Inilah 7 Orang Kandidat Kuat Pengganti Sepp Blatter

Presiden Federation Internationale de Football Association (FIFA) Sepp Blatter memutuskan untuk melepas jabatannya pada 2 Juni 2015, setelah 17 tahun memimpin organisasi sepak bola internasional tersebut. Tujuh Belas tahun bukanlah masa yang pendek untuk memimpin sebuah organisasi internasional sekelas Fédération Internationale de Football Association (FIFA). Selama lima periode itu posisi Sepp Blatter sebagai Presiden FIFA tak tergoyahkan. Keputusan mundurnya terkait dengan skandal korupsi di tubuh FIFA yang terungkap sejak akhir Mei 2015.

Lahir 10 Maret 1936 di kawasan pegunungan Alpine, tepatnya di Kota Visp, Swiss, Joseph S. Blatter berasal dari keluarga sederhana. Namun di mata rekan-rekan sekolahnya, Blatter sangat spesial. Blatter merupakan satu-satunya anak yang mempunyai kesempatan bermain sepak bola secara profesional pada masa itu.

Usai menempuh pendidikan, Blatter meniti karier yang tidak biasa bagi seorang warga Swiss pada 1960-an. Ia mengikuti wajib militer dan sempat mencicipi pangkat kolonel. Pria yang fasih berbahasa Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia ini kemudian bekerja di perusahaan jam, lantas mengurusi manajemen sebuah federasi olahraga hoki di Swiss.

Sepp_Blatter_&_Joao_Havelange

Tahun 1975 menjadi momen penting bagi Blatter. Ia bergabung bersama FIFA dan dipercaya memegang jabatan sebagai Direktur Teknik. Kariernya makin menanjak. Puncaknya pada 1998 ia terpilih sebagai Presiden FIFA menggantikan João Havelange. Warga Swiss amat bangga ketika Blatter sukses memimpin sebagai Presiden FIFA. Mundurnya Blatter memunculkan serangkaian nama yang berpotensi menggantikannya. Berikut 7 kandidat yang disebut-sebut berpeluang besar menjadi presiden FIFA 2015–2019:

1. Michael Platini
Platini merupakan Presiden Asosiasi Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) saat ini. Ia sempat meminta Sepp Blatter mundur menyusul penangkapan 14 pejabat terkemuka FIFA pekan lalu. Platini memiliki pengalaman dan profil yang sesuai dengan kebutuhan sebagai pimpinan sepak bola. Ia juga memilih Qatar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Namun perjalanannya menuju presiden FIFA mungkin terganjal kedekatannya dengan Blatter, mengingat tim penyelidikan Swiss menyampaikan FIFA perlu ditempati oleh orang bersih dalam proses tendernya.

2. Prince Ali Bin al-Hussein
Putra Mahkota Yordania ini sempat menjadi lawan tunggal Blatter dalam pemilihan presiden terakhir. Namun ia kehilangan dua pertiga suara pendukung sehingga diperlukan pemungutan suara putaran kedua. Ia akhirnya memilih mundur setelah jelas bahwa dirinya tidak dapat mengumpulkan cukup suara untuk menggeser Blatter.

3. Jerome Champagne
Seorang mantan diplomat Prancis. Jerome mengumumkan niatnya untuk dihadangkan dengan Blatter pada pemilihan Presiden terakhir. Namun ia gagal mendapatkan dukungan awal untuk melakukan penawaran resmi. Jerome pernah menghabiskan waktunya selama 11 tahun di FIFA terhitung sejak tahun 1990-2010. Ia juga pernah menyatakan tantangan terbesar dalam sepak bola adalah ketidakseimbangan yang menghentikan semua orang untuk bersaing.

4. Michael van Praag
Ia juga diketahui merupakan salah satu pesaing Blatter pada pemilihan lalu. Pria asal Belanda ini juga gagal untuk mengamankan pendukungnya dalam pemilihan lalu. Ia diperkirakan akan mengajukan diri kembali pada pemilihan mendatang. Namun, pria berusia 67 tahun ini mungkin tidak memenuhi keinginan wajah-wajah baru yang diharapkan untuk mengisi FIFA.

5. David Gil
Mantan Kepala Eksekutif Manchester United. Ia pernah menempati jabatan eksekutif FIFA setelah pemilihan tahun ini, tapi ia memilih mundur setelah Blatter menang. Ia mengaku takut merusak merusak reputasinya sendiri. Meskipun memiliki sedikit pengetahuan dalam cara kerja FIFA, kekurangannya ini dapat menjadi keunggulan sendiri untuk meyakinkan pemilih bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk mengakhiri korupsi di organisasi.

6. Luis Figo
Pemain Nasional Portugis dan mantan pemain Barcelona ini sedianya akan dijadikan lawan Blatter pada pemilihan tahun ini, tetapi ia memilih mencabut pencalonan dirinya sebagai bentuk protes atas tata cara pemungutan suara yang sedang berjalan. Ia juga diketahui gagal mengumpulkan dukungan suara yang diperlukan. Menanggapi pengunduran diri Blatter ia mengatakan “Hari yang baik untuk FIFA dan sepak bola. Perubahan akhirnya datang. Seperti yang saya katakan pada Jumat sebelumnya, bahwa hari itu akan datang cepat atau lambat. Dan Inilah Dia!”

7. David Ginola
Bekas kandidat lainnya pada pemilihan terakhir, Ginola sempat mengundurkan diri setelah gagal mendapatkan dukungan yang diperlukan. Pencalonannya bahkan akhirnya terbongkar, bahwa ia didukung oleh seorang juru taruh terkenal. Namun Ginola adalah orang pertama yang menyatakan diri siap untuk mencalonkan kembali, seperti yang dirinya sampaikan melalui siaran radio LBC. “Tentu saja saya akan maju kembali.”