di Old Trafford, sebelum laga berjalan, banyak pihak yang meyakini duel kedua tim akan berlangsung sangat menarik. Apalagi kala itu sang tuan rumah sedang berjuang untuk bisa keluar dari jurang degradasi. Sementara tamunya, Liverpool yang walaupun hanya berada di papan tengah kala itu, termotivasi untuk memperbaiki posisi mereka. Namun sayang, jalannya pertandingan justru antiklimaks.

Manchester United, seperti yang diprediksi banyak pihak, memang berhasil menaklukkan Liverpool dengan skor 2-0. Namun banyak pihak, termasuk wasit dan pengamat sepak bola, menilai banyak kejanggalan dari pertandingan yang berlangsung buruk itu. Pertama, Liverpool sangat loyo, seperti ogah-ogahan bermain, itu terbukti dari kegagalan pemain mereka mengeksekusi tendangan penalti. Kedua, karena reaksi para penggawa The Reds. Kala seorang pemain mereka Fred Pagnam hampir mencetak gol karena tendangannya membentur mistar gawang United, rekan-rekannya yang lain secara terbuka memprotes tindakan Fred. Jelas sebuah hal janggal ketika ada pemain yang tak ingin rekan satu timnya membobol gawang lawan.

Pertandingan Liverpool vs Manchester United satu abad yang lalu sempat diwarnai pengaturan skor

Pasca pertandingan pun muncul selebaran yang menyatakan jika laga itu telah diatur oleh sebuah perusahaan judi. Dan setelah Football Asociation atau Federasi Sepakbola Inggris melakukan penyelidikan, mereka memang menemukan ada tujuh pemain dari kedua kesebelasan yang terlibat dalam skandal pengaturan skor dan telah bekerjasama dengan perusahaan judi. Ketujuh pemain itu adalah Sandy Turnbull, Arthur Whalley dan Enoch West dari United, serta Jackie Sheldon, Tom Miller, Bob Pursell dan Thomas Fairfoul dari Liverpool. Mereka semua pada akhirnya diputuskan bersalah oleh FA dan dihukum larangan bermain selama seumur hidup.

Sheffield Wednesday vs Ipswich Town (1962)

Sepakbola Inggris kembali dikejutkan oleh kasus pengaturan skor. Kali ini, yang menjadi dalang juga seorang pemain sepakbola. Dia adalah Jimmy Gauld, seorang pria Skotlandia yang selama kariernya pernah membela Swindon Town, Plymouth Argyle, dan St Johnstone. Gauld si mafia, melancarkan aksi pertamanya dalam sebuah pertandingan First Division Football League antara Sheffield Wednesday menghadapi Ipswich Town. Gauld melancarkan aksi kejinya itu dengan mengajak mantan rekannya di Swindon, David Layne yang kala itu bermain untuk Sheffield Wednesday. Tak hanya itu, Gauld juga bekerja sama dengan dua pemain Ipswich, yakni Peter Swan dan Tony Kay.

Untuk Layne, Gauld meminta dirinya untuk memastikan agar Sheffield kalah atas Ipswich. Sebaliknya, Swan dan Kay diminta untuk memastikan apa yang diinginkan Gauld yakni kemenangan Ipswich tercapai. Dan benar saja, laga berakhir dengan skor 2-0 untuk Ipswich. Menariknya, kasus ini terbongkar setelah di Gauld pada 1965 mengakui perbuatan kejinya kepada salah satu media Inggris, Sunday People. Selain pertandingan itu, Gauld juga mengakui jika dirinya telah melakukan pengaturan skor terhadap banyak laga di Inggris. FA pun pada akhirnya memutuskan Gauld, Layne, Swan, serta Kay untuk dihukum larangan bermain selama tujuh tahun.

Bristol Rovers vs Bradford Park Avenue (1963)

Dari divisi empat Liga Inggris, laga di April 1963 yang mempertemukan Bristol Rovers menghadapi Bradford Park Avenue ternyata adalah sebuah laga yang termasuk dalam skandal pengaturan skor. Karena diketahui, kiper Bristol kala itu, Esmond Milion telah disuap sebesar £ 300 oleh seorang mafia judi yang kemudian diketahui adalah Jimmy Gauld. Milion kala itu dipinta untuk membuat Bristol menelan kekalahan. Tapi sayangnya aksi sang kiper tak berhasil karena rekan-rekannya mampu menyelesaikan laga dengan hasil imbang 2-2 walau sempat tertinggal 2 gol dari Bradford. Dengan laga yang mengecewakan itu, Manajer Bristol kala itu, Bert Tann mencurigai kipernya dan kemudian melaporkannya ke FA. Tak perlu waktu lama, Milion kemudian segera dihukum larangan bermain seumur hidup serta didenda sebesar £ 50.’

Porto vs Beira Mar (2004)

Laga Portugal Premier League yang mempertemukan antara Porto menghadapi Beira Mar diketahui termasuk dalam laga yang telah diatur dalam pengaturan skor. Hal itu setelah Portuguese Judiciary Police (Kepolisian khusus korupsi di Portugal) melakukan investigasi terhadap banyak wasit dan pemilik klub. Dan hasil penyelidikan itu diketahui jika sebelum laga Porto menghadapi Beira Mar, pemilik Porto kala itu, Jorge Nuno Pinto da Costa, melakukan penyuapan sebesar $3,895 AS kepada wasit yang memimpin laga itu, Augusto Duarte sebelum pertandingan. Suap itu pun membuat laga antar kedua kesebelasan berakhir imbang tanpa gol. Dan akibat kasus pengaturan skor ini, Jorge Nuno dihukum larangan aktif dalam sepakbola selama dua tahun serta kala itu Porto mengalami pengurangan enam poin.

Porto yang dibela Deco terbukti dibantu oleh ‘match-fixing’ di satu pertandingan

Nepal vs Yordania (Kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia)

Bukan hanya satu pertandingan, kasus pengaturan skor kali ini menerpa tim nasional Nepal dalam dua leg pertandingan babak kedua Kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia menghadapi Yordania pada tahun 2011 lalu. Dalam dua leg laga itu, hasil akhir menunjukkan jika Nepal kalah dengan skor sangat telak 1-10 dari Yordania. Hasil mencolok itu pun menimbulkan kecurigaan Asosiasi Sepakbola Asia (AFC).

Setelah melakukan pengusutan dan investigasi, diketahui pada pertandingan itu ada setidaknya lima pemain Nepal yang terlibat dalam kasus pengaturan skor di laga tersebut. Termasuk dua diantaranya adalah Sagar Thapa dan Ritesh Thapa, yang ditemukan polisi memiliki uang dengan jumlah besar dalam rekening mereka sebagai upah pengaturan skor pada laga itu. Pada 2015 lalu pun kelima pemain plus satu fisioterapis Nepal kala itu dimasukan ke penjara dan mereka dihukum dengan hukuman seumur hidup larangan beraktivitas dalam dunia sepak bola.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/I6vSxu_Um70?enablejsapi=1&origin=http%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 8 Pertandingan yang Terbukti Diatur Bandar Judi: Sudah
Terjadi Sejak Satu Abad yang Lalu!

Sierra Leone vs Afrika Selatan (2008)

Pengaturan skor dalam sebuah dengan jumlah keterlibatan pemain dan ofisial terbanyak sepertinya terjadi di Afrika. Diketahui, pada tahun 2008, dalam sebuah laga Kualifikasi Piala Afrika antara Sierra Leone menghadapi Afrika Selatan ada setidaknya 15 pemain dan ofisial yang terlibat dalam skandal pengaturan skor. Perlu diketahui, keseluruhan 15 pemain dan ofisial itu datang dari satu pihak, yakni Sierra Leone. Ada 11 pemain dan empat ofisial tim nasional negara asal Afrika Barat itu yang terlibat dalam skandal pengaturan skor dalam laga kontra Afrika Selatan yang berakhir imbang tanpa gol itu. Namun sayangnya, hukuman pada ke-15 pemain itu masih ditangguhkan hingga saat ini sampai waktu yang belum ditentukan.

Malaysia vs Timor Leste (SEA Games 2015)

Laga SEA Games juga tak lepas dari kasus pengaturan skor. Terbukti pada tahun 2015, laga antara Malaysia menghadapi Timor Lese ditemukan sudah dimanipulasi. Laga pembuka itu berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Malaysia. Namun yang menjadi sorotan adalah bagaimana Timor Leste tampil ogah-ogahan padahal kala itu mereka memiliki kesempatan menang setelah sang lawan bermain dengan 10 orang karena satu pemain mendapat kartu merah di tengah-tengah jalannya laga. Setelah melakukan investigasi, AFC akhirnya memutuskan manajer Timor Leste kala itu, Orlando Marques sebagai orang yang bersalah karena diketahui sebelum laga dirinya mendapatkan suap untuk mengatur pertandingan dari bandar judi sebesar $11.000 AS. Atas perlakuan kejinya itu pun Orlando Marques kemudian dihukum seumur hidup beraktivitas di dunia sepak bola.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/-CCwrK1VU90?enablejsapi=1&origin=http%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 8 Pertandingan yang Terbukti Diatur Bandar Judi: Sudah
Terjadi Sejak Satu Abad yang Lalu!

Laos vs Sri Langka (AFC Solidarity Cup 2016)

Kasus pengaturan skor teranyar datang dari kawasan Asia tepatnya pada ajang AFC Solidarity Cup 2016 di Malaysia. Laga pembuka Grup B antara Laos dan Sri Langka diketahui merupakan laga yang sudah diatur skornya. Adalah kemenangan 2-1 Laos atas lawan yang dianggap lebih lemah itu yang mendapat kecurigaan dari pihak AFC. Dan setelah diusut, diketahui ada empat pemain Laos yang memang terlibat dalam skandal pengaturan skor pada laga tersebut.

Keempat pemain itu adalah Chintana Souksavath, Saynakhonevieng Phommapanya, Phattana Syvilay, dan Moukda Souksavath. Tak hanya itu, keempat pemain itu pun dicurigai telah melakukan manipulasi pertandingan yang melibatkan Laos sejak tahun 2010 lalu. AFC pun memastikan akan memberikan hukuman tegas kepada empat pemain itu. Namun kini status mereka masih ditangguhkan selama 60 hari sejak awal November lalu.

<a

href=”https://www.youtube.com/embed/F6N1cuQXpdQ?enablejsapi=1&origin=http%3A//www.fourfourtwo.com&wmode=opaque”>Embedded
video for 8 Pertandingan yang Terbukti Diatur Bandar Judi: Sudah
Terjadi Sejak Satu Abad yang Lalu!