Harapan Masyarakat Indonesia Pupus!

Timnas Indonesia bakal menghadapi Laos pada laga terakhir Grup A di Stadion Hang Day, Hanoi, Jumat (28/11). Ini akan menjadi laga penentuan apakah tim Merah Putih mampu lolos ke babak semi-final atau tidak.

Peluang yang dimiliki skuat asuhan Alfred Riedl pun sangat kecil. Menyusul, mereka harus menang dengan skor besar di laga ini. Paling tidak, mereka membutuhkan kemenangan dengan selisih tujuh gol. Dengan catatan, Vietnam juga takluk dari Filipina.

“Target pertama kami adalah meraih kemenangan di laga terakhir. Saya bahagia meski tidak menang besar. Saya akui, mental tim kami saat ini sedang jatuh setelah hasil di dua laga sebelumnya melawan Vietnam dan Filipina. Tapi, kami sudah tutup buku untuk itu,” kata Riedl, dalam sesi jumpa pers jelang laga, Kamis (27/11) siang.

Sementara ini, Indonesia berada di posisi ketiga klasemen Grup A dengan satu poin. Sedangkan Laos berada di posisi juru kunci dengan tanpa poin dan dipastikan tersingkir dari turnamen ini.

Kekalahan telak 4-0 dari Filipina dalam laga kedua Piala AFF 2014 di My Dinh Stadium, Selasa (25/11) lalu meninggalkan catatan sejarah kelam bagi Indonesia dalam sejarah pertemuan kedua kesebelasan dalam turnamen terbesar Asia Tenggara.

Bagaimana tidak, kemenangan pasukan The Azkals atas Skuat Garuda tersebut terjadi untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 80 tahun terakhir, di mana pada 19 Mei 1934, saat itu Filipina sukses memetik kemenangan 3-2 atas Indonesia.

Dengan hasil negatif itu, kini peluang Indonesia untuk dapat melaju ke fase semi-final kian menipis, mengingat baru mengoleksi satu angka hasil imbang 2-2 dengan Vietnam di partai pembuka. Jelang lawan Laos di laga pamungkas, Goal Indonesia mengulas lima hal yang wajib diperbaiki timnas.

Sejak mengawali turnamen AFF tahun ini, pasukan Indonesia kerap mengulangi kesalahan yang sama ketika melakukan dasar-dasar sepakbola seperti mengumpan, penempatan posisi maupun kerjasama permainan. Tentunya hal ini cukup mengherankan, di mana dengan status sebagai penggawa nasional seharusnya itu tidak boleh terjadi.

Namun pemandangan tersebut justru ditunjukkan para penggawa timnas selama melakoni sejumlah pentas internasional termasuk gelaran Piala AFF. Menghadapi lawan berkualitas, hal tersebut tentunya tak dapat ditolerir karena sebuah kesalahan kecil dalam turnamen besar dapat menjadi penentu hasil akhir sebuah pertandingan.

Sektor bek sayap menjadi sorotan utama dalam kinerja negatif timnas Indonesia selama mengarungi Piala AFF. Baik Zulkifli Syukur di kanan, maupun Rizki Rizaldi Pora yang menempati sisi kiri, tampil di bawah performa terbaik mereka dalam dua laga menghadapi Vietnam dan Filipina.

Saat bermain imbang 2-2 kontra Vietnam, kedua sisi tersebut menjadi titik lemah dan mampu untuk diacak-acak oleh duet winger Nguyen Van Quyet serta Pham Thanh Luong. Penampilan buruk kembali berlanjut saat melawan Filipina, di mana trio Phil Younghusband, Patrick Reichelt dan Misagh Bahadoran memiliki cukup ruang bebas untuk melakukan kreasi serangan yang sukses dikonversi menjadi kemenangan telak 4-0.

Tak dimungkiri buruknya performa Indonesia di ajang turnamen akbar Asia Tenggara kali ini disebabkan oleh minimnya kreativitas yang dimiliki oleh barisan tengah pasukan Alfred Riedl. Pergerakan pemain seperti Firman Utina, Raphael Maitimo, M.Ridwan hingga Zulham Zamrun kurang mampu untuk menjadi inspirator permainan tim secara keseluruhan.

Sejak partai pembuka, praktis Indonesia cenderung tampil monoton akibat terputusnya alur serangan tim dari belakang menuju ke depan. Keberadaan Evan Dimas di tubuh tim bisa menjadi alternatif skema. Berdasarkan rekor cemerlangnya saat menjadi pengatur serangan Indonesia U-19, namanya layak menjadi pertimbangan untuk tampil menghadapi Laos.

“Usang, ketinggalan jaman ataupun taktik monoton,” ungkapan tersebut kerap terdengar dari kalangan pendukung timnas Indonesia saat menanggapi taktik mengandalkan bola-bola lambung yang diterapkan Alfred Riedl saat menangani skuat.

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan pola permainan tersebut. Hanya saja, skema itu tampak kurang cocok untuk diterapkan dengan kapasitas yang dimiliki penggawa Indonesia saat ini. Kerap munculnya kesalahan mendasar seperti salah kontrol bola mengakibatkan taktik ini tak berjalan efektif, terlebih saat menghadapi lawan dengan postur tubuh tinggi, membuat hal ini mudah terbaca.

Selain keempat aspek di atas, masih ada satu lagi hal yang kiranya menjadi biang permasalahan dalam kinerja negatif Indonesia selama melakoni Piala AFF tahun ini. Lemahnya koordinasi antarpemain tampak jelas terlihat dalam duel melawan Vietnam maupun Filipina.

Lebarnya jarak antar lini permainan serta minimnya pemahaman tentang pergerakan tanpa bola kerap menandai penampilan Indonesia yang tampak kurang padu. Tak ayal, salah umpan antarpemain pun masih kerap terjadi di level pertandingan internasional. Menghadapi Laos, Riedl harus segera untuk memperbaiki hal tersebut apabila tak ingin menelan hasil buruk lainnya.