Menpora: Kompetisi Bola Piala Presiden Mulai 2 Agustus! Kata Agum Gumelar: Tidak mungkin, tidak bisa!

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menyampaikan bahwa pemerintah akan menggelar turnamen Piala Kemerdekaan mulai 2 Agustus 2015. Turnamen itu digelar berdasarkan perintah Presiden Joko Widodo.

“Bahwa Pak Presiden sudah memerintahkan saya untuk menyegerakan kompetisi atau turnamen ini untuk segera jalan. Kita akan memulai itu pada 2 Agustus untuk Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden,” kata Imam, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (8/6/2015).

Imam menuturkan, peserta turnamen itu adalah klub perserikatan. Tiap klub yang mendaftar akan mendapat uang pembinaan Rp 100 juta. Sedangkan hadiah yang diperebutkan mencapai total Rp 10 miliar.

“Juara pertama Rp 5 M, juara kedua Rp 3 M, juara ketiga Rp 2 M,” ucap Imam.

Ia melanjutkan, kompetisi untuk klub profesional juga akan digelar dalam waktu dekat. Pendaftaran terbuka untuk semua klub profesional yang ingin mengikuti kompetisi. Untuk operator yang akan menjalankan kompetisi profesional, Imam mengaku akan segera menyampaikannya. Kompetisi klub profesional ia harap mendapatkan dukungan dari sponsor BUMN dan swasta. “Silakan klub yang ingin bersama memutar liga ini kita akan membuka diri,” ucap politisi PKB itu. Selanjutnya, kata Imam, Kemenpora juga akan segera menggelar turnamen usia U-13, U-15, U-17, dan U-19. Turnamen itu ditargetkan sudah digelar setelah Bulan Suci Ramadan. Kemenpora juga bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggelar liga pendidikan pada November 2015, dan liga mahasiswa pada Desember 2015.

“Ini perintah Presiden yang harus dilaksanakan oleh Kemenpora,” tutur Imam.

Disisi lain, rencana Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menggelar kompetisi pascasanksi Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) terhadap PSSI disebut tidak masuk akal. Alasanya simpel saja: Seluruh kompetisi sepakbola harus di bawah naungan FIFA. Ketua Dewan Kehormatan PSSI, Agum Gumelar, menjelaskan menggelar kompetisi tidak di bawah naungan PSSI tidak mungkin bisa dilaksanakan. Setiap kompetisi sepakbola resmi (dan profesional) di satu negara harus di bawah statuta FIFA.

“Aduh, itu menyelenggarakan kompetisi tidak di bawah naungan statuta FIFA adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi. Tidak mungkin, tidak bisa,” kata Agum di Istana Presiden, Jakarta, Senin (8/6/2015). Lagipula sistem perserikatan artinya secara kasar klub nantinya akan kembali seperti dulu lagi yaitu ‘klub propinsi’ dan itu amatir atau bukanlah klub profesional seperti sekarang ini (tadinya sebelum kisruh dan beberapa menyatakan bubar). Sistem ini kembali seperti dulu ketika masih bernama Galatama, dimana peserta galatama adalah perwakilan dari masing-masing propinsi yang ada di Indonesia (seperti PON mungkin).

Serunya, Klub peserta bisa saja berimbang secara kekuatan (karena hampir tidak mungkin pemain profesional luar negeri bisa main disitu), budget terbatas mengakibatkan klub harus memaksimalkan pemain lokal mereka, untuk pembinaan ini bagus asal kontinuitasnya jelas.

Sisi buruknya, tetap saja jika masih berstatus kena sanksi FIFA, kompetisi tidak akan diakui, pemain, oficial, aturan main juga tidak akan dibenarkan oleh FIFA, dari segi klub dan daerah tentunya akan kembali menjadi beban APBD pembiayaan masing-masing klub jika sponsorship tidak ada. Sponsorship untuk brand global hanya akan mau mensponsori Liga atau Kompetisi profesional dimana tentusaja itu tidak mungkin dilaksanakan di Indonesia selama sanksi FIFA masih berlaku. So, jalan mana yang akan dipilih?