Tak ada Kejelasan Kompetisi, Tidak ada Sponsorship, Klub juga Mati! Beberapa Klub ini juga Terancam Bubar

Wajar Jika Klub Membubarkan diri, “Kalau tidak ada uang yang mensponsori, tentu klub tak akan jalan. Sebab hubungan sponsor dengan pemain saling terkait,” jelasnya. Ruwetnya sepak bola Indonesia tak hanya membuat muram nasib pemain sekaligus kerugian finansial klub. Mimpi yang dibangun sejak jauh hari pun menjadi berantakan dan harus menunggu lebih lama untuk mewujudkannya. Berikut ini adalah klub Indonesia yang bubar dan terancam bubar:

selamatkan-sepakbola-indonesia-pssi-kemenpora

Semen Padang
“Ini akan berdampak pada pemain dan ofisial sendiri, sebab dana selama ini dari sponsor, kalau tidak ada laga tentu sponsornya akan berhenti,” kata Direktur Teknik Semen Padang, Asdian. Sejak Federasi sepakbola dunia (FIFA), menjatuhkan sanksi kepada PSSI, tim kesayangan orang Minangkabau, Semen Padang FC, kena dampaknya. Sanksi itu mengakibatkan para sponsor berhenti mengalirkan dana. Asdian menilai, untuk sementara Semen Padang sebaiknya dibubarkan dulu sampai sanksi FIFA selesai. “Kalau tidak jelas kapan sanksi FIFA ini, tentu menurut saya pribadi pemain kita bubarkankan dulu, sebab sampai saat ini belum jelas kapan berakhir sanksi FIFA tersebut,” imbuhnya.

Asdian berharap Pemerintah dengan PSSI bisa merumuskan yang terbaik untuk sepakbola Indonesia. “Katakanlah ada perbaikan ya silahkan. Harapan pemain gitu, kompetisi bisa cepat digulirkan lagi. Kuncinya ada sama PSSI dan pemerintah,” tandasnya.

Persepam Madura Utama
Pernyataan kecewa datang juga dari Persepam Madura Utama, yang seharusnya musim ini sudah mentas dari kasta kedua atau Divisi Utama. Klub kebanggaan masyarakat Madura ini telah bekerja dengan serius dalam mempersiapkan kekuatan agar bisa kembali promosi.

“Bukan kerugian sisi finansial saja yang kami tanggung, tapi juga mimpi yang sudah kami bangun. Sebenarnya kami menargetkan musim 2016 sudah kembali ke level ISL. Tapi ternyata semuanya berantakan,” ujar Manager Persepam, Said Abdullah.

Persepam sebenarnya sudah ‘gatal’ ingin bermain di kompetisi Divisi Utama, terlepas siapa yang menjadi operator liga. Namun harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan karena hingga sekarang belum ada kepastian soal kompetisi itu sendiri. Selama persiapan, Persepam yang mengalami peralihan pengelolaan, merasa sudah total dan siap kembali ke level teratas. Pemain dan pelatih, sekaligus modal finansial, sudah sangat mencukupi untuk dominan di level Divisi Utama.

“Kami tak bisa berbuat apa-apa. Seberapa pun menginginkan ada kompetisi, tapi tetap tergantung penyelenggaranya. Bahkan kami belum memutuskan bagaimana nasib tim karena memang harapan untuk bermain di kompetisi masih besar,” lanjutnya. Sikap Pelatih Persepam Widodo C Putro tak jauh beda. Menurutnya, sebenarnya mood pemain sudah terbangun dengan baik di 2015 ini dan memiliki fighting spirit untuk mengejar tiket promosi sekaligus juara Divisi Utama.

“Saya khawatir kondisinya akan berubah drastis ketika kompetisi tak kunjung digelar, apalagi kalau harus menunggu hingga 2016. Fokus dan semangat pemain yang sebenarnya sudah terbentuk dengan baik bisa saja akan kacau,” sebut Widodo.

Dia juga khawatir timnya kehilangan momentum terbaik dalam misi mengembalikan posisi di level atas. “Harus diakui momentum terbaik ada di 2015. Kalau tahun ini tidak ada kompetisi, kami harus melihat kembali bagaimana motivasi pemain nanti,” tandasnya.

Persema Malang
Persema Malang, akhirnya resmi gulung tikar. Tim berjuluk Laskar Ken Arok ini terpaksa dibubarkan karena berbagai masalah yang membelit, termasuk karena terkena sanksi dari PSSI sehingga harus turun kasta. Sejumlah pemain Persema pun telah beranjak pergi tim sekota Arema Indonesia ini. Adapun beberapa pemain Persema Malang yang sudah hengkang, antara lain Dodit Fitrio Effendi, Syaiful Indra Cahya, Irfan Radity, Yudha Asmawan, Jodi Kustiawan, dan lainnya. Pelatih Rudi Hariantoko pun tak ketinggalan dan kembali kembali melatih klub asalnya sebelum direkrut Persema.

“Status mereka sekarang bebas, dan manajemen Persema juga tidak akan menahan mereka, sebab Persema secara resmi sudah dibubarkan. Apalagi, manajemen juga masih punya tanggungan gaji para pemain maupun pelatih,” jelas Manajer Persema, Dito Arief di Malang belum lama ini.

Manajemen Persema Malang memang masih menunggak gaji pemain dan ofisial termasuk jajaran pelatih sebesar kurang lebih 1,5 miliar rupiah. Tak hanya itu, mantan tim pemain naturalisasi Irfan Bachdim ini juga masih belum melunasi gaji pelatih sebelumnya, yakni Slave Radovski, yang menyentuh angka ratusan juta rupiah.

“Kami tetap berkomitmen untuk menyelesaikan masalah gaji itu sebelum Persema kami serahkan ke Pengcab PSSI Kota Malang,” janji Dito Arief.

Persema Malang bersama Persibo Bojonegoro dan PSM Makassar terkena sanksi dari PSSI karena dianggap membangkang dengan membelot dari Indonesia Super League (ISL) ke IPL ketika kepengurusan PSSI masih dipimpin oleh Nurdin Halid.

Persipura Jayapura
Buntut pembubaran Persipura, nasib pemain persipura semuanya putus kontrak. Mengenai nasib pemain, BTM mengatakan secara otomatis 31 pemain tim kebanggaan warga Kota Jayapura itu diputus kontraknya.

“Iya, semua pemain putus kontrak. Tim ini dibubarkan, akan kembali jika sanksi PSSI dicabut oleh Menpora dan BOPI,” kata BTM.

Sementara itu, Sekretaris Umum Persipura, Rocky Bebena mengatakan keputusan membubarkan tim ini untuk menjaga dan melindungi nama besar Persipura, jangan sampai terkena sanksi dari FIFA. Tim Persipura dibubarkan karena tidak adanya kejelasan nasib kompetisi domestik dan masa depan mereka di AFC Cup 2015. Seperti diketahui, Boaz Solossa dan kawan-kawan gagal bertanding di babak 16 besar turnamen tersebut setelah pemain asing tim tamu, Pahang FA, gagal mendapat visa dari pihak imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.

“Ini adalah hari kelam untuk Persipura. Saya tidak bisa membayangkan perasaan para pemain karena kemarin petang kami masih menggelar training. Meski ada sanksi FIFA, suasana tim masih sangat kondusif seperti biasanya. Latihan dipimpin kapten Boaz (Solossa) dan mereka tampak ceria,” papar La Siya

“Hanya skuad yang dibubarkan, namun nama Persipura tidak. Kami menjaga nama Persipura agar tidak dapat sanksi dari FIFA,” katanya. Namun, menurut Ketua Harian Mutiara Hitam, La Siya, masih terbuka kemungkinan untuk tim diaktifkan lagi. La Siya menyayangkan pembubaran itu, karena pada Kamis 4 Juni 2015 petang para pemain masih berlatih kondusif.

Sriwijaya FC
Meski sempat diberitakan akan membubarkan timnya, Wong Kito (Julukan klub Sriwijaya) akhirnya tak jadi dibubarkan meski induk sepakbola Indonesia (PSSI) mendapat sanksi dari FIFA. Keputusan ini berdasarkan rapat manajemen Sriwijaya FC di Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 1 Juni 2015.

Sanksi FIFA itu di antaranya adalah larangan bagi Indonesia untuk berurusan dengan kompetisi internasional. Sanksi ini yang dirasa akan sangat merugikan tim nasional maupun klub – klub lokal dalam negeri yang mana klub lokal yang berkompetisi di ajang internasional akan otomatis gugur. Sementara itu, tim nasional pun akan di diskualifikasi dari ajang penyisihan piala dunia dan kompetisi – kompetisi internasional lainnya.

Sekretaris PT Sriwijaya Optimis Mandiri, Faisal Mursyid mengatakan bahwa berdasarkan hasil rapat internal manajemen Sriwijaya FC, mereka sepakat tim (Sriwijaya FC) akan tetap dipertahankan oleh perseroan yang menaungi klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu.

Seperti yang dikutip oleh Uraikan, kesepakatan ini, katanya, dicetuskan oleh Presiden Klub Sriwijaya FC, Dodi Reza Alex Noerdin setelah mendengarkan laporan dari berbagai divisi yang ada di perseroan, termasuk soal keuangan, teknis, pemasaran, dan promosi. Dalam rapat itu juga dipastikan gaji pemain tetap dibayarkan sesuai dengan kesepakatan (selama tidak ada kompetisi Liga Indonesia), 10 dan 25 persen dari nilai kontrak dengan klub.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Sekretaris Sriwijaya FC, Achmad Haris menuturkan bahwa klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini akan dibubarkan oleh manajemen jika Indonesia mendapatkan sanksi dari induk sepak bola internasional (FIFA). Alasannya adalah dengan adanya sanksi tersebut otomatis klub akan mengalami kesulitan finansial untuk menggaji para pemain mereka disaat pemasukan tak ada. Dengan adanya sanksi tersebut, tim dipastikan tanpa pertandingan dan kompetisi di luar negeri, semisal Piala Asia.

Sementara itu, Robert Heri yang merupakan manajer tim tersebut mengatakan bahwa para pemain dan pelatih tak perlu lagi meragukan komitmen manajemen. Hasil rapat tersebut akan menjadi pijakan bagi pihaknya dalam mempertahankan Ferdinand Sinaga dan kawan-kawan. Namun dia tetap berharap sanksi dapat segera berakhir, sehingga kompetisi Liga Indonesia dapat kembali berjalan. “Ini kesempatan kita semua untuk memperbaiki diri,” kata Robert.