Detail Penangkapan Sejumlah Petinggi FIFA di Zurich – Swiss

Jelang Kongres FIFA digelar, sejumlah pejabat otoritas sepak bola dunia diamankan pihak keamanan Swiss. Penangkapan sejumlah pejabat tinggi FIFA tersebut ditengarai terkait dugaan korupsi. Sejumlah media di Amerika Serikat diantaranya, New York Times dan The Times mengungkapkan, menurut penegak keamanan yang tidak ingin disebutkan namanya, bahwa tuduhan juga termasuk pencucian uang, penipuan, dan juga terkait kejahatan organisasi yang terentang hingga 20 tahun terakhir.

Menurut harian Amerika Serikat tersebut, lebih dari 10 pejabat tinggi FIFA yang diamankan. Penangkapan terhadap para pejabat FIFA itu dipastikan akan mengganggu pelaksanaan Kongres FIFA. FIFA akan berencana menggelar Kongres pada 29 Mei ini. Sepp Blatter yang sudah menjabat empat priode berencana untuk mencalonkan diri sebagai presiden otoritas sepakbola dunia yang kelima kalinya.

Proses penangkapan sejumlah pejabat tinggi Asosiasi Sepakbola Dunia, FIFA, diawali ketika lebih dari selusin penegak hukum Swiss mendatangi hotel bintang lima Baur au Lac, Zurich. Di hotel ini para pejabat tinggi FIFA menginap selama di Zurich untuk menghadiri kongres untuk memilih presiden FIFA yang baru. Harian New York Times melaporkan, aparat dengan tiba-tiba mendatangai meja penerima tamu untuk meminta kunci dan bergerak ke kamar-kamar pejabat yang akan ditangkap dalam kasus tindak pidana korupsi ini.

Proses penangkapan berlangsung tanpar perlawanan. Eduardo Li dari Costa Rica, dibawa aparat melalui pintu keluar di samping hotel tersebut. Diapun diijinkan membawa tas yang bergambar logo FIFA. New York Times mengutip tiga penegak hukum yang terlibat langsung dalam kasus ini yang menyatakan bahwa tuduhan diajukan berdasarkan penyelidikan Badan Penyelidik Federal, FBI, terkait korupsi di FIFA selama dua dekade. Di antaranya adalah penentuan tuan rumah Piala Dunia, kesepakatan pemasaran dan penyiaran.

Surat dakwaan menyebut 14 orang terlibat dalam tindak pidana pemerasan, transfer uang ilegal, dan persekongkolan untuk melakukan pencucian uang. Selain pejabat senior FIFA, surat dakwaan ini juga menuduh sejumlah pejabat perusahaan pemasaran olahraga dari Amerika Serikat dan Amerika Selatan membayar uang sogokan dan uang suap berjumlah total US$150 juta, dengan imbalan mendapatkan kesepakatan media turnamen-turnamen besar sepakbola.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada harian ini bahwa pejabat FIFA yang ditangkap adalah Jeffery Webb, Eugenio Figueredo, Jack Warner, Eduardo Li, Julio Rocha, Costas Takkas, Rafael Esquivel, Jose Maria Marin, dan Nicolas Leoz. Sementara pejabat pemasaran olahraga yang akan dikenai dakwaan adalah Alejandro Burzaco, Aaron Davidson, Hugo Jinkis dan Mariano Jinkis. Pihak berwenang AS juga mendakwa Jose Marguilies karena perannya memfasilitasi pembayaran ilegal ini.

“Kami terkejut dengan tindak pidana yang telah berjalan demikian lama dan menyentuh hampir semua bagian kegiatan FIFA,” ujar seorang penegak hukum seperti dikutip New York Times.

“Tindakan ini tampaknya menyentuh semua elemen FIFA dan memang itulah cara mereka dalam melakukan bisnis. Tampaknya tindak pidana korupsi ini sudah melembaga.”

Penangkapan ini menjadi pukulan keras bagi FIFA, organisasi bernilai miliaran dolar yang mengatur cabang olahraga paling popular di dunia ini dan selama beberapa dekade selalu dihujani tuduhan penyuapan. Penyelidikan ini juga menjadi ancaman besar bagi Sepp Blatter, presiden FIFA yang dianggap sebagai tokoh paling berkuasa di dunia olahraga, meski dia tidak dikenai dakwaan.

sepp-blatter-presiden-FIFA

Selama bertahun-tahun Blatter berlaku seperti seorang kepala negara. Politisi pemain bintang, pejabat organisasi sepakbola semua negara di dunia, dan perusahaan global yang ingin mengkaitkan kepentingan mereka dengan cabang olahraga ini, harus tunduk kepadanya. Pemilihan Presiden FIFA, yang tampaknya akan mengukuhkan pemilihan Blatter untuk masa jabatan kelima, dijadwalkan berlangsung Jumat (29/5).

Kasus ini merupakan kasus terbesar bagi Jaksa Agung AS Loretta E. Lynch, yang baru bulan lalu menduduki posisi itu. Dia sebelumnya merupakan kepala kejaksaan AS di Brooklyn, New York, dan mengawasi penyelidikan terhadap FIFA. Dengan cadangan dana sebesar US$1,5 miliar dolar, selain sebagai organisasi olahraga, FIFA juga merupakan satu konglomerasi keuangan global.

Sementara begitu banyak negara ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia, Blatter menuntut kesetiaan luar biasa dari siapun yang ingin ikut menikmati dana yang terus mengalir. Sebelumnya, Blatter dan FIFA selalu bisa mengatasi kontroversi terkait tudingan korupsi, dengan tidak satu pun pejabat FIFA pernah dikenai dakwaan melakukan kejahatan federal di pengadilan Amerika Serikat.

Hukum Amerika Serikat memberi Departemen Kehakiman kewenangan lebih luas untuk mengadili warga asing yang tinggal di luar negeri. Kewenangan ini berulangkali digunakan oleh jaksa penuntut dalam kasus-kasus terorisme internasional. Kasus-kasus ini hanya memerlukan sedikit hubungan dengan Amerika Serikat untuk bisa disidangkan di pengadilan negara itu, seperti memanfaatkan pelayanan bank Amerika atau jasa penyedia layanan internet negara itu.

Kerjasama antara Swiss dan Amerika Serikat bersifat unik karena memberi kekuasaan kepada aparat berwenang Swiss untuk menolak ekstradisi dalam kasus kejahatan pajak. Tetapi terkait hukum kriminal umum, Swiss sepakat menyerahkan hak untuk mengadili kepada pengadilan Amerika Serikat. Kritik terhadap FIFA berpusat pada kurangnya transparansi gaji para eksekutif dan alokasi sumber daya untuk organisasi yang mengklaim memiliki pemasukan US$5,7 miliar dari 2011 hingga 2014.

Keputusan kebijakan seringkali diambil tanpa perundingan atau penjelasan, dan sekelompok kecil pejabat – dikenal dengan nama komite eksekutif – seringkali bergerak dengan kekuasaan yang sangat besar. Selama bertahun-tahun, FIFA bergerak dengan sedikit pengawasan dan transparansi. Alexandra Wrage, seorang konsultan tata kelola yang gagal mengubah metode FIFA, menyebut organisasi itu “sangat rumit dan tidak bisa ditembus.”

Para penegak hukum mengatakan sebagaian besar penyelidikan yang dilakukan ini melibatkan Concacaf, salah satu dari enam konfederasi yang membentuk FIFA. Concacaf atau Konfederasi Asosiasi Sepakbola Amerika Utara, Tengah dan Karibia, meliputi Amerika Serikat dan Meksiko, serta negara kecil seperti Barbados dan Montserrat. Surat dakwaan itu menyebut, kejuaraan sepakbola internasional diwarnai dengan suap dan sogok terkait hak penyiaran media dan pemasaran adalah babak kualifikasi Piala Dunia wilayah Concacaf, Gold Cup; Liga Champions Concacaf; Copa Amerika; dan Copa Libertadores.

Surat dakwaan ini juga mengklaim bahwa ada penyuapan dan penyogokan dalam pemilihan penyelenggara Piala Dunia 2010. Jack Warner, yang merupakan ketua federasi sepakbola Trinidad & Tobago, memimpin Concacaf dari 1990 hingga 2011. Warner adalah seorang tokoh yang memiliki kemampuan berpolitik licin di FIFA dan sejak lama dituding terlibat korupsi. Dia dituduh mengambil keuntungan secara ilegal dari penjualan kembali karcis Piala Dunia 2006, dan menahan bonus para pemain nasional Trinidad yang berlaga di Piala Dunia ini. Warner mengundurkan diri dari jabatannya di FIFA, Concacaf, dan asosiasi sepakbola negaranya pada 2011 setelah muncul bukti bahwa dia ikut ambil bagian dalam pembelian suara dari para pejabat federasi sepakbola Karibia dalam pemilihan presiden FIFA 2010. Satu laporan Concacaf tahun 2013 menyimpulkan bahwa dia menerima dana puluhan juta dolar dari dana yang disalahgunakan.

Namun, berdasarkan peraturan FIFA saat itu, pengunduran diri Warner berarti menutup semua kasus yang diajukan komite etik FIFA. “Asumsi tidak bersalah tetap dipertahankan,” bunyi pernyataan tertulis FIFA ketika mengumumkan pengunduran diri Warner.