Dampak Sanksi FIFA yang Harus Ditanggung Indonesia, Kemenpora Buat Kompetisi Baru!

FIFA meminta bahwa organisasi sepak bola harus berdiri secara independen. Namun kenyataannya, PSSI dibekukan oleh Kemenpora RI dan untuk sementara, urusan sepak bola Tanah Air menjadi tanggung jawab Tim Transisi. FIFA resmi memberikan hukuman ke dunia sepak bola Indonesia pada 30 Mei 2015 lalu. Mereka baru akan mencabut hukuman itu jika PSSI dan Kemenpora sudah menyelesaikan masalahnya.

Adapun dampak secara umum dari surat keputusan FIFA secara umum adalah sebagai berikut:

  1. PSSI kehilangan haknya sebagai anggota FIFA sesuai Statuta FIFA Pasal 12 ayat 1.
  2. Semua tim Indonesia (timnas dan klub) tak boleh mengikuti turnamen internasional termasuk kompetisi FIFA dan AFC sesuai Statuta FIFA Pasal 14 ayat 3.
  3. Anggota dan Ofisial PSSI tidak mendapatkan hak semua program pengembangan, kursus, atau pelatihan dari FIFA atau AFC.

Kasus ini tentunya menggemparkan jagat sepak bola dunia khususnya Asia. AFC selaku induk organisasi sepak bola kawasan Asia menyebut Indonesia mengalami banyak kerugian akibat sanksi ini. Berikut, dampak buruk yang berupa larangan mengikuti dan mengadakan kompetisi sepakbola dan cabang olahraga lain yang berada dibawah naungan FIFA akibat hukuman yang diterima Indonesia karena kena sanksi FIFA:

1. Indonesia Dikeluarkan dari Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019
Karena hukuman ini, tim nasional Indonesia dipastikan keluar dari babak kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019. Itu artinya, tim Merah Putih dipastikan gagal memanfaatkan peluang untuk mengikuti dua turnamen bergengsi tersebut.

2. Indonesia Dikeluarkan dari Ajang Piala Asia U-16 dan U-19
Hukuman FIFA terhadap PSSI tak hanya berimbas pada tim nasional senior. Timnas Indonesia U-16 dan U-19 juga terkena dampak dari hukuman ini. Tim asuhan Fachry Husaini dipastikan absen berlaga di pentas internasional.

3. Indonesia Dikeluarkan dari Turnamen Regional Wanita AFC U-14
Timnas wanita Indonesia dicoret dari keikutsertaannya di Turnamen Regional AFC U-14. Perubahan ini akan mempengaruhi jadwal pertandingan di grup A. Sebelumnya turnamen ini akan dimulai pada 20 Juni 2015. Namun karena pencoretan Indonesia, laga di grup A bakal dimulai pada 23 Juni 2015.

4. Indonesia Dikeluarkan dari Babak Kualifikasi Futsal Wanita AFC 2015
Dampak hukuman ini juga berimbas pada timnas futsal Indonesia. Timnas wanita Indonesia dipastikan gagal bermain di Babak Kualifikasi Futsal AFC 2015

5. Indonesia Dikeluarkan dari Futsal AFC 2016 (Zona ASEAN – Turnamen Futsal AFF)
Rencana Indonesia mengirim wakil Timnas futsal ke kejuaraan internasional juga dipastikan gagal. AFC tidak mengizinkan skuat Garuda mengikuti Futsal AFC 2016 (Zona ASEAN – Turnamen Futsal AFF).

6. Persipura Jayapura Dikeluarkan dari AFC Cup 2015
Kalah tanpa bertanding, itulah yang dialami Persipura Jayapura. Mereka yang tadinya dijadwalkan menghadapi Pahang FA di babak 16 besar AFC Cup, harus menerima keputusan walk out (WO) karena gagal menggelar pertandingan.

7. Pengembangan Sepak Bola
Indonesia dipastikan tidak bisa mendapatkan program pengembangan dari AFC dan FIFA. Program itu mencakup kursus kepelatihan dan seminar berlisensi C.

Jelas ini sangat merugikan seluruh insan persepakbolaan Indonesia, pemain, tim, dan orang yang menggantungkan hidupnya pada persepakbolaan. Presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Ponaryo Astaman, mengungkapkan situasi pelik sepakbola nasional saat ini sulit dihadapi para pemain. Kondisi yang serba tak menentu membuat kondisi pemain menurun. Pemain memang menjadi korban konflik antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Ada yang harus rela gajinya dipotong, ada pula yang harus menelan pahit akibat di-PHK. Ini imbas dari tak berjalannya kompetisi.

Kondisi ini jelas sangat tidak bersahabat dengan pemain sepakbola. Apalagi bagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari sepakbola.

“Pasti (sulit). Situasi dalam ketidakpastian itu sangat sulit bagi pemain. Bagaimana mau latihan kalau jadwalnya tidak jelas. Banyak juga klub yang membubarkan tim, otomatis kondisi pemain kembali ke titik nol,” kata Ponaryo kepada wartawan di Jakarta, Kamis 5 Juni 2015.

Ponaryo kemudian memahami rencana Tim Transisi bentukan Kemenpora menggelar turnamen terbuka untuk mengisi kekosongan. Namun, eks pemain Sriwijaya FC ini tetap mengingatkan Tim Transisi bahwa ada mekanisme yang harus diikuti. Seperti diketahui, Tim Transisi akan menggelar dua turnamen terbuka, yaitu Piala Kemerdekaan dan Piala Panglima TNI. Keduanya akan digelar dalam waktu dekat. Namun, hingga kini belum ada kepastian soal klub yang akan ikut dalam turnamen tersebut. Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ngotot menggelar pertandingan meski sepakbola Indonesia dalam status disanksi FIFA. Dalam waktu dekat, Kemenpora akan menjalankan turnamen Piala Kemerdekaan dan Piala Panglima TNI. Rencananya, Kemenpora lewat Tim Transisi akan menggelar Piala Kemerdekaan sebelum bulan Ramadhan. Sementara, Piala Panglima TNI dimulai setelah Lebaran.

menpora--imam-nahrawi

“Kami sedang merancang kompetisi agar secepatnya berjalan. Saya berharap sebelum Ramadhan sudah berjalan,” kata Imam Nahrawi. Terkait operator kompetisi, Kemenpora masih berharap kepada PT. Liga Indonesia. Namun, jika tetap tidak ada tanggapan, maka langkah tegas bakal diambil Kemenpora.

“Kami akan melakukan open bidding yang bisa mengelola kompetisi (jika PT. Liga Indonesia menolak),” ujar Politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini menambahkan.

Selain operator, peserta turnamen juga masih tanda tanya. Namun, anggota Tim Transisi, Zuhairi Misrawi mengaku bahwa pihaknya tengah berkomunikasi dengan klub Liga Super Indonesia dan Divisi Utama untuk ikut dalam ajang tersebut.

“Saya rasa tim transisi menggelar kompetisi sah-sah saja. Karena mereka kan perpanjangan tangan pemerintah, dan dengan sanksi FiFa, mereka merasa yang punya wewenang. Jadi sah-sah saja,” ujar Ponaryo.

“Tapi jangan lupakan juga mekanismenya. Artinya dalam sebuah kompetisi atau organisasi, kita tidak bisa lepas dari aturan main,” dia menambahkan. Kompetisi independen bisa menjadi pemicu semangat baru, namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah ini menjadikan Tim Transisi/Kemenpora seolah ‘menjadi PSSI’ secara langsung, atau membentuk kepanitiaan khusus tersendiri yang terdiri dari pengurus PSSI, belum dapat dipastikan, mengingat komunikasi antara Kemenpora & PSSI tidak berjalan dengan baik, semoga secepatnya ditemukan jalan terbaik untuk permasalahan ini.